x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Berpikir Outside the Box, Mungkinkah?

Ketika kita memilih pemecahan di luar kotak, bukan berarti kita ‘melayang-layang’ di dunia antah berantah, melainkan berada di dalam kotak baru.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menteri BUMN Rini Soemarno meminta pejabat eselon I berpikir out of the box (tempo.co, Rabu, 10 Juni 2015). Di tengah tuntutan akan kinerja dan pelayanan publik (yang baik), kata Rini, pimpinan harus menunjukkan sikap mental dan cara berpikir korporasi. Sepintas terlihat adanya korelasi langsung antara out of the box dengan sikap mental dan cara berpikir korporasi. Dalam praktik, banyak manajer dan direksi perusahaan yang tidak berpikir out of the box.

Kali ini, yang ingin didiskusikan bukan soal korelasi itu, melainkan pertanyaan berikut ini: apakah mungkin kita berpikir out of the box?

Berpikir out of the box atau (ada yang menyebutnya) outside the box atau beyond the box sesungguhnya merupakan metafora yang artinya berpikir secara berbeda, tidak konvensional, bukan kelaziman, atau memakai perspektif baru. Jika dibayangkan bahwa cara berpikir yang konvensional, lazim, dengan perspektif lama itu berada dalam kotak, maka dengan berpikir out of the box berarti kita melompat keluar dari kotak itu. Apakah ini berarti kita kemudian berpikir tanpa kotak? Melayang-layang di ‘dunia antah-berantah’?

Kita dapat membayangkan bahwa kotak adalah bingkai virtual atau paradigma, kebiasaan, perspektif, silo, atau batas-batas. Maka, ketika kita berpikir di luar kotak, sebenarnya tidak berarti kita ‘melayang-layang’ di dunia antah berantah, melainkan berada di kotak lain. Kotak lain ini berisi paradigma baru, perspektif baru, cara pandang baru, dan batas-batas baru yang berbeda dengan kotak lama.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di dalam kotak baru inilah kita berpikir: dengan memakai perspektif baru yang berbeda dari yang lazim digunakan. Kita memandang sebuah persoalan dengan cara yang berbeda dari kebiasaan, yang tidak konvensional, yang bukan biasa digunakan. Tapi, cara baru ini tidak ‘melayang-layang bebas’, melainkan berada di dalam batas-batas lain.

Teka-teki ‘sembilan titik’ dapat jadi ilustrasi. Ketika diminta menarik garis melalui kesembilan titik tersebut tanpa boleh melewati titik yang sama dua kali, kebanyakan orang akan berusaha menarik garis dengan menjadikan titik-titik luar sebagai batasnya. Hasilnya? Tidak ada satupun upaya yang berhasil. Mereka berasumsi bahwa menarik garis hingga keluar ‘segi empat titik-titik’ tidak diperbolehkan. Padahal, tidak ada aturan tentang hal itu.

Pemecahan teka-teki ‘sembilan titik’ itu hanya bisa dilakukan dengan cara berpikir di luar kotak. Satu-satunya aturan yang dipatuhi adalah yang sudah ditetapkan: tidak boleh ada garis yang melewati titik yang sama hingga dua kali. Di luar aturan ini, kita bebas melakukan apa saja, termasuk menarik garis hingga keluar ‘segi empat titik-titik’.

Ketika kita memilih pemecahan seperti itu atau di luar kotak, bukan berarti kita ‘melayang-layang’ di dunia antah berantah, melainkan berada di dalam kotak baru, paradigma baru, atau perspektif baru dalam cara melihat persoalan dan menyelesaikannya. Jadi, yang dapat kita lakukan ialah memilih kotak kita yang baru—bukan kotak yang biasa digunakan kebanyakan orang. Bahkan, kita bisa beralih dari satu kotak ke kotak lain, lalu ke kotak lain lagi untuk menemukan gagasan yang berbeda dan unik.

Ataukah jangan-jangan kita dapat berpikir tanpa rerangka, bingkai, paradigma, alias melayang-layang di dunia antah-berantah? (writerswin.com) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan