x

Formulir organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) milik anaknya saat dirumahnya kawasan Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Januari 2016. TEMPO/IqbaL lubis

Iklan

Syafaruddin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Organisasi Gafatar Itu Transformasi Aliran Al Qiyadah

Ketika dirikan tahun 2010, Gafatar itu namanya Komunitas Millah Abraham, ajarannya mencampur adukan Islam, Nasrani dan Yahudi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

PALEMBANG - Aliran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) atau Negara Karunia Alla Semesta Alam itu berdasarkan catatan Majelis Ulama Indonesia (MUI), sudah beberapa kali berganti nama. Ketika didirikan oleh Ahmad Musadeq tahun 2010, namanya Komunitas Millah Abraham (Komar).

Pergantian nama organisasi itu, kata Ketua MUI Palembang, Sumatera Selatan, Kiayi Saim Marhadan, Rabu, 13 Januarari 2016 di Palembang, setelah MUI menyatakan, bahwa ajaran yang diberikan pengurus Gafatar sesat, karena mencapur adukan ajaran Islam, Nasrani dan Judaisme atau Yahudi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketua MUI Palembang ini mengungkapkan hal itu setelah mencuatnya pemberitaan media massa menyangkut menghilangnya dr Rica Tri Handayani (28) asal Lampung bersama anaknya Zafran Alif Wicaksono, kemudian berhasil ditemukan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada Senin, 11 Januari 2016.

Menurut Saim Marhadan, penggabungan ajaran Islam, Nasrani dan Yahudi itu, karena mereka mengaku sebagai pengikut ajaran Nabi Ibrahim, sehingga ketika ajaran agama tersebut mereka campur adukan, karena semua ajaran agama dimaksud sama.

Namun kalau kita lihat gerakannya, organisasi Gafatar itu sebagai transformasi  aliran Al Qiyadah, sebab  pengikutnya tidak perlu melaksanakan shalat lima waktu, tidak mewajibkan Puasa bulan ramadhan, tapi cukup mengerjakan solat malam, termasuk kalimi sahadat yang mereka ucapkan dalam pembai’atan, berbeda dengan kalmia sahadat umat Islam, katanya.

Sementara itu sejumlah keluarga yang menduga hilangnya keluarga mereka ikut aliran Gafatar, Rabu, 13 Januari 2016 melapor ke Ditreskrimum Polda Sumatera Selatan, diantaranya Ny Megawati penduduk Rt 31, No 15, Kelurahan Sialang, Kecamatan Sako Palembang, melaporkan kehilangan anaknya bernama Ratih Medianti (23).

Kemudian Taufik (47) yang tinggal di perumahan Tanjung Sari, Kelurahan Bukit Sangkal, Kecamatan Kalidoni, Palembang, melaporkan kehilangan adiknya bernama Sukainah (42) dan suaminya Zainal (45) beserta kelima anaknya Hanif, Nia, La, Wa, Dek,  Fa.

Dalam laporannya Ny Megawati  menduga anaknya yang keseharian mengelola butik di rumahnya itu  pergi bersama pacarnya Muhammad Adil ikut bergabung kelompok Gafatar di Pontianak dari pengeluaran uang di rekening bank ada membeli tiket pesawat  Pontianak dan transit di Jakarta.

Ratih menghilang sudah setahun, nomor Hpnya yang dihubungi tidak aktif lagi. Ny Megawati yakin anaknya gabung ke Gafatar, karena ia pernah mengatakan, kalau  mama mau diurus adik, mama harus ikut adik ke Kalimantan gabung ke Gafatar.

Sementara Taufik melaporkan adiknya bersama suami dan anak-anaknya meng hilang sejak November 2015. Awalnya adiknya Sukainah berangkat duluan ke Kalimantan, kemudian disusul oleh suami dan anak-anaknya.

Menurut Taufik, nomor Hpnya masih aktif, kalau dihubungi mereka sambut, kalau ditanya mereka tinggal di jawab di Kalimantan, tapi tidak mau mengakui dimana di Kalimantan. Terus terang kami sekeluarga menghawatirkan mereka ikut bergabung ke Gafatar.

Kasubdit Kemanan Negara, Ditreskrimum Polda Sumsel, AKBP  Sutryo mengakui ada keluarga yang melaporkan keluarganya menghilang. Untuk sementara laporan sudah kita terima, untuk memastkan apakah mereka berangkat ke Kalimantan bergabung dengan Gafatar, kita akan tindak lanjuti laporan itu.

SYAFARUDDIN

 

Ikuti tulisan menarik Syafaruddin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler