Obsesi pada Marginalia

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Margin, yang selalu ada di setiap halaman buku, menyediakan ruang bagi ekspresi pembaca. Mungkin juga tempat menuangkan keisdengan belaka.

Ketika membaca buku, kegiatan apa yang Anda sukai? Bagi saya, membuat catatan di marginalia sungguh menyenangkan: spontan, pribadi, mungkin juga jujur dan intim dalam merespons apa yang dituangkan penulis di halaman itu. Ini adalah catatan kecil, goresan ringkas, dan bukan gambaran menyeluruh dari buku yang sedang saya baca. Tapi barangkali di sinilah, di marginalia, perasaan yang seketika muncul saat membaca halaman itu saya tuangkan—mungkin tidak berlebihan bila saya katakan ini adalah kesempatan saya untuk merespons penulis buku yang bersifat pribadi.

Ada keasyikan tersendiri ketika menyusuri baris demi baris dan menemukan kalimat, ungkapan, frasa, ataupun metafora yang dituangkan di sebuah halaman. Seketika saya, mungkin juga Anda, mencoret sebagai garis bawah atau menuliskan apapun yang ingin kita tuangkan di marginalia. Suka, setuju, membantah, ataupun mengingatkan kita kepada peristiwa lain atau pengungkapan oleh penulis lain.

Margin, yang selalu ada di setiap halaman buku, menyediakan ruang bagi ekspresi pembaca. Mungkin juga tempat menuangkan keisdengan belaka. Itu hak Anda sebagai pembaca. Ruang kosong itu berada di di tepi teks sehingga dianggap tak penting atau marginal—dan lantaran itu dinamai margin, marginalia.

Tapi, sedemikian tidak bergunakah margin? Bayangkanlah seandainya sebuah halaman penuh dengan teks dan tidak ada ruang kosong di keempat tepinya. Bukankah yang terasa adalah keruwetan, kepusingan, dan ketidaknyamanan? Dengan permulaan dan akhir baris teks yang memiliki jarak tertentu dari garis potong kertas, pembaca dihindarkan dari kepusingan dan ketidaknyamanan.

Bagi pembaca yang berdialog dengan pikiran si penulis tak ada rasa sayang baginya untuk mencoret margin buku. Di margin itulah ia menorehkan komentarnya, kritiknya, atau persetujuannya. Ketika itulah margin bukan lagi ruang kosong yang tak punya makna. Selagi dipenjara, Voltaire menggunakan margin buku yang ia baca untuk menuangkan pikirannya.

Sebagaimana banyak hal di muka bumi ini, marginalia memiliki sejarahnya sendiri. Dari kebiasaannya membuat catatan pada pinggir halaman buku, Samuel Coleridge (1772-1834) ‘menemukan’ istilah marginalia. Obsesinya yang luar biasa terhadap margin melahirkan lima jilid buku yang berisi seluruh ‘catatan pinggir’ Coleridge terhadap buku-buku yang ia baca. Inilah pengayaan teks: teks melahirkan teks baru. Inilah dialog dalam diam antara penulis dan pembacanya. ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua