x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mengenal Gangguan Jiwa Lewat Karakter Star Wars

Cerita fiksi dan film kini memasuki kelas-kelas manajemen dan psikologi. Para akademisi menemukan sesuatu di dalamnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

“Matamu dapat memperdayakanmu. Jangan percayai mereka.”
--Obi-Wan Kenobi, karakter dalam Star Wars

 

Persilangan antara fiksi dan manajemen sudah berjalan beberapa tahun terakhir ini. Joseph Badaracco, pengajar di Harvard Business School, mengusung cerita-cerita fiksi ke dalam kelas manajemen, khususnya ketika membahas isu-isu kepemimpinan. Badaracco membawa karya Arthur Miller, Death of a Salesman, lalu karya Sophokles, Antigone, maupun karya Joseph Conrad, The Secret Sharer.

Para mahasiswa membaca karya-karya fiksi ini didorong untuk memahami karakter dalam novel-novel itu. Mahasiswa diajak masuk ke dalam situasi kompleks yang dihadapi oleh berbagai karakter dan bagaimana karakter-karakter ini menyikapi situasi tersebut. Mahasiswa mencoba menyelami bagaimana karakter merasakan kebimbangan, kegelisahan, keberanian, maupun keteguhan dalam mengambil suatu keputusan, misalnya.

Semakin banyak sekolah bisnis yang mengadopsi pendekatan ini. Salah satu alasannya, kata Scotty McLennan, pengajar ekonomi politik di Stanford Graduate School of Business, sebagian wawasan yang sangat berharga untuk memahami isu kepemimpinan tidak didapat dari buku-buku bisnis, melainkan dari karya sastra. Tak seperti buku bisnis umumnya, karya sastra memungkinkan mahasiswa memasuki kehidupan karakternya, bukan hanya momen-momen pengambilan keputusan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kini, karya fiksi juga menjadi pintu masuk untuk pengajaran psikologi. Boleh jadi karena terilhami oleh pendekatan yang digunakan para akademisi manajemen, sejumlah psikolog melakukan riset tentang kondisi kejiwaan karakter fiktif. Para psikolog mengambil film Star Wars sebagai subyek riset dan kemudian menjadikannya sebagai basis dalam pengajaran di kelas-kelas tentang gangguan jiwa.

Ryan C.W. Hall dan Susan Hatters Friedman, pengajar di University of Auckland, menerbitkan hasil riset itu dalam Academic Psychiatry. Menurut Susan, seperti dikutip oleh psmag.com, riset terhadap karakter Star Wars ini sedikit menghibur di tengah tugas berat memelajari kondisi kejiwaan ini. Di sisi lain, ini membuka jalan bagi para mahasiswa untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai gangguan jiwa, yang sebelumnya lebih sering dibicarakan secara teoritis atau berdasarkan gejalanya.

Melalui kajian terhadap kondisi kejiwaan karakter-karakter Star Wars, mahasiswa lebih mudah memahami jenis-jenis gangguan jiwa. Film George Lucas ini dipilih karena karakter-karakter di dalamnya dirancang demikian mendalam. Pengajar mengambil karakter Darth Vader sebagai contoh pengidap gangguan Borderline Personality Disorder, sebab karakter ini selalu menunjukkan emosi negatif. Darth Vader sebenarnya adalah Anakin Skywalker yang terhasut bujukan Darth Sidious untuk berpihak kepada Dark Side.

Karakter Yoda, dengan pola bicaranya yang aneh, memperlihatkan tanda-tanda disleksia permukaan atau sindroma Williams. Hilangnya bagian dari kromosom 7 mengakibatkan kencenderungan seperti hiper-verbal dan cara berbicara yang aneh. Lain lagi dengan karakter C-3PO yang menunjukkan perilaku obsessive personality disorder. Atau Jabba the Hutt yang ditengarai seorang psikopat.

Dibandingkan dengan pembahasan terhadap pasien asli, yang kerahasiaannya harus dijaga, diskusi mengenai kondisi kejiwaan karakter-karakter rekaan ini dapat berlangsung lebih leluasa. Mahasiswa dapat mendiagnosis kondisi kejiwaan karakter lebih bebas. Misalnya, apakah cara berbicara Yoda yang aneh itu karena disengaja atau karena gangguan neurologis.

Fiksi telah menembus batas-batas disiplin pengetahuan, sekaligus memperkaya kandungannya. (ilustrasi: karakter Darth Vader) **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu