Tak Ada Ruang untuk Ketakutan, Hanya Musik - Urban - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Tak Ada Ruang untuk Ketakutan, Hanya Musik

    Neuorolg Oliver Sacks mengeksplorasi hubungan antara musik dan otak manusia. “Kita manusia yang sangat musikal.”

    Dibaca : 3.857 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    “Aku tak punya ruang untuk ketakutan ini, atau untuk ketakutan yang lain, sebab aku terisi penuh oleh musik.”

    --Oliver Sacks (1933-2015)

     

    Oliver Sacks, lelaki berprofesi dokter saraf, barangkali nama yang asing di sini, tapi ia pribadi menarik yang berikthiar menjembatani sains dan spirit manusia. Baginya, spirit manusia itu maujud dalam musik. Hidupnya berakhir pada 30 Agustus 2015, dan ia telah berkontribusi begitu dalam melalui tulisan-tulisan yang ia tuangkan dengan sepenuh hati.

    Musicophilia, karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, menyingkapkan rahasia mengenai peran musik dalam pengalaman manusia. Ia tahu bahwa kehidupan pikiran dan kehidupan raga adalah satu adanya, dan ia memahami bahwa musik mengawinkan keduanya. Musik bukan hanya kepekaan akan nada, ketenangan jiwa, tapi sekaligus juga kesehatan raga.

    Musik membentuk kehidupan dan membuat sebagian besar kita merasa hidup. Dan musik ini bukan hanya musik eksternal yang kita dengar dengan telinga, tapi juga musik internal yang melantun dalam kepala kita. Istilah musikofilia, yang jadi judul salah satu buku Sacks, dapat dipahami sebagai kecenderungan terhadap musik.

    Musik melekat dalam diri manusia, yang raga maupun jiwa—anggota tubuh kita begitu mudah tergerak saat kita mendengar musik yang belum pernah kita dengar sekalipun. Sacks mencontohkan pengalaman Nick Younes yang begitu terpukau saat mendengar untuk pertama kali lagu Love and Marriage karya James van Heusen dan dilantunkan oleh Frank Sinatra. Musik ini langsung mencengkeram Younes sedari awal.

    Salah satu kisah yang ia tuturkan adalah tentang dokter Tony Cicoria yang tersambar petir ketika sedang menelpon. Ia terbanting dan merasa jiwanya terbang lalu melihat tubuhnya terbujur di tanah. Ketika hidupnya kembali normal, ia merasakan keanehan luar biasa: ada hasrat tak terpuaskan untuk mendengarkan musik piano!

    Cicoria bukanlah penggemar musik, apa lagi klasik. Mendadak ia membeli rekaman Chopin, belajar membaca partitur dengan terengah-engah, dan mengetuk-ketuk bilah piano tanpa rasa bosan. Dua tahun kemudian ia tampil bermain piano di hadapan publik. Sembari tetap berpraktek sebagai dokter bedah, Cicoria kerap bermain dalam konser musik klasik dan menulis komposisi sendiri.

    Sacks melukiskan buku-buku dan esai-esainya sebagai sejarah kasus, patografi, kisah-kisah klinis, atau ‘novel neuorologis’. Patografi adalah kajian tentang kehidupan individu atau sejarah komunitas yang terkait dengan pengaruh penyakit atau gangguan psikologis tertentu. Subyeknya antara lain Madeleine J., perempuan tunanetra yang mempersepsikan tangannya sebagai ‘benjolan adonan’ tak berguna, juga Dr. P yang menggangap isterinya sebagai topi.

    Sacks tidak setuju dengan pandangan psikolog Harvard Steven Pinker bahwa musik adalah ‘auditory cheesecake’. Ia menunjuk kepada kemampuannya untuk meraih pasien dimensia sebagai bukti bahwa apresiasi musik tertanam dalam otak manusia. “Saya belum mendengar tentang manusia yang tidak menyukai musik, atau tidak merespon musik dengan satu atau lain cara,” ujar Sacks seperti dikutip The New York Times. “Saya pikir, kita adalah spesies yang sangat musikal.”

    Banyak orang merasa kehilangan Sacks terutama karena ia membukakan mata hati tentang peran musik dalam hidup manusia. Sacks menunjukkan betapa hebat dan mengagumkan hubungan antara musik dan otak manusia, sebagaimana hebat hubungan antara bahasa dan otak kita. Bukunya dibaca jutaan orang dan diadaptasi ke layar film dan panggung drama. Robin Williams dan Robert De Niro pernah bermain bersama dalam film Awakening (1990) yang didasarkan pada buku Sacks (1973) tentang sekelompok pasien radang otak yang tidak lazim. Setiap tahun, Sacks menerima 10 ribu surat dari pecintanya.

    Dalam buku memoarnya, A Leg to Stand On (1974), Sacks melukiskan dirinya: “Saya sangat ulet, apakah ini baik atau buruk. Bila perhatian saya sangat besar, saya tak bisa melepaskannya. Ini mungkin kekuatan besar, atau kelemahan. Ini membuat saya seorang penyidik. Ini membuat saya obsesif.”

    Betapapun, Sacks telah menunjukkan bahwa musik sudah tertanam dalam otak kita sedari awal. Kekuatan musik melebihi yang kita sadari. Merujuk pada klaim Nietzsche bahwa mendengarkan Bizet telah membuatnya jadi filsuf yang lebih baik, Sacks mengatakan, “Saya pikir Mozart membuatku ahli saraf yang lebih baik.” (sumber ilustrasi: dangerousink.co.uk) **

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.