Dari Gojek Sampai Aplikasi Pemadu Moda Transportasi

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kemudahan mencari angkutan umum melalui aplikasi dari handphone

Nama Go-Jek sudah akrab di telinga saya sejak 2013 lalu. Penyedia layanan jasa angkutan sepeda motor online ini bisa dipesan melalui telepon seperti halnya memesan taksi. Saat itu, Go-Jek belum menyediakan aplikasi canggih di ponsel ataupun berjaket hijau sehingga mudah terlihat di jalanan Jakarta.

Saya menghubungi customer service Go-Jek untuk meminta diantar dari Daan Mogot sampai Semanggi. Pihak Go-Jek menghubungin saya agar bersabar menunggu kehadiran armadanya karena armada Go-Jek di daerah Jakarta Barat masih sangat jarang. Apa yang membuat saya tertarik dengan Go-Jek, padahal saya bisa naik kendaraan umum lain? Karena Go-Jek bisa menjadi alternatif untuk mengejar waktu dan tanpa harus bernegoisasi harga terlebih dahulu. Menggunakan motor di tengah kemacetan bisa memangkas waktu dan dibandingkan dengan kemudahan yang ditawarkannya, harga yang diberikan Go-Jek kepada pelanggan sangat bersaing.

Seiring berjalannya waktu, saya jarang menggunakan jasa Go-Jek. Bukan karena mahal atau ribet, tetapi saya memang tidak membutuhkan aktivitas ke luar rumah sesering dulu. Kalau keluar, Go-Jek menjadi salah satu alternatif angkutan pilihan saya.

Mulai bekerja di perusahaan media, saya membaca artikel di media online kalau Gubernur Basuki Tjahaja Purnama biasa dipanggil Ahok mendukung penuh pengintegrasian Go-Jek dan bus TransJakarta. Dengan begitu, penumpang bisa mengakses informasi dan mengetahui keberadaan angkutan yang hendak ditumpanginya. Kerjasama antara Go-Jek dan Transjakarta dilakukan apabila jumlah bus Transjakarta sudah mencukupi

“Kenapa saya dukung Go-Jek? Kalau bus Transjakarta kami sudah merata di Jakarta, maka ojek bisa tergusur lho. Dengan adanya Go-Jek, maka kami kerjasamakan dengan Transjakarta biar jalur-jalur yang belum terjangkau ini bisa jadi feeder,” ucap Ahok di Balai Kota, Jakarta.

Dengan perubahan konsep usaha, sekarang Go-Jek tidak hanya mengantar penumpang. Kita sering melihat wara-wiri jaket hijau di jalanan Jakarta mengantarkan kiriman barang atau makanan. Go-Jek siap membantu konsumen yang membutuhkan kecepatan, apalagi jika jadwal Anda sangat padat.

Sebelum Go-Jek hadir, sudah banyak jasa pengantar bersepeda motor lainnya. Seiring nama Go-Jek makin dikenal masyarakat Jakarta, nama mereka seperti hilang ditelan bumi. Kehadiran jasa pengantar yang dapat dipesan secara online mendapat sambutan panas dari beberapa kalangan, terutama jasa pengantar dan tukang ojek konvensional. Tidak heran jika banyak kita lihat bentang spanduk yang menolak ojek online masuk ke sebuah wilayah. 

Alasan penolakan ojek konvensional adalah anggapan bahwa mereka harus berebutan untuk menjemput konsumen dan harus bagi hasil yang bisa saja kurang memuaskan. Selain tetek-bengek persyaratan, seperti SIM, STNK, cicilan motor, ijazah pendidikan minimal SMU dan kartu keluarga, mereka juga harus terbiasa memakai handphone Android, terutama aplikasi GPS dan pengecekan standar keamanan kendaraan motor. Semua hal itu menimbulkan anggapan bahwa sistem yang digunakan Go-Jek ribet dan membuat mereka enggan bergabung atau yang lebih parah, bersikap tidak bersahabat terhadap armada Go-Jek yang masuk di wilayah operasional mereka.

Di sisi lain, kesuksesan Go-Jek juga melahirkan alternatif layanan serupa. Saat ini, di Jakarta telah hadir juga Grab Bike, Grab Taxi, dan Uber Taxi yang siap menjadi pilihan masyarakat. Namun, tantangan hadir seiring perkembangan. Pemerintah provinsi DKI Jakarta melarang Uber Taxi beroperasi karena tidak mengantongi izin operasi. Pemprov DKI bisa saja mencabut larangan jika memenuhi syarat perizinan terlebih dahulu sebelum beroperasi, termaksuk data perusahaan seperti alamat kantor pusatnya. Sedangkan Go-jek, Grab Taxi dan, Grab Bike telah memiliki pajak izin usaha dan alamat kantor, jika ada apa-apa kita bisa cari tahu kantornya.

Melihat fenomena ojek online vs ojek konvensional, saya pikir jasa pengantar online tidak pernah bertujuan untuk mematikan mata pencarian ojek konvesional. Penyedia jasa ojek konvensional harus mendapat penjelasan sebaik mungkin tentang keberadaan ojek online, sehingga mereka justru semakin terbantu dengan keberadaan ojek online. 

Yang paling penting, masyarakat Jakarta membutuhkan transportasi yang cepat, aman, terjangkau, dan nyaman. Dengan lahirnya aplikasi transportasi umum dari para pelaku wirausaha, pemprov DKI harus melakukan terobosan agar pemaduan moda transportasi umum, seperti bus transjakarta yang terkoneksi dengan moda angkutan lain di Jakarta, semakin memudahkan pengguna transportasi umum di ibu kota. Jika hal ini bisa terlaksana, kemacetan di Jakarta bisa terurai dan waktu antrian baik di halte maupun di stasiun bisa berkurang. Masyarakat tidak perlu bersusah payah atau membayar mahal saat berganti moda transportasi hingga ke tempat tujuan.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
rionoto

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Sistem 3 in 1 Hilang, Terbitlah Kemacetan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
img-content

Dilema Pemerintah dalam Transportasi Online

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua