x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Membaca Buku, Menyadarkan Diri

Membaca buku membawa kita kepada pengalaman yang lebih dari sekedar menikmati kesenangan belaka: tamasya menyusuri tempat-tempat baru, mengenal karakter asing, memahami perilaku absurd manusia, maupun berselancar di samudera kata dan diksi penulis.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“You cannot open a book without learning something.”

--Konfusius

 

William Shakespeare, Inca Garcilaso de la Vega, dan Miguel de Cervantes meninggal pada tanggal yang sama: 23 April 1616. Oleh dunia, tanggal kematian mereka diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Alasan persisnya saya kurang mengerti, tapi boleh jadi lantaran mereka bertiga menorehkan tonggak historis dalam kepenulisan yang memantik orang untuk membaca.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Garcilaso menulis ihwal sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Inca. Cervantes mashur berkat karyanya, Don Quixote. Sementara Shakespeare dianggap menetapkan standar baru drama melalui karya-karyanya, seperti Hamlet, King Lear, dan Macbeth.

Tetapi menulis dan membaca, sesungguhnya, dua aktivitas yang berbeda walau berjalinan. Jika saya membaca, saya tak harus melanjutkannya dengan menulis—meski lebih bagus. Jika saya ingin menulis, saya mesti membaca—tak mungkin menulis dengan kepala kosong.

Kegiatan membaca buku, kejadian, tanda-tanda, ataupun isyarat adalah asupan nutrisi, gizi, dan vitamin yang dibutuhkan bila kita ingin menulis. Dari membaca, kita menyerap ‘sesuatu’ yang menggerakkan hati dan pikiran.

Begitu pula dengan tiga nama tadi. Don Quixote adalah buah pembacaan Cervantes terhadap kondisi masyarakatnya. Karya-karya Shakespeare pun serupa—buah pembacaan terhadap beragam watak manusia: hasrat akan kekuasaan, kejujuran, pengkianatan, juga kelemahan diri.

Membaca buku membawa kita kepada pengalaman-pengalaman yang lebih dari sekedar menikmati kesenangan belaka: tamasya menyusuri tempat-tempat baru yang menyenangkan, mengenal tokoh dan karakter asing, memahami perilaku absurd manusia, maupun berselancar di samudera kata dan diksi penulis yang mencekam.

Tak setiap orang dapat menikmati kesenangan membaca seperti itu, bahkan tak semua orang mau dan suka menikmati kesenangan serupa itu. Orang mengeluh tak ada perpustakaan, yang ada pun tidak dikunjungi. Orang mengeluh buku mahal, diberi buku pun tak disentuh. Gawai, yang berpuluh kali lipat harganya, lebih menggoda.

Membaca itu menyadarkan diri—membangun self-awareness. Membaca Serat Kalatida karya Ronggowarsito, kita menyadarkan diri ihwal watak manusia. Membaca sajak-sajak W.S. Rendra, kita menyadarkan diri perihal perlawanan terhadap kezaliman. Membaca Pendidikan Kaum Tertindas kaya Paulo Freire, kita menyadarkan diri untuk apa pendidikan itu.

Membaca seyogyanya memang lebih dari sekedar perjalanan pikiran dan perasaan, tapi juga menggerakkan perubahan: dari kata menjadi gerak. (sbr foto: thenextweb.com) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu