x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mau Jadi Entrepreneur? Pikir Dulu

Untuk menjadi entrepreneur dimulai dari cara berpikir.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Waktu belum lagi jam 7 pagi ketika seorang kawan mendatangi saya dan curhat: menjadi entrepreneur ternyata tak mudah. “Kemarin saya terpaksa marah-marah karena mereka bekerja ogah-ogahan,” tuturnya. Yang ia maksud dengan ‘mereka’ tidak lain adalah karyawannya.

Ia mulai mengembangkan bisnis sendiri kira-kira 1,5 tahun terakhir. Bisnisnya tumbuh dan jumlah karyawannya bertambah, sekarang sudah mencapai 20 orang. Mulailah ia merasakan kerepotan dalam mengelola bisnis dan mengelola orang. Ia semakin menyadari bahwa berpindah dari karyawan swasta menjadi wirausahawan (entrepreneur) tidak semudah berganti memijat tombol.

Sembari menikmati aroma secangkir kopi, kami mengobrol tentang pilihan hidupnya: menjadi entrepreneur. Saya pun berbagi cerita yang saya peroleh dari mereka yang terjun menjadi wirausahawan. Merekalah orang-orang baik yang dengan senang hati berbagi pengalaman, sedangkan saya meneruskan saja kepada kawan muda yang baru memulai bisnis sendiri ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Untuk mengarungi perjalanan menjadi entrepreneur, yang perlu disiapkan pertama dan paling utama ialah cara berpikir dan bersikap. Ini merupakan fundamen—bukan uang, barang, ataupun orang. Berbeda dengan menjadi karyawan, yang bila sedang tidak bersemangat ada kawan dan atasan yang memberi dorongan, ketika Anda memutuskan jadi entrepreneur, Anda mesti siap menyemangati diri sendiri.

Saya tidak ingat ini kata-kata siapa, tapi saya kutip karena mungkin bermanfaat; bunyinya seperti ini: “Bersemangatlah dan Anda akan menghasilkan uang.” Mesin penggerak entrepreneurship ialah semangat, spirit, nyala api di dada. Ciputra, Warren Buffet, ataupun Kolonel Sanders yang mendirikan KFC masih tetap bekerja meskipun sudah sepuh, dan ini bukan digerakkan oleh uang, melainkan oleh kecintaan terhadap apa yang mereka kerjakan. Kepada kawan muda saya itu, saya teruskan kuncinya: “Anda harus punya passion di situ, maka Anda akan bersemangat.”

Orang bisnis yang melakukannya murni untuk uang bukanlah entrepreneur sejati. Jadi, semangat adalah puncak dari daftar persyaratan untuk menjadi entrepreneur, tapi itu tidak cukup. Anda juga harus menikmati dalam menjalankan bisnis, seperti berhubungan dengan banyak orang—bagaimana menjalin relasi yang tepat dengan pemasok, investor, pelanggan, dan bahkan juga dengan pesaing agar mengenal lingkungan bisnis Anda.

Kawan muda saya itu curhat mengenai karyawan yang mulai menuntut. Saya bilang, “Itulah cobaan.” Untuk membujuk karyawan agar bersedia bekerja untuk mencapai target produksi, mencapai standar kualitas yang bagus, tidak suka membolos, Anda butuh belajar menguasai seni membujuk (persuasi) namun tegas. Situasinya mungkin sedikit lebih sukar bila ketergantungan Anda kepada karyawan begitu besar, maklum skala bisnis masih kecil.

Nah, di sinilah perbedaan lain antara jadi karyawan dan entrepreneur: tanggung jawab yang terkadang membuat pundak terasa begitu berat. Nasib bisnis Anda bergantung sepenuhnya kepada diri Anda—mau ambruk, sukses, atau jalan di tempat. Bila bekerja di perusahaan, sebagai manajer Anda masih punya atasan, yakni manajer senior; sebagai manajer senior, Anda masih punya direktur.

Tapi, entrepreneur sejati sangat menyukai kebebasan dan kesempatan untuk mewujudkan ide-ide mereka. Mereka bekerja bukan karena diberitahu oleh atasan tentang apa yang harus mereka kerjakan. Mereka bisa memutuskan sendiri apa yang perlu dan harus dikerjakan dan apa yang tidak.

Tentu saja, bila terjadi kekeliruan dalam mengambil keputusan, konsekuensinya kita tanggung sendiri. Banyak entrepreneur yang tidak seketika meraih sukses. Mereka jatuh bangun karena kesalahan sendiri maupun karena dikibuli orang lain atau terhempas dalam situasi ekonomi yang buruk. Namun kesalahan akan membuat kita belajar dan menjadi bertambah pintar (tentu bila kita bisa mengambil hikmahnya). Entrepreneur berbuat salah, tapi mereka ditakdirkan untuk berjalan terus.

Bahkan, seandainya seorang entreprenur sudah melangkah benar sekalipun, takdir baik belum tentu berpihak kepadanya. Seorang kawan yang membuka restoran bebek sempat menangis karena hampir 2 bulan restoran barunya sepi pengunjung, padahal ia harus membayar gaji pegawai, biaya sewa tempat, dan tetap membeli bebek mentah untuk jaga-jaga bila ada konsumen datang. Ini ujian ketahanan mental rupanya. Setelah 2 bulan, melalui sejumlah upaya, tamu mulai datang.

Obrolan dengan kawan terhenti, sebab ia harus berangkat ke bengkel produksinya. Ia harus memberi contoh kepada karyawan untuk tidak datang terlambat, walau ia pemilik bisnisnya. Dan ini telah menunjukkan bahwa ia berkomitmen terhadap pilihannya. (sbr foto: famous-entrepreneurs.com) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan