Jenius yang Hidup Bersama Skizofrenia

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sepuluh Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Sejumlah jenius hidup bersama skizofrenia dan sejenisnya.

“Orang-orang menyebutku gila; tapi persoalan belum lagi ditetapkan, apakah kegilaan merupakan kecerdasan yang paling mulia atau bukan.”
--Edgar Allan Poe (Penulis, 1809-1849)

 

Hidup bersama skizofrenia tidaklah mudah, terutama ketika seseorang itu mengetahui bahwa dirinya skizofrenis. Tatkala gangguan ini menyergap, orang di sekelilingnya akan menjaga jarak. Lebih memilukan lagi rasanya ketika kesadaran diri sedang dalam kondisi sangat baik, sementara orang-orang yang ‘tidak paham akan skizofrenia’ tetap memandangnya dengan tatapan aneh.

“Bagaimana Anda seorang jenius matematika merasa ada makhluk angkas luar mengirim pesan kepada Anda?” tanya seorang kolega akademis kepada John Nash. Dalam A Beautiful Mind—yang  kemudian difilmkan, Sylvia Nasr menuturkan dengan begitu empati kehidupan sukar yang mesti dilalui oleh penggagas Keseimbangan Nash ini.

Ide ini memberi kontribusi penting bagi teori permainan, yang kemudian diterapkan dalam berbagai lapangan, termasuk ekonomi dan militer. Setelah sekitar 30 tahun berjuang untuk menyesuaikan diri dengan skizofrenia, Nash jauh lebih sehat pada akhir 1980an. Kontribusinya mendapat peneguhan ketika pada tahun 1994, Nash memperoleh penghargaan Nobel dalam ilmu ekonomi berkat karya awalnya dalam teori permainan.

Vincent van Gogh (1853-1890) adalah tortured genius lainnya—seorang yang luar biasa peka rasa seninya, yang terpaksa hidup bersama bipolar disorder (ada pula yang menyebut van Gogh seorang skizofrenis). Produktivitas kreatif van Gogh, menurut Dr. Kay Jamison, bervariasi seiring dengan perubahan suasana hatinya.

Puluhan kali van Gogh mengalami penolakan dalam hidupnya—termasuk ditolak jadi pendeta. Di simpang jalan penolakan inilah van Gogh memilih untuk memburu jati-dirinya. Tinggal di gubuk reot, tanpa dipan, dan kerap meninabobokkan perutnya yang lapar adalah caranya menolak kemunafikan.

Dari jagat literer terdapat banyak nama yang hidup dengan penyakit mental, sebutlah Sylvia Plath, Virgnia Woolf, Ernest Hemingway, juga Edga Allan Poe. Sastrawan yang puisinya, The Raven, begitu mashur ini berjuang mengatasi kecamuk pikiran untuk bunuh diri yang memenuhi kepalanya.

Di usia 40 tahun, Poe meninggal tanpa kejelasan penyebab dan kondisinya saat itu. Jamison menduga Poe hidup bersama manic-depression yang kini lebih dikenal sebagai bipolar disorder. Kreativitas Poe bersemi, kata Jamison, ketika ia dalam keadaan mania. “Orang-orang menyebutku gila; tapi persoalan belum lagi ditetapkan, apakah kegilaan merupakan kecerdasan yang paling mulia atau bukan,” ujar Poe.

Bertumpu pada teka-teki kematian Poe, Matthew Pearl berkisah dalam novelnya, The Poe Shadow. Suatu ketika, Poe menempuh perjalanan dari Richmond ke Philadelphia untuk menghimpun dana bagi sebuah majalah baru. Pagi hari 27 September 1849, Poe meninggalkan Richmond. Kenneth Silverman, penulis biografinya, menulis: “Tidak ada bukti yang dapat diandalkan tentang apa yang menimpa Poe antara tanggal tersebut hingga 3 Oktober, sepekan kemudian, ketika seorang pelukis bernama Joseph Walker melihat Poe di Gunner’s Hall, mengenakan pakaian aneh dan seperti kurang sadar.” Poe meninggal pada 7 Oktober dan dikubur dengan hanya delapan orang menghadiri pemakamannya.

Ludwig von Beethoven (1770-1827) adalah tortured genius yang kontribusinya kepada dunia musik begitu monumental. Dibesarkan oleh ayah yang alkoholik dan semena-mena, Beethoven harus menanggung hidup keluarganya sejak usia 18 tahun. Kehilangan pendengaran secara perlahan hingga sepenuhya tuli menjadi bagian tragis hidup Beethoven, tapi di saat berusia 30 hingga 49 itulah, Beethoven melahirkan karya yang luar biasa.

Membaca surat-surat Beethoven kepada saudara kandungnya, Francois Martin Main menyimpulkan komposer hebat ini hidup dengan bipolar depression. Ayah yang keras dan telinga yang tuli telah mendorongnya ke sudut-sudut rumah tinggalnya. Ketulian membuat Beethoven enggan bergaul dan kian menyendiri ketika cintanya tak pernah sampai. Ia mencipta karya terbesarnya dalam ketulian, kesendirian, dan di bawah bayang-bayang delusi. Ia menyelesaikan Simponi Kedelapan dalam ketulian total. Ia mengobati dirinya dengan opium dan alkohol hingga maut menjemputnya karena livernya rusak.

Dari lapangan sains dan matematika ada Isaac Newton yang hidup lebih awal dibanding Beethoven. Dianggap sebagai pemikir brilian, Newton menyumbangkan gagasan yang hingga kini masih diajarkan: gravitasi universal dan hukum gerak. Hershman dan Lieb, dalam Stamp Our Stigma, menduga Newton juga diperangkap oleh bipolar disorder. Namun, surat-suratnya yang beraroma dilusi membuat ahli lain menyangka ia skizofrenis.

Netwon lahir ketika ayahnya sudah meninggal. Newton dipisahkan dari ibunya sejak usia 2 hingga 11 tahun, justru ketika ia sangat membutuhkan kehadirannya. Pengalaman masa kecil ini barangkali yang terus menghantui Newton dan membekaskan luka di batinnya. Di awal usia 20an, Newton bekerja siang malam, lupa tidur, makan, dan mandi—itulah momen ketika ia melahirkan teori-teori besarnya.

Mengulang kembali kata-kata Edgar Alan Poe: “Orang-orang menyebutku gila; tapi persoalan belum lagi ditetapkan, apakah kegilaan merupakan kecerdasan yang paling mulia atau bukan.” (sbr ilustrasi: homepage.ntlworld.com; 10 Oktober: Hari Kesehatan Jiwa Sedunia)

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua