Sekolah Negeri atau Swasta?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kualitas super sebuah sekolah sejatinya bukan semata karena kemegahan bangunan dan kelengkapan fasilitas belajarnya, melainkan dari berbagai unsur dan aspek intrinsik dan ekstrinsik kependidikan yang dirancang jelas dan detil demi mendorong para peserta d

 

Sekolah manakah yang lebih baik: negeri atau swasta?

Pertanyaan di atas, sejatinya, tidak akan pernah cukup dijawab dengan hanya memilih salah satu dari dua pilihan yang disediakan. Sebab memilih sekolah tidak sama dengan memilih jawaban A, B, C, atau D layaknya seorang peserta didik saat menjawab soal-soal Ujian Nasional. Kiranya, ketepatan jawaban dari pertanyaan di atas hanya akan dapat ditemukan setelah kita benar-benar paham (bukan sekadar tahu) filosofi pendidikan dan pendidikan yang berkualitas.

Pentingnya pendidikan

Di kalangan umum sekolah kerap disamakan maknanya dengan pendidikan. Pemaknaan stereotip macam demikian, memang, tidak sepenuhnya salah. Barangkali, karena muara dari hasil proses keduanya adalah membayangkan tercapainya sebuah idealisme atau nilai-nilai positif pada sang peserta didik. Nilai-nilai tersebut dapat berupa kemampuan akademik maupun kemampuan diri. Namun demikian, ada sedikit perbedaan yang cukup signifikan untuk diurai lebih jelas.

Hingga era sekarang sekolah, mau tidak mau, lebih mengacu pada sebuah pemaknaan yang terbatas. Ruang, waktu, dan daya kerjanya limitatif. Keterbatasan itu memang tidak mengada-ada. Keterbatasan tersebut merupakan konsekuensi logis dari perlunya pembagian tugas kependidikan yang amat luas jangkauannya. Sekolah hanya sebuah institusi kecil yang mencoba membantu tugas kependidikan di ranah utama yakni, keluarga dan masyarakat luas. Dengan demikian sekolah bukanlah pemegang penuh tanggung jawab atas baik atau buruknya kualitas nilai peserta didik.

Berlainan dengan sekolah, makna pendidikan tidak pernah mengenal batasan ruang dan waktu. Ia adalah proses penemuan nilai-nilai (akademis maupun kemampuan diri) yang dicari sendiri atau diajarkan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Pendidikan bukanlah kata benda. Ia bukan institusi. Sebab itu, makna pendidikan tidak pernah memerintahkan atau menunjukkan isyarat bahwa setiap manusia wajib belajar di ruang-ruang kelas semata yang mengandaikan adanya guru untuk mencekoki peserta didiknya dengan berlembar-lembar teori. Itu pikiran usang dan naif.

Pendidikan adalah napas di setiap aktifitas kehidupan. Semua aspek dalam kehidupan mestilah dijadikan arena pergulatan pendidikan mulai dari lingkup keluarga, sekolah, dan masyarakat luas secara utuh dan bulat. Jika salah satu komponen itu abai atau rumpang maka cita-cita pendidikan tidak akan berhasil dengan baik.

Berdasarkan penjelasan di atas, ternyata pendidikan merupakan kata kunci yang mesti dibedah lebih lanjut. Salah satu implikasi pentingnya, kita mesti menemukan dan memahami cara mendidik yang baik dan berkualitas. Sebab pada dasarnya manusia bukan perlu pendidikan yang setinggi-tingginya melainkan perlu pendidikan berkualitas, yang berorientasi membentuk peserta didiknya menjadi subjek yang berperan bagi dirinya dan orang lain.

Pendidikan macam ini dituntut untuk mengembangkan keutuhan peserta didik agar mampu mengoptimalkan dan memanfaatkan semua kemampuannya baik aspek intelektual maupun emosional sesuai kebutuhan utama dan tuntutan zamannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya semua komponen (keluarga, sekolah, dan masyarakat luas) menyadari, bahu-membahu, dan bertanggung jawab untuk terus mewujudkan serta merawat idealisme tersebut.

Negeri atau swasta?

Daniel Goleman dalam bukunya yang bertajuk Emotional Intellegences menyatakan, IQ hanya menyumbangkan 20% dari kesuksesan seseorang. Sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor intelektual dan emosional. Artinya, pendidikan yang berkualitas tidak pernah berangkat dari persepsi bahwa setiap peserta didik mesti kuat atau banyak menghapal.

Sejujurnya, hapalan itu penting namun ia bukanlah segala-galanya. Peserta didik perlu pula menguasai keahlian-keahlian lain yang berhubungan dengan kemampuan mendengar, bicara, menulis, dan melakukan. Peserta didik yang hanya mampu menghapal dan miskin kreatifitas tidak ubahnya dengan kerbau yang dicokok hidungnya. Kiranya kita sepakat bahwa kelak setiap peserta didik tidak ingin terjerumus pada mental plagiat!

Apalah guna belajar di sekolah negeri yang lengkap fasilitasnya namun ujung-ujungnya (sadar atau tidak) menjerumuskan peserta didik untuk berpikir kerdil, misalnya. Atau apalah guna belajar di sekolah swasta yang megah dan mahal namun akhirnya membuat peserta didik bertambah ria dan congkak. Betapa terang, kualitas super sebuah sekolah sejatinya bukan semata karena kemegahan bangunan dan kelengkapan fasilitas belajarnya, melainkan dari berbagai unsur dan aspek intrinsik dan ekstrinsik kependidikan yang dirancang jelas dan detil demi mendorong para peserta didik agar mampu mengeksplorasi seluruh kemampuannya.

Ringkasnya, dari seluruh penjelasan ini, jika ditarik benang merahnya ke pertanyaan inti di atas, kiranya dapat menyelamatkan kita dari jebakan dua pilihan yang kurang cerdas tersebut. Wacana oposisi biner antara kepentingan memilih sekolah negeri atau swasta di era kini sudah tidak layak diperdebatkan lagi. Jadi, yang paling penting untuk dipertimbangkan dalam memilih sekolah adalah sekolah manakah yang memiliki (terlebih, telah menjalankan) konsep pendidikan yang benar-benar visioner dan memanusiakan penyelenggara pendidikan tersebut serta peserta didiknya.*

Bagikan Artikel Ini
img-content
Uhan Subhan

Pengajar, Traveler, dan Penyuka Sastra.

0 Pengikut

img-content

[Indonesiana] Lomba Makan Kerupuk

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler