x

Iklan

wahyudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Palestina, Sacco, dan Jurnalisme Komik

Tulisan ini adalah ulasan buku Palestine karya Joe Sacco. Di dalamnya tersurat paparan akan proses kreatif dan pergulatan eksistensial Sacco dalam menciptakan dan merenungkan karya tersebut sebagai jurnalis yang memanfaatkan komik sebagai mediumnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Hari-hari ini, ketika Palestina remuk-redam dan ribuan warganya kehilangan harta dan nyawa oleh serangan brutal militer Israel, saya teringat Joe Sacco dan karya jurnalisme komiknya yang legendaris, Palestine.

 

Salah satu segmen yang paling menggetarkan—dan sebab itu membikin tafakur—dalam Palestine adalah adegan wawancara Joe Sacco dengan seorang perempuan tua Palestina di kamp pengungsi Rafah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Bak singa betina terluka, yang telah kehilangan rumah, suami, dan anak laki-lakinya yang mati ditembak tentara Israel, perempuan itu—melalui perantara seorang penerjemah bernama Sameh—“mengaum” di muka Sacco bahwa dia sudah sering diwawancara, bahkan oleh televisi Israel. Dia sudah biasa. Dia mau tahu apa manfaatnya bicara dengan Sacco. 

 

“Kami tak mau uang,” katanya, “kami mau negara dan kemanusiaan kami. Kami manusia juga!”

 

Karena itu, dia jengkel dengan dukungan dari negara-negara Barat yang sekadar kata-kata. Dia mau tahu bagaimana kata-kata bisa mengubah keadaan. Dia mau lihat tindakan.

 

Palestine adalah karya jurnalisme komik pertama Joe Sacco, kartunis dan jurnalis Amerika Serikat kelahiran Malta, 2 Oktober 1960—yang membuat namanya berkibar sama tinggi dengan bapak komik bawahtanah Robert Crumb dan komikus peraih Pulitzer Art Spiegelman. Pun mengukuhkan reputasinya sebagai wartawan dengan visi alternatif di dunia jurnalistik, seperti George Orwell, Michael Herr, dan Hunter S Thompson.

 

Dia handal mendayagunakan komik sebagai apa yang disebut Scott McCloud (2001) “seni berturutan” untuk mengartikulasikan nilai, loyalitas, dan kewajiban jurnalisme pada kebenaran dan warga—utamanya warga yang ditindas oleh kekuasaan durjana—berdasarkan independensi dan hati nurani.

 

Itu sebabnya, masuk akal jika Edward W Said, cendekiawan Amerika berdarah Palestina dan penulis buku Orientalisme (1978) yang termasyhur, mendaulat Palestine dalam kata pengantarnya sebagai “sebuah karya politis dan estetis—dengan orisinalitas yang luar biasa.” Apalagi pada 1996, enam tahun setelah diterbitkan untuk pertama kalinya dalam sembilan cerita seni berturutan, Palestine memperoleh American Book Award, sebuah penghargaan bergengsi bagi pencapaian luar biasa penulis-penulis Amerika kontemporer.

 

Penghargaan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian warga Amerika menerima nilai kebenaran dan kemanusiaan yang diusung buku jurnalisme komik yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia—dengan judul Palestina: Duka Orang-orang Terusir, dan tambahan pengantar baru dari wartawan kawakan Goenawan Mohamad—oleh penerbit DAR! Mizan, Bandung, pada 2003, ini.

 

Pertanyaan kita: nilai kebenaran dan kemanusiaan macam apa yang diusung Palestine? Pertanyaan ini akan membawa kita kembali pada pernyataan perempuan baya Palestina di atas. Dalam sebuah wawancara panjang yang berlangsung di salah satu sudut kota Manhattan pada suatu hari di bulan Juni 2003—Rebecca Tuhus-Dubrow memutar ulang pernyataan perempuan sepuh itu sebagai sepotong pertanyaan yang dianggap bagus oleh Joe Sacco, alih-alih sebentuk perkara eksistensial yang tak pernah bisa dijawabnya dengan memuaskan.

 

“Jadi saya tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu sampai sekarang,” aku Sacco.

 

Namun demikian, bukannya bergeming, alumnus jurusan jurnalisme Universitas Oregon ini justru lebih berterusterang lagi.

 

“Pada akhirnya, mengisahkan sejumlah peristiwa sejarah, siapakah yang peduli? Mungkin kepura-puraan saya saja bahwa hal itu menarik. Tapi sudah banyak kejadian yang membuktikan ketertarikan saya—padahal saya sekadar menulis untuk diri saya sendiri. Lalu terbit harapan bahwa orang lain membacanya. Jika saya mau memberikan Anda jawaban lain, saya akan mengatakan: Orang-orang membacanya dan siapa tahu mereka mengubah pikiran atau beroleh ketertarikan sebagaimana saya.”

 

Keterusterangan itu perlu kita garisbawahi sebagai moralitas seorang jurnalis komik yang—seperti diutarakannya kepada Tuhus-Dubrow (2003)—tak mempunyai ilusi besar tentang bagaimana dia bisa memengaruhi kehidupan orang lain pada tahapan tertentu, kecuali sepenggal kata hati bahwa segala yang ingin dilakukannya adalah menjadi media cerita orang lain.

 

Kita lihat, misalnya, segmen “Bocah dalam Hujan” dalam Palestine—di mana Sacco menjelmakan kata hatinya itu dengan cara yang dramatis, yaitu menemurupakan peristiwa yang disaksikan dengan mata-kepalanya sendiri: sekelompok serdadu Israel menghadang seorang bocah Palestina berusia sekira 12-13 tahun dalam perjalanan pulang menembus hujan deras di sebuah sudut Jerusalem.

 

Sementara tentara-tentara itu berteduh di bawah atap rumah, mereka memaksa si bocah melepas keffiyehnya dan menjawab pertanyaan mereka di tengah hujan yang mengguyur-basah seluruh tubuhnya.

 

Peristiwa yang tak kuasa dicegah Sacco itu menciptakan rongga kelam penistaan manusia di benaknya yang berisi sebuah pertanyaan di ujung perjalanan jurnalistiknya di Palestina. “Seorang bocah berdiri dalam hujan, apa yang dipikirkannya?” tanya Sacco dalam renung sebulan setelah peristiwa itu berlangsung.

 

Dalam perenungannya itu, Sacco membayangkan si bocah—alih-alih menjawab—mengajukan sebuah tanya dalam renung yang lain lagi. “Apakah kelak dunia akan lebih baik, tentara ini, dan aku akan saling menyapa sebagai tetangga? Atau hanya, kelak—kelak!”

 

Seorang bocah dalam hujan telah melemparkan seorang jurnalis dari negeri adidaya ke sebuah kelak, ke suatu entah yang mengejutkan. “Andai sebelum tiba di sini pernah kutebak, dan sesampainya di sini dengan agak terkejut kudapati, apa yang terjadi pada seseorang yang mengira dia punya segala kekuatan. Apa jadinya seseorang yang yakin dirinya tak punya apapun?” ungkap-tanya Sacco.

 

Dengan kata hati itu dia memadukan memoar dan reportase dengan komik menjadi jurnalisme seni berturutan yang belum ada bandingannya sekira dua dekade terakhir, sebagaimana terlihat dalam mahakaryanya—Palestine.

 

“Tak ada teladan yang pantas bagi apa yang dikerjakannya,” ungkap David Hajdu dalam ulasannya tentang Palestine di The New York Review of Books (14 Agustus 2003). “Di antara seniman-seniman komik—sebuah masyarakat pura-pura penentang benda-benda berhala yang paling banyak meniru satu sama lain—Sacco mutlak unik,” tegas Hajdu, guru besar di Columbia University Graduate School of Journalism dan penulis buku The Ten-Cent Plague: The Great Comic-Book Scare and How It Changed America (2008).

 

Wahyudin

Kurator Seni Rupa

Ikuti tulisan menarik wahyudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB