x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Apakah Kita Tinggal di Semesta Paralel?

Sebagian fisikawan percaya bahwa semesta ini tidak tunggal. Bukan universe, melainkan multiverse.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

 

“The universe is not just matter and energy, there are a million forms of existence in the multiverse.”
--Khalid Masood

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selama ini, kita merasa sebagai pusat alam semesta. Kini, cobalah kita membayangkan bahwa kita hidup di sebuah desa, yang terletak di pinggir kota, provinsi, negara, benua, lalu bumi—di muka bumi, desa hanyalah satu noktah kecil. Kita tahu, bumi kita adalah bagian dari tata surya—ada matahari, bulan, planet-planet lain yang bertetangga; dan bumi sangatlah kecil dibandingkan matahari.

Tata surya kita adalah bagian kecil dari Galaksi Bima Sakti. Jika kita umpamakan matahari kita seukuran sel darah putih, maka Galaksi Bima Sakti tak ubahnya negara Amerika Serikat. Padahal, galaksi kita hanyalah bagian kecil dari alam semesta. Dan kini, sebagian fisikawan percaya bahwa semesta tidaklah tunggal (universe), melainkan jamak dan paralel (multiverse).

Kita kerap bertanya: “Adakah makhluk cerdas serupa kita yang tinggal di planet lain, di galaksi yang sama ataupun berbeda. Bahkan, bila mungkin, di alam semesta yang lain?” Sebagai makhluk, kita ternyata sangat kecil dibandingkan alam semesta, meski kesadaran kita menjangkau jauh seluas semesta. Masihkah kita membanggakan diri sebagai satu-satunya spesies cerdas di alam semesta?

Sekali waktu, ‘semesta’ kita ini berarti segalanya. Namun, dalam tahun-tahun terakhir ini, penemuan dalam fisika dan kosmologi telah membawa ilmuwan untuk sampai kepada pandangan bahwa semesta kita boleh jadi hanya salah satu di antara banyak semesta. Mereka membayangkan kehadiran alam semesta yang paralel, sehingga semesta ini lebih merupakan mutilverse, bukan universe.

Menurut fisikawan Brian Greene, dalam The Hidden Reality: Parallel Universes and the Deep Laws of the Cosmos, proposal mengenai semesta paralel muncul dari teori-teori yang dikembangkan untuk menjelaskan hasil observasi yang paling halus pada tingkat partikel subatomik maupun kedalaman angkasa luas yang gelap. Multiverse merupakan lautan teramat luas yang menampung gelembung-gelembung universe, yang salah satunya semesta kita. Berapa banyak alam yang tersembunyi di dalamnya, itu masih misteri.

Dalam bukunya, Parallel World: A Journey through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos, fisikawan Michio Kaku mengeksplorasi gagasan lubang hitam, mesin waktu, ruang multidimensi, dan kemungkinan adanya semesta paralel. Kaku mengajak kita mengenal teori mutakhir fisika yang berpandangan bahwa semesta kita boleh jadi hanya salah satu dari semesta yang amat banyak, ibarat gelembung-gelembung singuler yang mengapung di lautan semesta tak terbatas.

Apa yang dimaksud dengan semesta (universe)? Definisi kita tentang ‘universe’ telah berubah sejak penemuan teleskop yang pertama kali dan kita mulai menyadari bahwa Bumi bukanlah totalitas eksistensi kita. Bahkan, semesta jauh lebih besar dari apa yang mampu kita lihat dengan teleskop. Semakin jauh perjalanan cahaya yang sampai kepada kita, semakin luas semesta, dan definisi kita tentang semesta pun berubah.

Tidak semua fisikawan benar-benar memercayai bahwa semesta paralel itu ada. Namun, Prof. Howard Wisemen berusaha membuktikan bahwa parallel universes itu benar-benar dan bahkan mereka berinteraksi. Dalam karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal prestisius Physical Review X, Wiseman bersama Dr. Michael Hall dari Centre for Quantum Dynamics, Griffith University, dan Dr. Dirk-Andre Deckent dari University of California menyebutkan bahwa jagat paralel ini bukan fiksi sains, tapi hard science. Jagat-jagat ini saling berinteraksi, dan bukan berkembang sendiri-sendiri. Jagat yang satu memengaruhi jagat yang lain. Interaksi ini, kata Wiseman, dapat menjelaskan apa yang selama ini dianggap sebagai keanehan dalam mekanika kuantum.

Semesta yang kita alami ini, kata Wiseman dan sejawatnya, hanyalah salah satu dari dunia yang jumlahnya amat-sangat-banyak. Sebagian identik dengan semesta kita, namun kebanyakan sangat berbeda. Dunia ini benar-benar nyata.

Di tengah keraguan dan perdebatan yang belum berujung, orang bertanya, bagaimana membuktikan bahwa kita hidup di multiverse? Saat ini, para ilmuwan berpacu untuk menemukan cara menguji gagasan ini, termasuk mencari tanda-tanda di langit perihal adanya semesta lain. Tapi, semesta yang tampak inipun sesungguhnya sudah cukup untuk membuat kita merasa kecil. *** 

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan