x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kesenjangan Semakin Lebar

Kesenjangan kemakmuran merupakan kelemahan yang melekat dalam sistem ekonomi kapitalistik, kata ekonom Prancis Thomas Piketty.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul Buku: CAPITAL In the Twenty-First Century
Penulis: Thomas Piketty
Penerjemah Prancis ke Inggris: Arthur Goldhammer
Penerbit: The Belknap Press of Harvard University Press
Edisi: I, Maret 2014 (edisi Inggris)
Tebal Buku: 696 halaman (termasuk catatan)

 

“The more dynamic the capitalistic expansion, the greater the disparity. It is from the disparity that we are going to get all the political upheaval for the next few years.”
--Robert D. Kaplan (Jurnalis, 1952-...)

 

Mewarisi kekayaan atau menikah dengan orang kaya adalah satu-satunya jalan untuk hidup enak—itulah potret sosial yang digambarkan Jane Austen dalam novel-novelnya. Di tangan ekonom Prancis Thomas Piketty, Sense and Sensibility, Mansfield Park, ataupun Persuasion lebih dari sekadar karya sastra, tapi juga pelukisan kondisi sosiologis, ekonomis, dan psikologis masyarakat masa itu yang layak dikutip untuk menjelaskan tema besar dalam ekonomi-politik: ketimpangan pendapatan.

Piketty khawatir, pelukisan dalam novel itu berulang di masa sekarang, tatkala kekayaan terkonsentrasi pada sedikit orang. Ia cemas, Eropa dan Amerika tengah menuju kepada situasi seperti abad ke-19 ketika banyak orang yang sangat makmur mewarisi kekayaan yang berlimpah—kembali ke masa ‘kapitalisme patrimonial’. Ini kecemasan yang layak mengingat si amat kaya raya (very top incomes, kelompok ‘1 persen’) semakin jauh meninggalkan warga masyarakat lainnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Isu kesenjangan pendapatan mendapat perhatian kembali di negara-negara Barat menyusul munculnya Gerakan Occupy Wall Street di AS dan Gerakan We Are the 99 Percent di Eropa Barat. Dua buah buku terbit di saat gerakan ini ramai dibicarakan: Inequality and Instability karya James Galbraith (2012) dan The Price of Inequality karya Nobelis Joseph Stiglitz (2013).

Sambutan publik, sejauh ini, terhadap kedua karya ekonom tersebut tidak semeriah ketika Capital terbit (dalam Bahasa Inggris). Berbicara mengenai isu yang sama, karya Piketty ini dalam sekejap menyita perhatian ekonom, pembuat kebijakan, pelaku pasar, maupun think-thankers. Ketika orang masih mencari penjelasan yang memuaskan apa dinamika besar yang menggerakkan akumulasi dan distribusi kapital, Piketty menawarkan jawaban yang lebih mendasar.

Isu sentral karya Piketty ini adalah ketimpangan pendapatan yang disebabkan oleh konsentrasi kapital pada sedikit orang. Konsentrasi kapital yang kian meningkat di tangan sedikit orang, kata Piketty, telah mendorong pemiliknya untuk memperlakukan kapital sebagai sumber daya langka, dan karena itu bernilai sangat tinggi. Kaum pemilik modal (kapitalis) menuntut pengembalian yang tinggi.

Secara evolutif, rate of return on capital (r) lebih tinggi secara signifikan daripada rate of growth of income and output (g). Ketika hal itu terjadi, kapital akan mereproduksi diri lebih cepat daripada peningkatan output dan upah. Pemilik kapital semakin kaya dibandingkan mereka yang mengandalkan tenaga. Ketimpangan pun semakin lebar—inilah, kata Piketty, kontradiksi inti kapitalisme yang bersifat logis dan fundamental.

Pandangan ini membantah keyakinan bahwa kesenjangan merupakan distorsi yang akan dipulihkan oleh mekanisme pasar. Piketty membantah pandangan bahwa pasar yang terbebas dari efek distorsi dan intervensi pemerintah akan ‘mendistribusikan buah kemajuan ekonomi’ kepada semua orang. Tesis Piketty tentang kelemahan inheren kapitalisme ini menyengat banyak pihak dan ia dituding sebagai Karl Marx baru—tudingan yang salah tempat, sebab Piketty berbicara ihwal distribusi kekayaan dan ketimpangan pendapatan, sedangkan Marx berbicara tentang faktor produksi dan pertentangan kelas.

Sebaliknya, kata Piketty, meningkatnya ketimpangan mencerminkan bahwa pasar bekerja seperti yang seharusnya. “Semakin sempurna pasar kapital, semakin tinggi ‘tingkat return on capital’ dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi rasio ini, semakin besar ketimpangannya,” kata Piketty. Tidak ada mekanisme natural yang dapat merintangi kecenderungan itu, kecuali krisis seperti perang, depresi ekonomi, atau intervensi politik. Piketty menawarkan jalan keluar yang memancing perdebatan dan membikin gerah sebagian orang: pengenaan pajak progresif terhadap kapital.

Capital bertumpu pada riset 15 tahun (1998-2013) yang dilakukan Piketty bersama sejawatnya, ekonom Prancis Emmanuel Saez yang mengajar di Berkeley dan Anthony B. Atkinson, pionir studi ketimpangan di era modern dari Oxford. Dukungan Atkinson terutama pada karya awal Piketty tentang orang-orang berpenghasilan sangat tinggi di Prancis (2001). Sedangkan Saez berkontribusi pada studi tentang pertumbuhan pendapatan populasi 1 persen di AS sejak 1970an hingga 1980an.

Gagasan Piketty memiliki kedalaman historis berkat himpunan data sepanjang dua abad yang mencakup lebih dari 20 negara. Potret sosial yang ditangkap Jane Austen, Henry James, dan Honoré de Balzac memperkaya pemahaman Piketty tentang situasi sosiologis dan psikologis di era mereka. Piketty memandang ekonomi sebagai sub-disiplin ilmu-ilmu sosial, berdampingan dengan sejarah, sosiologi, antropologi, dan ilmu politik—inilah yang membedakannya dari ekonom umumnya.

Pendekatan tersebut menjadikan Capital mendalam secara historis, berakar pada riset yang kuat, dan dengan rujukan yang luas. Nobelis Paul Krugman memuji karya Piketty ini sebagai menawarkan jalan bagi a unified field theory of inequality yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan antara kapital dan tenaga kerja, serta distribusi kekayaan dan pendapatan di antara individu-individu ke dalam kerangka tunggal.

Di atas berbagai unsur itulah kekuatan Capital bertumpu, dan Piketty melihat bahwa ketimpangan pendapatan telah berlangsung pada sebagian besar sejarah manusia dan di abad ke-21 situasinya kian kompleks. Piketty mengingatkan, ketimpangan di AS dan wilayah ekonomi maju lainnya kian memburuk sejak 1970an dan tengah menapaki jalan menuju derajat ketimpangan yang cenderung menyebabkan disrupsi sosial.

Bagi Indonesia, karya ini penting dan relevan untuk memahami kecenderungan meningkatnya kesenjangan pendapatan di sini—serupa dengan negara maju yang dibahas Piketty. Di tengah pujian dunia atas pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan masuknya Indonesia ke dalam 10 besar ekonomi dunia, terdapat fakta lain yang sangat mengusik: indeks Gini Indonesia terus meningkat dari 0,30 pada tahun 2000 menjadi 0,413 pada tahun 2013—angka tertinggi dalam sejarah Indonesia merdeka.

Peningkatan indeks Gini menandakan bahwa kekayaan kelompok atas meningkat jauh lebih cepat dibandingkan dengan kekayaan masyarakat kelas bawah. Pada tahun 2005, kelas terbawah (sebanyak 40% dari total populasi) menerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi sebesar 21% dari PDB, namun pada  2013 menurun menjadi 16,9%. Untuk kelas atas (20% dari populasi), pada 2005 menerima 40% dan meningkat menjadi 49% pada 2013. Dalam konteks peringatan Piketty, Indonesia bukan pengecualian. (Foto: tempo.co) ***

(Ulasan ini pernah dimuat di Majalah Tempo edisi 19 Mei 2014) 
 
 

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler