x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Biografi Sang Nabi: Samudera yang tak Pernah Surut

Para penulis dari berbagai zaman mengisahkan hidup Sang Nabi. Ia bagaikan samudera kehidupan yang airnya tidak pernah surut kendati terus-menerus di

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Apa lagi yang hendak ditulis perihal Rasulullah Muhammad SAW? Bukankah telah begitu banyak karya klasik yang menuturkan kehidupan Nabi Besar ini, sebagaimana dikisahkan begitu detail oleh Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah. Tak kurang karya-karya penulis zaman kita, seperti Annemarie Schimmel dan Martin Lings.

Karya-karya itu memperlihatkan pada kita bahwa ada begitu banyak sisi kehidupan Rasulullah dan begitu banyak jalan untuk mendekati dan memahami Sang Nabi. Begitu pula, ada banyak cara untuk mengisahkannya kembali kepada kita. Beberapa karya berikut ini hanya sebagian di antara upaya memahami manusia revolusioner ini. Masih banyak karya lain yang layak dibaca, seperti yang ditulis Lesley Hazleton (The First Muslim: The Story of Muhammad), Barnaby Rogerson (The Prophet Muhammad: A Biography), dan Deepak Chopra (Muhammad: A Story of God’s Messenger and the Revelation that Changed the World).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sang Nabi bagaikan samudera kehidupan yang airnya tidak pernah surut kendati terus-menerus ditimba.

 

Muhammad, Rasul Zaman Kita

Tariq Ramadan, Serambi, 2007, 419 halaman

(In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, Oxford University Press, 2007)

Ketika Rasulullah Muhammad sedang bersama sekelompok orang Islam, sebuah prosesi penguburan jenazah melintas, dan Nabi segera berdiri untuk menghormati mendiang. Orang-orang Islam terkejut dan memberi tahu bahwa itu adalah prosesi pemakaman seorang Yahudi. Nabi menjawab dengan tegas dan penuh wibawa, “Bukankah ia juga manusia?”

Tariq Ramadan memetik hikmah dari peristiwa itu. Meskipun tengah dirundung kesulitan, pengkianatan, dan peperangan, Rasulullah tak mengubah ajarannya: tak ada seorang pun dipaksa masuk Islam, perbedaan senantiasa dihormati, dan semua orang diperlakukan setara.

Bukan catatan terperinci ihwal peristiwa yang dialami Sang Nabi—sesuatu yang berlimpah tersedia dalam kitab-kitab klasik, melainkan ajakan Tariq untuk menyelami jantung kehidupan Nabi, menemukan mutiara-mutiara dalam peristiwa, dan memahami universalitas ajarannya yang membuat karya ini menarik. Teks yang digelar Tariq bergerak dari masa lampau ke masa kini, dan sebaliknya; sebuah refleksi sekaligus pengakuan perihal ketidaklapukan ajaran spiritual yang disebarkan Sang Nabi.

Sejarah hidup Muhammad adalah sarana bagi peneguhan iman, pendakian menuju semesta spiritual, dan penampikan keraguan diri saat menghadapi tantangan zaman kini. Nabi mengajarkan pada kita bahwa jawaban yang paling benar untuk persoalan eksistensial lebih sering diberikan oleh hati, bukan oleh akal.

 

Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik

Martin Lings, Serambi, Cet. 7, 2008, 555 halaman

(Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, The Islamic Text Society, Cambridge, UK, 4th ed. 1991)

Martin Lings membuka kisah Rasulullah Muhammad dengan mengutip Kitab Kejadian (Genesis) yang menceritakan bahwa Ibrahim tidak memiliki anak, dan tak ada harapan lagi untuk memilikinya. Pada suatu malam, Tuhan menyuruhnya keluar dari tenda. “Sekarang,” firman-Nya, “pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintang di sana, bila engkau sanggup.” Ibrahim pun menatap langit dan terdegarlah suara: “Sebanyak itulah anak keturunanmu nanti.”

Kekuatan naratif Lings mendesak kita untuk menuntaskan membaca kitab yang banyak dipujikan ini. Ia menebarkan efek kimiawi di sepanjang penuturannya tentang sejarah Nabi yang ia tata dalam potret-potret ringkas. Lings berhasil menarik kita ke masa lampau hingga seolah hadir sendiri di beragam peristiwa yang dialami Sang Nabi.

Bersandar pada karya-karya klasik, seperti Kitab at-Thabaqat al-Kabir karya Muhammad ibn Sa’d (edisi Leiden), Lings menunjukkan mutiara-mutiara dalam hidup Nabi. Murid dan pengikut Frithjof Schuon ini menulis dengan kerendahan hati, rasa hormat, dan kecintaan kepada Muhammad tanpa hendak mengatakan ia lebih tahu dari orang lain.

 

Muhammad: Prophet for Our Time

Karen Armstrong, Mizan, Cet. I, 2007

(Muhammad: Prophet for Our Time, HarperCollins, London, 2006)

Perempuan yang mengaku dirinya sebagai “freelance monotheist” ini menulis sejarah hidup Muhammad sebagai respons atas peristiwa masa kini. Kitabnya yang pertama, Muhammad: A Biography of the Prophet (1992), adalah tanggapan atas hiruk-pikuk dunia menyusul terbitnya karya Salman Rushdie, Satanic Verses. Karya keduanya, Muhammad: Prophet for Our Time, terbit sekitar lima tahun sesudah peristiwa 11 September 2001. Dengan melihat kembali sejarah abad ketujuh di jazirah Arab, Karen mengembangkan cara pandang baru untuk memahami peristiwa masa kini.

Karen, kali ini, menampilkan Sang Nabi sebagai sosok paradigmatik yang datang ke “dunia yang penuh cacat.” Perjalanan hidup Muhammad menyingkapkan kerja Tuhan yang misterius di dunia, dan mengilustrasikan ketundukan sempurna yang harus dilakukan setiap manusia kepada yang-ilahi. “Kita mesti mendekati kehidupannya dalam cara yang seimbang,” kata Karen, “agar dapat mengapresiasi capaian-capaiannya yang besar.”

Di mata Karen, jika kita ingin menghindari kehancuran, dunia Muslim dan Barat mesti belajar bukan hanya untuk bertoleransi, melainkan juga saling mengapresiasi. Titik berangkat yang baik adalah dari sosok Muhammad: seorang manusia yang kompleks, yang menolak kategorisasi dangkal yang didorong oleh ideologi, yang terkadang melakukan hal yang sulit atau mustahil untuk kita terima, tapi memiliki kegeniusan yang luar biasa dan mendirikan sebuah agama dan tradisi budaya yang didasarkan bukan pada pedang, melainkan pada Islam, yang berarti perdamaian dan kerukunan.

Di tengah sikapnya yang simpatik, Karen dipandang tidak kritis terhadap sumber-sumbernya—buku-buku tarikh terjemahan bahasa Inggris. Ia menyerap kisah tentang “ayat-ayat setan” (gharaniq) tanpa menelisik secara cermat kebenarannya.

 

Sejarah Hidup Muhammad

Muhammad Husain Haikal, Litera AntarNusa, Cet. ke-38, 2009

(Hay?t Muhammad, Cet. 9, 1965, diterjemahkan oleh Ali Audah)

Memahami kehidupan masyarakat Arab pra-Islam adalah jalan masuk untuk mengerti mengapa Muhammad diturunkan ke muka Bumi; di tanah Arab, di sebuah zaman yang disebut jahiliyah. Ketebalannya yang mencapai hampir 800 halaman tak membikin kita lelah: ini sebuah catatan yang cermat, dengan komentar-komentar yang kritis atas teks-teks sebelumnya, yang lahir dari tangan penulis Muslim maupun bukan.

Haekal tak hendak memaksa kita mengamini apa yang ia tuliskan. Tapi, ia menunjukkan betapa kuat fondasi yang ia bangun, dan seberapa lemah kritik yang ditujukan kepadanya. Sebuah cerita yang telah diterima sebagai kebenaran, di tangan Haekal adalah subyek yang tak bisa menghindar dari kritik. Baginya, sumber otentik sejarah hidup Sang Nabi yang tidak terbantah adalah Al-Quran.

Haekal meletakkan Muhammad bukan hanya sebagai pembawa ajaran spiritual, tapi sekaligus seorang pembaru yang menata ulang tata cara hidup bermasyarakat pra-Islam. Ia menempatkan Muhammad sebagai cermin kemanusiaan yang tak tergerus waktu, yang setiap saat jutaan bibir mengucapkan namanya. Berulang kali, hingga akhir zaman.

 

And Muhammas Is His Messenger

Annemarie Schimmel

(Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1985)

Schimmel menilai Rasulullah Muhammad penting bukan semata sebagai figur historis, tapi sebagai bagian integral dari ibadah sehari-hari kaum Muslim. Nama Muhammad disebut dalam setiap shalat. Orang bersalawat ketika namanya diucapkan. Oleh Schimmel, kita diajak menyusuri jejak-jejak Muhammad dalam hidup keseharian seorang Muslim: ketika makan, tidur, maupun bertegur sapa.

Muhammad bukan hanya contoh spiritual bagi Muslim, tetapi juga contoh praktis sehari-hari. Schimmel meneruskan tema ini dengan membicarakan “ketaktercelaan moral” Sang Nabi dan watak uniknya dalam Islam. Schimmel mempelajari posisi Muhammad dalam kesalehan awam dengan menggali dua aspek praktis yang spesifik: perayaan ulang tahun Sang Nabi dan kisah-kisah tentang “Perjalanan Malam”.

Schimmel tak menulis biografi historis Rasulullah, melainkan menghadirkan sikap kaum Muslim terhadap Nabi, legenda-legenda yang mengitarinya, dan puji-pujian atas dirinya seperti dalam syair-syair. Puisi dan prosa adalah sumber yang layak bagi Schimmel untuk mencermati sisi-sisi mistis Muhammad dan bagaimana spirit Sang Nabi menginspirasi para pengikutnya. Pendekatan Schimmel ini memperkaya pemahaman kita tentang ragam dimensi kehidupan Rasulullah. (sumber foto: muslim.or.id) **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu