x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menemukan Kebaruan Saat Membaca Ulang

Terkadang kita perlu membaca ulang sebuah buku untuk menemukan api yang menyalakan sebuah gagasan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

“Curiously enough, one cannot read a book; one can only reread it. A good reader, a major reader, and active and creative reader is a rereader.”
--Vladimir Nabokov

 

“Tidak ada buku berharga yang tidak akan bernilai ketika dibaca kembali,” begitu kata Susan Sontag seakan menyemangati kebiasaan yang terkadang sukar dimengerti: membaca kembali buku yang sudah pernah dibaca (re-reading). Sebagian orang mungkin berkata: Untuk apa membuang waktu?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sesungguhnyalah, membaca kembali buku yang pernah kita baca bukanlah kesia-siaan, kecuali bila buku itu tak menarik dan tak berharga. Seperti kata Ernest Hemingway, “Setiap kali engkau membaca ulang, engkau akan melihat ataupun memelajari sesuatu yang baru.” Menemukan kebaruan di dalam pembacaan ulang buku lama, inilah setidaknya yang saya rasakan setiap kali membaca ulang buku-buku tertentu.

 Berada di antara buku-buku yang baru terbit tidak membuat saya terlepas sepenuhnya dari buku-buku yang pernah saya baca. Selalu ada saat-saat ketika muncul kebutuhan untuk membaca kembali buku-buku lama. Salah satu alasannya, karena saya tidak selalu membaca satu buku seutuhnya. Terkadang saya hanya memilih sejumlah halaman yang memiliki daya tarik kuat dan memang saya perlukan. Meski kerap pula saya tergoda untuk membaca kembali buku yang sudah saya baca hingga halaman terakhir.

Di saat tertentu, saya membutuhkan kalimat-kalimat penyemangat yang dilontarkan oleh karakter Njai Ontosoroh dalam novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Perjuangan Njai Ontosoroh bahwa hidup harus tetap berjalan seolah menyalakan api semangat yang hampir padam. Ia berani hidup dengan caranya sendiri sebagai perempuan pribumi yang pernah dikawini oleh seorang Belanda totok: mandiri dan pantang menyerah.

Kisah kesakitan yang dialami oleh John Nash juga menjadi pengingat bahwa keterpurukan bukanlah akhir dari segalanya. Kesanggupan matematikawan jenius ini untuk keluar dari schizophrenia melecut semangat hidup yang melorot direnggut ketegangan: kamu bisa, kamu bisa! Nash, yang menemukan teori permainan dalam matematika, berhasil lepas dari suara-suara yang memburunya. Ia mampu membebaskan diri dari kebisingan yang mengiang-ngiang di otaknya. Ia sanggup melepaskan diri dari bayangan-bayangan yang menguntitnya kemanapun ia pergi. Mengapa saya tidak?

Membaca kembali buku yang pernah saya baca bukan hanya sanggup memantik kembali semangat, tapi juga bisa memicu lahirnya inspirasi. Gagasan untuk menulis topik ini muncul ketika saya membaca lagi biografi Federico Garcia Lorca, sastrawan yang diburu penguasa Spanyol Jenderal Franco, karya Ian Gibson. Saya menemukan hal-hal yang tidak terduga dan berusaha memahami apa yang dulu, ketika saya membaca karya ini pertama kali, tidak saya mengerti. Pembacaan ulang ternyata memperkaya pemahaman saya semula—Anda mungkin juga memperoleh pengalaman serupa.

Terkadang saya juga menikmati kengerian yang menguar ketika membaca Mata Pisau, puisi yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono beberapa puluh tahun silam. Entah mengapa, kengerian itu terasa setiap kali saya membaca kembali sajak itu. Bahkan kengerian yang tercipta lewat puisi itu terasa makin tajam, dan bukan bertambah majal karena saya baca ulang. Baris sajaknya ‘ia berkilat ketika terbayang urat lehermu’ seperti mengancam saya yang tak berdaya. Ada rasa teriris yang sukar lenyap.

Bagi orang lain, membaca kembali buku yang sudah dibaca barangkali dianggap membuang waktu. Saya merasakan sebaliknya, terutama ketika saya menemukan makna baru, pemahaman baru, dan semangat baru dari kata-kata yang sama yang pernah saya jumpai, mungkin beberapa tahun yang sudah lewat. Membaca ulang sebuah buku barangkali mirip dengan mudik: menemukan kembali api semangat, memperoleh kembali pencerahan nurani. Di saat-saat tertentu, saya memerlukan mudik agar tetap hidup. (sumber ilustrasi: strengthbysonny.com) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu