x

Iklan

Syiqqil Arofat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Rimba Kuasa: Kekalahan Israel

Fiksi tentang Konflik Sosial

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hari-hari lebaran telah berlalu. Setelah mengunjungi keluarganya di lembah terpencil, Kancil melanjutkan kembali petualangannya. Di perjalanan, Kancil bertemu Burung Gagak yang langsung mengingatkannya pada percakapan tentang Perang Gaza (baca kisah sebelumnya: ). Dalam percakapan itu, Gagak menyampaikan asumsi-asumsi pesimis tentang keberlanjutan pertempuran di Jalus Gaza.

"Hai, Gagak. Kau masih ingat aku?" Kancil memanggil Gagak dengan sedikit berteriak.

"Tentu saja. Kau penghuni rimba yang suka berlalu-lalang mencari tahu berbagai persoalan. Tumben beberapa hari lalu kau tidak pernah kelihatan," ujar Gagak.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Kemarin lebaran, aku mengunjungi keluargaku di lembah terpencil sana. Bukankah aku mengirimkan pesan permintaan maaf melalui dedaunan sebagai ritual lebaran?," tanya Kancil.

"Terlalu banyak bisikan dari dedaunan. Aku tidak tahu yang mana pesanmu. Lagi pula, kau hanya menyampaikannya sebagai ritual, dan tidak bersungguh-sungguh meminta maaf. Ritual hanya omong kosong," ungkap Gagak masih dengan gayanya yang angkuh.

"Kau memang selalu meragukan segala sesuatu. Padahal ritual sering juga berfungsi positif. Karena kau merupakan salah satu temanku dalam berdiskusi, mungkin aku perlu mempertegas rasa permintaan maafku: Mohon maaf atas segala kesalahan baik sengaja atau tidak," ucap Kancil sambil tersenyum.

"Haha, ritual memang aneh; ritual hanya mengandung konsep abstrak. Kesalahan seperti apa? Bagaimana kita dapat menentukan salah dan benar? Tapi setidaknya, ritual itu mungkin memang berfungsi positif pada dirimu sehingga suka tersenyum, ketimbang aku yang suka marah-marah," ujar Gagak.

"Bukankah mudah menentukan benar dan salah?," tanya Kancil penasaran.

"Haha, kau terlalu naif. Coba tebak siapa yang salah dalam perang Gaza: Pasukan Israel atau Hamas?," tantang Gagak.

"Tentu saja Israel yang salah. Mereka hanya mengincar kemenangan dengan menyerang membabi-buta, tak peduli banyak korban berjatuhan. Tetapi Hamas mungkin juga salah karena tidak mau berkompromi, padahal mereka tersudut karena kalah peralatan tempur," ungkap Kancil.

"Tuh kan, keduanya sama-sama salah, atau bisa jadi keduanya sama-sama benar berdasarkan alasannya masing-masing. Tetapi kau keliru kalau meganggap Israel adalah pihak yang menang. Dalam perang kali ini, Israel telah kalah. Hamas lebih unggul dari Israel."

"Bagaimana mungkin kau berpandangan seperti itu?," tanya Kancil tambah penasaran.

"Kalau kau benar-benar ingin tahu, coba tanyakan pada Ular di atas bukit sana. Aku harus buru-buru pergi, ada keperluan lain. Selamat tinggal!" Setelah menunjuk tempat Ular berada, Gagak langsung terbang meninggalkan Kancil yang sedang kebingungan.

Karena terdorong besarnya rasa penasaran, Kancil meneguhkan diri pergi ke atas bukit yang ditunjuk Gagak untuk mencari Ular. Selama perjalanan dia merenung: bagaimana mungkin Gagak memandang Israel sebagai pihak yang kalah padahal sering mengunjuk kekuatan untuk membasmi warga Gaza. Itu pandangan yang tak lazim. Entah, analisis apa yang digunakannya.

 

Lingkaran Setan Peperangan

Setelah tiba di atas bukit, Kancil tidak menemukan Ular. Dia pun memanggil Ular berkali-kali dengan nyaring, namun tak ada jawaban. Tempat itu sangat sepi seolah tanpa penghuni. Dia baru sadar kalau Ular memang penghuni yang suka menyendiri dan bersembunyi; hampir tak ada yang tahu tempat persembunyiannya. Tiba-tiba terdengar suara berdesis di semak-semak di depannya. Setelah dihampiri, tak ada Ular di sana. Lalu, tanpa diduga, sebuah suara keras mengagetkannya dari belakang.

"Enyahlah, kau pengganggu!," seru Ular dengan ekspresi seramnya.

"Tunggu, aku tak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu jika kau mengizinkan," ungkap Kancil agak ketakutan.

"Kancil, kau rupanya. Gagak pernah bercerita tentang kamu. Biasanya aku langsung mengusir siapa pun yang datang ke sini. Cepat katakan apa yang kau inginkan dariku?"

"Maaf kalau aku mengganggumu. Tapi aku penasaran tentang pernyataan Gagak bahwa kau memandang Israel telah kalah. Maukah kau menjelaskannya padaku?," tanya Kancil.

"Haha, benar kata Gagak, kau memang penghuni rimba yang selalu penasaran dan terus mencari tahu. Baiklah, ayo kita berteduh di pohon itu sambil kujelaskan. Namun, setelah kujelaskan, kau harus berjanji tidak akan menggangguku lagi." Ular mengajak Kancil ke bawah pohon rindang.

"Oke, coba jelaskan bagaimana Israel berada di pihak yang kalah?" tanya Kancil setelah tiba di bawah pohon.

Sempat termenung beberapa detik, lalu Ular berujar, "Ehmm, sebelumnya aku ingin bertanya, 'kenapa kau ketakutan ketika aku menggertakmu dari belakang?'" Ular balik bertanya.

"Tentu saja aku takut, karena kau muncul tiba-tiba di belakangku. Bisa saja kau menerkamku saat itu," jawab Kancil.

"Tepat, itu strategi yang dilakukan Hamas. Mereka berhasil menakuti Israel dengan kemampuannya muncul tiba-tiba melalui lorong bawah tanah; tersembunyi tapi mengancam. Rasa keterancaman itu telah membutakan Israel sehingga terdorong untuk menyerang besar-besaran tak terarah ke penghuni Gaza. Apakah Israel yang diselubungi ketakutan dapat dianggap sebagai pihak yang menang? Namun, kekalahan Israel bukan hanya itu. Serangan yang menewaskan banyak penghuni biasa juga memperburuk citranya di mata dunia. Kekalahan Israel pun berlipat: secara internal diselubungi ketakutan dan kebencian, dan secara eksternal dipandang sebagai penjahat perang," jelas Ular panjang lebar.

"Lalu, bukankah persenjataan Israel yang lebih canggih mampu menyudutkan Hamas?," tanya Kancil.

"Omong kosong kalau menganggap Israel telah menyudutkan Hamas. Dengan tewasnya banyak penghuni biasa, Hamas akan lebih mudah merekrut anggota muda yang dendam atas kematian keluarganya. Serangan itu hanya memperkuat posisi Hamas. Sebab Hamas tidak lagi hanya dipandang sebagai kelompok radikal yang anti-Yahudi, tapi juga muncul sebagai pembela penghuni-penghuni yang teraniaya. Ini adalah lingkaran setan peperangan yang tanpa ujung."

"Sama seperti Gagak, kau ternyata memiliki pandangan pesimis atas berakhirnya perang ini," ungkap Kancil.

"Hah, Gagak memang suka membual. Dia memperoleh pemahaman itu dariku, tapi mengaku-ngaku miliknya sendiri, padahal dia tidak tahu tentang strategi perang," ujar Ular dengan sinis.

"Apakah itu berarti kau menuduh Hamas sengaja meneror Israel supaya ketakutan, dan tak peduli pada tindakan brutal Israel yang menewaskan teman-temannnya?," tanya Kancil.

"Mungkin, siapa yang tahu motivasi pribadi kecuali anggota Hamas itu sendiri. Aku hanya mengungkapkan bagaimana tindakan Hamas berefek pada ketakutan Israel yang kemudian mendorong penyerangan brutal. Konflik ini telah berlangsung sangat lama. Bisa jadi, anggota Hamas dan pendukungnya yang sekarang memiliki masa lalu yang kelam dan menyimpan dendam pada Israel. Ini adalah lingkaran permusuhan lintas generasi yang tak berujung."

Kancil terperangah mendengar penjelasan tersebut; tidak adakah kemungkinan untuk mengakhiri peperangan ini? Memang penjelasan Ular dapat menambah wawasannya, namun tanpa adanya solusi yang diberikan untuk menyelamatkan korban-korban peperangan itu, wawasan itu seolah sia-sia dan tak berkonstribusi pada kemanusiaan. Mungkin dia perlu mencari penghuni yang mampu memberikan pandangan yang lebih positif.

"Terima kasih atas penjelasanmu, namun nampaknya aku perlu mencari penghuni yang mampu memberikan solusi untuk mengakhiri perang," ujar Kancil.

"Baiklah, tapi ingat, kau harus menelusurinya lebih relistis dulu, sebelum memberikan solusi. Sebab, banyak solusi yang tidak realistis dan malah menumpahkan lebih banyak korban. Tidakkah kau melihat bagaimana lingkaran setan permusuhan itu juga menyebar di rimba ini, seperti kasus ISIS, Ahmadiyah, Syiah, dan banyak lagi lainnya? Sementara solusi yang diberikan justru memperkeruh keadaan." Ular memperingati Kancil.

"Kayaknya kita perlu mendiskusikan peristiwa-peristiwa di rimba ini secara lebih khusus. Maukah kau menjelaskannya panjang lebar padaku?," desak Kancil.

"Kau sudah terlalu banyak menyita waktuku. Ini waktu tidur buatku. Datanglah ke sini lain waktu, tapi jangan sering-sering, aku butuh tenang," ungkap Ular dengan sinis.

"Baiklah, lain kali aku akan berkunjung lagi ke sini. Maaf kalau mengganggumu. Selamat tinggal!" Kancil beranjak meninggalkan Ular yang mulai mencuekinya.

Ketika menuruni bukit itu, Kancil teringat bahwa kemarin penghuni rimba ini merayakan hari kemerdekaan; tepat 69 tahun yang lalu, rimba ini berhasil terlepas dari penjajahan. Benarkah rimba ini sudah sepenuhnya merdeka? Bukankah Israel dan Palestin juga rimba yang merdeka atau tidak berada dalam penjajahan rimba lain; namun masih diselimuti ketakutan, kebencian dan dendam. Lingkaran setan permusuhan telah menjerat kemerdekaan mereka. Lalu, apa itu kemerdekaan? Benarkah rimba ini telah benar-benar merdeka? Pertanyaan itu terus membayangi benaknya.

 

Bersambung..

 

Ikuti tulisan menarik Syiqqil Arofat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB

Terkini

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB