x

Siluet umat muslim yang bedoa di gunung Jabal Nur tempat malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW saat perayaan Haji di Mekah 30 September 2014. REUTERS/Muhammad Hamed

Iklan

Thamrin Dahlan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kejaiban Tanah Suci

Pertemuan, Jodoh, Rezeki dan maut adalah takdir anak manusia. Kisah nyata pertemuan dengan saudara di depan Ka'bah adalah suatu peristiwa keajaiban.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kisah nyata ini terjadi pada Musim Haji tahun 1994.   Ketika itu saya ditugaskan menjadi anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia oleh Departeman Kesehatan.   Sebelum berangkat ke tanah suci saya mendapat amanah untuk mendampingi Datuk Binjai.   Amanah itu disampaikan oleh putra putri Tuan Palengah [begitu saya memanggil Datuk Binjai] agar menemani ” ayah” ketika berada di tanah suci.

Saya berangkat dalam gelombang haji pertama mengawal satu kloter bersama 2 orang petugas kesehatan.   Rombongan berjumlah 500 jamaah berasal dari Jakarta langung menuju Madinah.  Setelah menunaikan shalat sunnah Arbain 40 waktu atau selama 8 hari  di Masjid Nabawi, rombongan menuju kota suci Makkah Al Mukarammah.

Setiba di Masjidil Haram kami melaksanakan ibadah umrah sembari menunggu prosesi Ibadah Haji. Saya teringat amanah putra putri Tuan Palengah namun  lupa menanyakan,  beliau berada dalam Kelompok Terbang (kloter) berapa.  Saya hanya paham Tuan Palengah termasuk dalam  gelombang kedua ibadah haji. Gelombang kedua diatur oleh Kementrian Agama untuk berangkat ke Mekah terlebih dahulu untuk menunaikan Ibadah haji,  baru kemudian ziarah ke maqam Rasulullah di Madinah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Karena  tidak mengetahui dimana Maktab  Datuk Binjai tempat menginap , saya jadi bingung bagaimana cara menemui Beliau.  Seperti biasa jamaah haji yang berhimpun menjelang prosesi Arafah berjumlah jutaan orang.  Kota Suci Makkah sangat ramai, setiap waktu Masjidil Haram dipenuhi jamaah dari manca negara.   Dalam keadaan demikian sangat sulit mencari sanak saudara apalagi tempat menginap jamaah Indonesia bertebaran di radius 2-5 Km di sekitar Kota Makkah.

Satu satu nya tempat agar bisa bertemu dengan Datuk Binjai  yaitu Masjid, namun pintu masjid sangat banyak,  jamaah datang dari seluruh penjuru angin.  Dalam kondisi seperti itu saya hanya berharap kepada Allah SWT agar dipertemukan dengan Datuk Binjai yang dalam silsilah keluarga besar Petokayo masih  dalam kekerabatan sepupu.

Dalam keseharian selama di tanah suci kami yaitu mengontrol kondisi kesehatan jamaah sekloter serta memberikan bantuan kepada jamaah yang sakit. Beserta  jamaah yang sehat melaksanakan ibadah Shalat Fardhu ke Masjid Haram.  Semangat Ibadah jamaah luar biasa bukan karena pahala shalat di depan Ka'bah berganda 100.000 kali dibanding shalat sendiri namun suasana hati memang seakan dekat sekali kepada Illahi.

Setelah melaksanakan tawaf sunah sebagai pengganti Shalat Tahyatul  Masjid saya memilih posisi dzikir di depan Ka’bah persis di depan Multazam (pintu Ka’bah). Berdoa dengan khusyu mohon keselamatan dunia kaherat untuk keluarga besar Haji Dahlan Ibnu Affan dan Ibunda Hajjah Kamsiah binti Sutan Mahmud .   Salah satu doa itu bermohon dengan sangat dan penuh harap agar dipertemukan dengan saudara saya bernama Sutan Palengah bergelar Datuk Binjai.  Saya sedikit resah karena ibadah haji  tidak lama beberapa hari kedepan akan usai ketika tiba waktu  berangkat ke Arafah, karena belum juga bertemu dengan Tuan Palengah.

Tiba tiba ditengah berdoa, hati saya bergetar entah karena apa.  Segera saya mendongakkan kepala memandang keagungan Ka’bah. Seketika itu juga terlihat beberapa syaf didepan diantara sesaknya jamaah,  dua orang Indonesia bersarung sedang berjalan bergegas. Saya terpana hati saya berdetak, Masya Allah bukankah itu saudaraku Tuan Palengah.

Serta merta saya berdiri, sedikit berlari melampaui beberapa jamaah didepan,  mengejar dua orang jamaah Indonesia itu. Segera saya sapa dari arah belakang, "Tuan, Tuan  Tuan Palengah,….  " Subhanallah ternyata benar beliau saudaraku Datuk Binjai.  Kami berpelukan di depan Kabah sembari sesugukan menangis.  Ada rasa haru menghujam di hati ini.  Akhirnya doa di kabulkan Allah SWT, semata dengan izin NYA kami dipertemukan di tempat suci.  Inilah salah satu keajaiban yang saya alami selama melaksanakan ibadah haji yang  tidak akan terlupakan.

Kami masih bersama di Mekkah selama 7 hari.  Setiap berangkat shalat, terutama shalat subuh saya menghampiri Datuk Binjai di maktabnya.  Kebetulan maktab saya berada di kawasan Sulaimaniyyah, jadi ketika menuju Masjidil Haram melewati Maktab Tuan yang ada didekat Masjid Kucing atau Masjid Buchari.   Tidak lupa pula saya mengajak Tuan Palengah berkomunikasi dengan anak anaknya yang berada di Jakarta.  pada tahun itu belum ada handphone.  Kami menggunakan fasilitas telepon antar negara.  Betapa gembiranya Upik Farida dan Upik Varia ketika mendengar secara langsung suara Ayah.   Amanah sudah ditunaikan semoga memberikan kebahagiaan kepada diri sendiri dan kerabat.

Setelah Prosesi Haji, saya dan Tuan Palengah silaturahim dengan Uni Husna.  bundo kanduang menunaikan Ibadah haji menggunakan  ONH Plus.  Jadilah kami ikutan menikmati makan enak di hotel mewah serta fasilitas kenyamaman lainnya.  Ketika waktu berpisah telah tiba, saling mendoakan semoga dipertemukan kembali di tanah air.  Datuk binjai melanjutkan perjalanan menuju Kota Rasullullah Nabi Muhammad SAW ke Madinah sedangkan rombongan kami siap siap berkemas koper menuju Jakarta Indonesia.

Hari Selasa, 4 Mei 2015 saya bersilaturahim ke Haji Taufik di kediaman di Jalan Sutan Agung Manggarai Jakarta Selatan.  Bersama kemenakan ambo Saudagar Pasar Cijantung Khatib Muslim kami memohon doa kepada Pak Haji.  Kini usia beliau menginjak hitungan 101 tahun.  Subhanllah masih sehat walafiat.  Muka jernih bersinar.  Setiap lima hari khatam Al Qur’an.  Inilah kekasih Allah SWT yang mungkin sudah sangat langka.  Dalam usia sepuh masih istiqomah beribadah.  Insha Allah doa doa Haji Taufik diijabah Allah  dalam kerendahan dan keikhlasannya.  Beliau memanggil saya dengan sebutan Haji Siddik.

Demikianlah cerita ketika akan berpisah di Makkah tahun 1994 itu, kami saling menambah nama mengharapkan keberkahan. Berdasarkan budi baik  seorang Tuan Arab di Maktab maka Tuan Palengah Datuk Binjai diberi tambahan nama Haji Taufik sedangkan Haji Thamrin Dahlan Bin Dahlan Ibnu Affan mendapatkan tambahan nama :  Haji Siddieq.

Secara statistik probabilitas atau kemungkinan dua orang bertemu di kota suci seramai Makkah sangat kecil sekali.  Bisa jadi  satu berbanding sejuta kemungkinan bersua itu karena begitu banyaknya jamaah, dan begitu panjang  pula waktu ibadah serta luasnya area kota Makkah.  Seorang saudara dari Padang bercerita bahwa dia tidak bisa berjumpa  dengan kerabat dekat sewaktu menunaikan ibadah haji  Padahal mereka tinggal di satu maktab. Ketika di cari ke alamat hotel tidak bersua, saudaranya sedang ke Masjid, demikian pula ketika saudaranya bertamu ke hotel , kerabatnya sedang berbelanja oleh oleh.  Demikanlah seterusnya sampai mereka pulang ke kampung.  Jadi tanpa seizin Allah SWT perjumpaan itu mustahil terjadi.

Oleh karena itu hanya dengan redha Allah kemungkinan atau  probabilitas itu bisa di patahkan artinya dengan kekuasaan Allah SWT setelah kita berdoa maka segala sesuatu yang tidak mungkin ternyata mudah saja bagi Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.  Alhamdulillah Ka’bah menjadi saksi abadi perjumpaan saya dengan  Datuk Binjai, semoga pertemuan dua saudara sepupu ini menjadi saksi pula nanti di akherat, Amin

Menelisik pertemuan ajaib dipelataran Ka’bah diyakini  bukan lah satu kebetulan semata namun  perjumpaan itu telah ditadirkan sesuai yang tertulis di Lauh Mahfuzd. Bukankah jodoh, maut , rezeki dan pertemuan itu adalah takdir anak manusia yang telah ditetapkan ketika Ruh ditiupkan di rahim Ibunda setelah janin berusia  120 hari.

Setiap anak manusia  mempunyai takdir masing masing dan takdir itulah misteri yang akan kita buka hari demi hari sebagai lembaran kehidupan.  Alangkah indahnya ketika membuka misteri takdir itu anak manusia dalam suasana iman dan taqwa yang sebenarnya taqwa sehingga apapun yang terjadi mereka mampu  menghadapi dalam keadaan tenang .  Sesungguhnya  semuanya akan  kembalikan kepada Nya.

Amin ya Rabb

Makkah

Ikuti tulisan menarik Thamrin Dahlan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu