x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Jack the Ripper Kembali

Russell Edwards dalam buku barunya mengklaim telah menemukan Jack the Ripper yang sebenarnya. Sejumlah karya ini memberi gambaran betapa misteriusnya Jack the Ripper.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

"One day men will look back and say I gave birth to the twentieth century."

 --Jack the Ripper

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jack the Ripper barangkali nama paling mashur dalam sejarah kriminalitas modern terkait serangkaian pembunuhan misterius di London menjelang akhir abad ke-19 (1888-1891). Hingga kini, waktu tidak mampu menghapus keinginan manusia untuk mencari tahu dan memastikan siapa sesungguhnya Jack the Ripper yang menggemparkan masyarakat ibukota Inggris itu. Waktu pun tak sanggup menghapus kengerian aksi-aksi pembunuhan itu.

Benarkah Aaron Kozminski adalah Jack the Ripper yang dicari, seperti dikatakan oleh Russell Edwards dalam bukunya yang baru saja terbit, Naming Jack the Ripper? Edwards berusaha meyakinkan publik setelah dengan bantuan dokter Louhelainen melakukan penyelidikan genetis terhadap bercak darah yang menempel pada syal milik Catherine Eddowes, salah satu korban Jack. Di tengah keraguan karena banyak tangan telah menyentuh syal berusia lebih dari seratus tahun itu, Edwards meyakini kesimpulannya.

Misteri Jack the Ripper memang telah mengusik banyak orang untuk menulis kisah pembunuhan yang menggegerkan London pada masa pemerintahan Ratu Victoria itu. Beberapa di antaranya menarik untuk dibaca dan menawarkan kesimpulan yang berbeda tentang siapa sesungguhnya Jack Sang Pencabik ini.

 

The Complete History of Jack the Ripper (2002), Philip Sugden

Sejarawan Philip Sugden menyajikan hasil kajiannya yang luas mengenai serangkaian pembunuhan pada tahun 1888-1991. Melalui risetnya selama beberapa tahun, Sugden mempelajari kembali bukti-bukti dan menantang asumsi-asumsi yang sudah ada mengenai pembunuhan serial ini. Sugden menyimpulkan bahwa tidak seorangpun dari tersangka utama adalah The Ripper yang dicari, kecuali barangkali (Sugden belum memastikan) George Chapman.

Lahir di Polandia sebagai Severin Klosowski, Chapman mula-mula bekerja sebagai ahli bedah. Di London ia menjadi penata rambut dan diduga melakukan pembunuhan namun tidak pernah ditahan karena kurangnya bukti. Sugden menunjukkan hasil studinya terhadap kliping surat kabar dan catatan polisi. Dalam penilaian Sugden, keengganan polisi untuk menyiarkan hasil penyelidikan mendorong pers untuk lebih banyak menulis rumor ketimbang fakta.

 

From Hell (2004), Alan Moore (penulis) & Eddie Campbell (ilustrator)

Bersama Eddie Campbell, Alan Moore menyajikan From Hell sebagai karya novel grafis yang sangat menarik. Moore memadukan hasil risetnya mengenai Jack the Ripper dalam bentuk fiksi historis yang menarik sekaligus menyeramkan. Moore mengajak kita menyusuri lorong-lorong gelap kota London sekaligus kegelapan para penghuninya menjelang akhir abad ke-19.

Dengan goresannya yang menghidupkan karakter dan suasana, Campbell menyajikan London era Victoria yang gelap dan kotor. Moore menyajikan novel grafis ini dari sudut pandang para korban, inspektur polisi, maupun sang pembunuh—dokter Sang Ratu (Moore meyakini dugaan bahwa rangkaian pembunuhan ini merupakan skandal yang ditutup-tutupi karena melibatkan cucu Ratu Victoria). Pembaca boleh saja tidak setuju dengan tesis Moore dan Campbell ini, namun sebagai novel grafis, karya bersama ini begitu menarik.

 

Jack the Ripper and the Case for Scotland Yard’s Prime Suspect (2011), Robert House

Robert House menginvestigasi “pikiran” orang-orang Scotland Yard (namun tidak dapat membuktikan) bahwa Jack the Ripper adalah Aaron Kozminski. Namun mereka kekurangan bukti legal untuk menjadikan Kozminski sebagai terdakwa. Dengan mengeksplorasi kehidupan Kozminski, House membangun argumen yang kuat dan menunjukkan bahwa Kozminski bukan hanya memiliki sarana, motif, maupun peluang, tetapi ia juga cocok dengan profil umum pembunuh berantai tersebut.

Menarik bahwa House memadukan riset historis dengan teknik yang biasa dipakai oleh FBI di masa sekarang dalam membuat profil seorang pelaku kejahatan (criminal profiling). Dengan cara ini, House berusaha memecahkan kasus Jack the Ripper. House melakukan perjalanan ke Polandia, negeri asal Kozminski, dan Inggris untuk menyingkapkan kehidupan masa lalu pria ini dan menyusuri jejak-jejaknya kemudian.

Kesimpulan House ini sama dengan kesimpulan hasil pemeriksaan genetika oleh Jari Louhelainen yang dituangkan oleh Russell Edwards  dalam buku Naming Jack the Ripper.

 

Jack the Ripper: An Encyclopedia (2001), John J. Eddleston

Melalui pendekatan ensiklopedis, Eddleston mengisahkan satu per satu orang-orang yang terkait dengan pembunuhan ini, mulai dari para korban, saksi-saksi, petugas kepolisian yang ikut menangani, dan sosok-sosok lainnya. Kronologi yang diuraikan di ensiklopedi ini membantu pembaca dalam memahami rangkaian pembunuhan yang menggegerkan ini.

Eddleston menyertakan pula peta lokasi pembunuhan pada masa itu dan foto lokasi ditemukannya jasad korban. Melihat tempat-tempat ini, kita seperti dibawa menyusuri lorong waktu menuju London yang masih diwarnai oleh kegelapan dan kejahatan.

 

London’s Shadow: The Dark Side of the Victorian City (2010), Drew D. Grey

Bila buku-buku lain fokus kepada kasus-kasus pembunuhan yang diduga dilakukan oleh Jack the Ripper, karya Grey ini memberi uraian tentang latar sosial masyarakat London pada masa Victorian. Hingga menjelang akhir abad ke-19, London merupakan kota terbesar di Eropa. Belahan barat kota ini dihuni oleh kelas menengah yang disebut-sebut menganut ‘nilai-nilai Victorian’, sedangkan belahan timur kota situasinya sangat berbeda. Wilayah yang biasa disebut East End of London ini merupakan kawasan yang gelap dan berbahaya.

Grey mengeksplorasi kondisi sosial yang diwarnai oleh prostitusi, pornografi, kemiskinan, serta kejahatan kelas bawah. Kegelapan belahan timur London inilah yang membayang-bayangi gerak-gerik misterius Jack the Ripper. (sbr foto:  evanevanstours.co.uk) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu

Terkini

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu