x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Alam Semesta Tidak Tunggal?

Apakah alam semesta ini tidak tunggal, sebagaimana diyakini oleh al-Razi dan Hawking?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Penafsiran fisikawan Richard Feynman terhadap teori kuantum melahirkan apa yang disebut sebagai “sum over histories”. Model kuantum menyebutkan, partikel dikatakan tidak memiliki posisi yang pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Dalam tafsiran Feynman, kita tak bisa menafsirkan demikian, melainkan bahwa partikel mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan kedua titik itu.

Kesimpulan Feynman: suatu sistem bukan hanya memiliki satu sejarah, melainkan memiliki setiap sejarah yang mungkin. Ini gagasan yang radikal, bahkan bagi banyak fisikawan. Dalam teori Newtonian, masa lalu diasumsikan ada sebagai serangkaian peristiwa yang pasti. Menurut fisika kuantum, alam semesta memiliki bukan hanya satu masa lalu, melainkan banyak. Semesta bukan hanya memiliki eksistensi tunggal, tetapi setiap versi yang mungkin dari semesta ada secara simultan sebagai quantum superposition.

Penafsiran Feynman inilah yang membangkitkan semangat astrofisikawan Stephen Hawking untuk memperbaiki teorinya. Dalam sejarah sains, kita telah menemukan serangkaian teori atau model yang lebih baik dan lebih baik, sejak Plato hingga teori klasik Newton sampai teori-teori kuantum modern.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Akankah rangkaian ini akhirnya mencapai suatu titik akhir, teori pamungkas tentang semesta, yang akan mencakup seluruh gaya dan memprediksi setiap observasi yang kita lakukan, ataukah kita akan terus selamanya menemukan teori-teori yang lebih baik, tetapi tidak pernah menemukan satu teori yang tak bisa diperbaiki lagi?” tulis Hawking dalam bukunya, The Grand Design.

“Kita belum memperoleh jawaban definitif atas pertanyaan ini,” tulis Hawking kemudian, “tapi kita sekarang memiliki calon bagi teori pamungkas tentang segalahal, jika memang ada, yang disebut teori-M.” Bagi Hawking, Teori-M adalah satu-satunya model yang memiliki seluruh sifat yang harus dimiliki oleh teori yang final. Dan ini melibatkan 10 dimensi ruang dan satu dimensi waktu—alangkah tak mudah mengimajinasikannya ketika dimensi waktu ditentukan oleh dimensi-dimensi lainnya.

Dengan berpijak pada penafsiran Feynman, Hawking mengatakan, menurut teori-M, semesta kita tidaklah tunggal. Gagasan seperti ini di masa lampau pernah dilontarkan oleh Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), yang menolak konsep geosentris Ptolemeus, yang berarti mendahului Copernicus maupun Kepler dan Galileo. Namun bahkan melampaui ketiga nama yang terakhir ini, Al-Razi juga menyebutkan bahwa alam semesta ini tidak tunggal dan sangat banyak (bukan universe, melainkan multiverse).

Al-Razi menolak pemahaman Aristotelian tentang semesta tunggal yang berputar mengelilingi dunia yang tunggal. Ia berargumen bahwa ada angkasa luar tak terbatas yang melampaui dunia yang kita ketahui dan bahwa Tuhan punya kekuasaan untuk mengisi ruang kosong dengan semesta dalam jumlah tak terbatas. Menurut Al-Razi, masing-masing semesta ini bisa memiliki hukum alam yang mungkin berbeda-beda.

Berbeda dengan al-Razi yang berpaling kepada adanya pencipta, Hawking berujung pada kesimpulan bahwa penciptaan alam semesta tidak memerlukan intervensi sesuatu yang supernatural atau yang disebut Tuhan. Semesta yang banyak ini muncul secara alamiah dari hukum fisika. “Masing-masing semesta memiliki banyak sejarah yang mungkin dan banyak keadaan yang mungkin pada masa-masa yang kemudian, misalnya, pada masa seperti sekarang, jauh sesudah terciptanya mereka. Semesta adalah prediksi sains,” begitu tulis Hawking.

Itulah klaim yang lebih deterministik dibanding pernyataannya lebih dari dua dasawarsa sebelumnya dalam bukunya yang mashur, A Brief History of Time. “Apabila semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun, seandainya semesta benar-benar mandiri, tidak memiliki batas atau titik ujung, semesta tidak memiliki awal maupun akhir: semesta hanyalah sekedar ada. Kalau begitu di mana tempat bagi Sang Pencipta?” ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan