Manfaatkan Keunggulan Orang Lain

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Memanfaatkan keunggulan sumber daya di luar perusahaan mampu mendorong bisnis untuk tumbuh ke tingkat berikutnya.

Sama-sama cerdas. Barangkali karena itulah mendiang Steve Jobs dan Bill Gates dulu terkesan bersaing secara individual. Persaingan itu dimanifestasikan pada kompetisi untuk menunjukkan keunggulan Apple dan Microsoft, walaupun medan bermainnya sebenarnya agak berbeda. Publik di luar melihat kompetisi itu berlangsung begitu keras saat Jobs mengajukan tuntutan hukum terhadap Microsoft.

Namun, sesama orang cerdas itu akhirnya sanggup berpikir nyata bahwa mereka sesungguhnya saling membutuhkan. Penyelesaian tuntutan hukum itu berlangsung lama dan berdampak buruk bagi keduanya. Jobs dan Gate lantas mencari penyelesaian yang saling menguntungkan.

Apple diminta Microsoft untuk menghentikan tuntutan hukumnya. Sebagai imbalan, Jobs meminta Gates agar tetap mengembangkan Office Suite yang penting demi perkembangan Macintosh. Di sisi lain, Gates juga meminta Jobs menjadikan Internet Explorer milik Microsoft sebagai default web browser pada komputer Mac. Apapun perkembangannya kemudian, tapi langkah ini memperlihatkan bahwa kedua inovator ini sama-sama mengerti bahwa pertarungan mereka di meja hijau tidaklah menguntungkan.

Di balik itu, yang terlihat ialah kemenangan akal sehat untuk saling memperkuat ketimbang meneruskan pertikaian. Dengan saling memanfaatkan sumberdaya satu sama lain, kedua belah pihak membuat terobosan. Permusuhan diubah menjadi kerjasama yang saling menguatkan.

Kemauan untuk memanfaatkan sumberdaya di luar perusahaan ternyata memang menjadi kekhasan perusahaan-perusahaan pembuat terobosan. Hasil riset yang dilakukan oleh Keith McFarland, yang dibukukan dalam The Breaktrough Companies, memperlihatkan bahwa perusahaan pembuat terobosan dikelilingi oleh suatu jejaring sumber daya yang amat penting bagi keberhasilannya. Jejaring ini memang berada di luar dirinya, tapi perusahaan mampu memanfaatkan kelebihan masing-masing simpul jejaring.

Relasi dengan berbagai komunitas investasi juga sangat bermanfaat. Perusahaan pialang, pemilik modal, dan investor lain telah menyaksikan banyak sekali perusahaan yang baru mulai dan sudah matang, jatuh dan bangun, dengan beragam gaya manajemennya.

Vendor dan konsumen juga memainkan peran penting untuk memperkuat jejaring bisnis. Jim Goodnight, CEO SAS, mengembangkan suatu cara untuk menentukan prioritas yang harus dikerjakan oleh tim pengembangan teknologinya. Ia mengadakan polling konsumen, yang disebut SAS Ware Ballot.

Mula-mula, Goodnight mengajak wakil-wakil vendor yang menjadi penyokong teknologi SAS untuk mendengarkan keinginan konsumen. Lalu, hal yang paling banyak disebut dimasukkan ke dalam materi polling, yang kemudian dikirim ke seluruh pelanggan. Jadi, bukan para teknisi atau pemasar SAS yang menentukan prioritas tim pengembangan, tapi konsumen—inilah pendekatan outside-in (dari luar bergerak ke dalam perusahaan).

Kesediaan untuk menengok ke luar merupakan langkah penting agar perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya yang bertebaran di luar dirinya sendiri. Adanya jejaring yang kuat, menurut McFarland, memampukan (enabling) perusahaan untuk melangkah ke tahap berikutnya. Vendor dan konsumen adalah simpul-simpul dalam jejaring bisnis yang sumberdayanya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan bagi pertumbuhan bisnis.

Perusahaan pada umumnya mungkin sudah memiliki jejaring bisnis, tapi yang membedakan perusahaan pembuat terobosan dari perusahaan lainnya, kata McFarland, ialah kemampuannya dalam mengoptimalkan sumber daya di luar untuk meningkatkan nilai tambah dirinya. Tidak semua hal dapat kita kerjakan sendiri, dan tidak semua perlu kita lakukan sendiri.

Banyak wirausaha yang hebat dalam membongkar dan memahami kelaziman bisnis tertentu, tapi ini bagus untuk tahap awal perusahaan. Seiring dengan pertumbuhan bisnis, para pemimpin tersebut perlu membuka pikiran dan bersedia mencari orang-orang dari luar perusahaan yang memiliki pengalaman, koneksi, dan perspektif yang mungkin kurang atau tidak mereka punyai. Sergey Brin dan Larry Page memerlukan Eric Schmidt untuk membangun organisasi perusahaan, walaupun Brin dan Page yang menemukan Google.

Bahkan, seseorang yang sudah menduduki posisi puncak perusahaan masih membutuhkan orang lain untuk, katakanlah, meminta dukungan psikologis. Tatkala melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan, seorang direktur mungkin merasa bersalah dan menyesali keputusan itu. Di saat-saat seperti ini, ia mungkin memerlukan teman bicara yang lebih senior, atau mentor bisnis, untuk memperoleh dukungan dan pencerahan.

Sumber daya luar diperlukan untuk mendapatkan perspektif lain. Seorang manajer puncak pernah menceritakan bahwa “Saya membutuhkan seseorang yang dapat melontarkan gagasan ketika saya sendiri sedang tidak memiliki jawaban.” Bawahannya barangkali merasa segan untuk memberikan pendapat dan lebih suka memilih diam.

Sebagian manajer mungkin merasa segan mencari gagasan di luar perusahaan. Dengan bersikap seperti itu, ia telah membangun tembok-tembok yang membatasi dirinya untuk melihat horizon yang lebih luas. “Anda tentu tidak mau kembali ke gagasan usang,” kata Scott Cook, eksekutif di Intuit, perusahaan peranti lunak di AS. “Carilah pembuat gagasan terbaik dan belajarlah banyak darinya.” Sekalipun, penggagas terbaik itu orang luar. (sumber foto ilustrasi: gold-mtn.com)**

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua