x

Kebun Obat di Lorong Garden

Iklan

Andri Frediansyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Biodiversitas Lokal, Ladang Obat yang Perlu Digali

Bahan baku obat merupakan masalah krusial yang dihadapi industri farmasi nasional hingga detik ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ratusan peneliti dan akademisi duduk bersama di Gadjah Mada University Club dalam forum diskusi RISTEKDIKTI-Kalbe Science Awards (RKSA), kemaren. Acara ini diselenggarakan oleh Kemenristekdikti RI, PT Kalbe Farma Tbk, dan Tempo Media Group untuk menyatukan berbagai elemen yang meliputi Academic, Business, Government dan Society (ABGs) sekaligus menyosialisasikan program penghargaan RKSA 2016 kepada peneliti Indonesia di bidang kesehatan. 

Memahami perubahan pasar (market understanding), kemampuan menganalisa tren (healthcare trend analysis), dan fokus perlu dimiliki oleh seorang peneliti, mengutip pernyataan FX Widiyatmoko, Corporate Business Development Deputy Director, Kalbe. Hal ini sejalan dengan pernyataan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan-Kemenristekdikti. Dr. Muhammad Dimyati berharap para peneliti kesehatan Indonesia fokus sesuai tema riset yang telah dicanangkan pemerintah yang meliputi teknologi produk bifarmasetika, teknologi alat kesehatan dan diagnostik, dan teknologi kemandirian bahan baku obat dengan topik riset dan target sasaran tertentu. Rencananya tema besar kesehatan dan obat ini akan menghabiskan dana total sebesar 7T. 

Bahan baku obat merupakan masalah krusial yang dihadapi industri farmasi nasional hingga detik ini. “95% bahan baku obat Indonesia diimpor, atau senilai 21T pada tahun 2013”, kata FX Widiyatmoko. Pernyataan ini sangat kontradiktif dengan potensi kekayaan alam Indonesia. Indonesia bahkan menempati urutan ke-2 setelah Brazil dalam hal biodiversitas sumber daya alam. Lalu apa yang salah dengan kita? Setidaknya ada 3 asumsi dasar yang bisa menjadi jawaban sementara masalah ini. 

Pertama, hanya sekitar 7,7 dari 1000 penelitian yang mampu dimanfaatkan oleh industri. Penelitian tentunya memerlukan waktu yang cukup lama dan tahapan proses yang panjang hingga mencapai titik ‘dapat dimanfaatkan’. FDA menjelaskan bahwa untuk menemukan sebuah obat yang dapat dimanfaatkan setidaknya membutuhkan sekitar 10-15 tahun dengan biaya sektar 700-1.450 juta dolar. Banyak penelitian yang tidak mampu melanjutkan ke tahapan paling ujung seperti “clinical trial” dan hanya sanggup pada skala laboratorium sehingga banyak penelitian yang belum tuntas. Penelitian yang dangkal tentu saja tidak dapat dilanjutkan dan tidak dapat diaplikasikan. Setidaknya ada sembilan tahapan dalam pengembangan obat yaitu identifikasi target, validasi target, pengembangan metode (seperti in vitro, in vivo, high throughput screening), skrining (seperti in silico, potency dan dose response), optimasi senyawa kandidat (seperti toksisitas, formulasi, dan delivery), pengembangan (pre-klinikal studi), klinikal studi (fase I, II, dan III), pengajuan aplikasi ke FDA sebagai calon obat, dan klinikal studi fase IV. Pada akhirnya, banyak industri dalam negeri yang membeli paten dari perusahaan farmasi di negara lain yang belum tentu bahan baku tersebut ada ataupun mudah diperoleh di Indonesia. 

Kedua, penelitian tidak sejalan dengan kebutuhan pasar/industri. Peneliti merasa nyaman pada areanya sehingga terkadang kurang paham dan tidak mau tahu akan kebutuhan pasar. Sebagai contoh, sekarang ini penyakit degeneratif dan hepatitis B menjadi prioritas nasional. Prioritas meningkat seiring meningkatnya insiden penyakit tersebut di kalangan masyarakat secara nasional. Peluang ini dimanfaatkan juga oleh industri farmasi, karena sumber ‘income’ utama adalah penjualan obat, disamping membuat masyarakat menjadi kembali sehat. Jika tidak ada penelitian terkait dengan ini, alhasil perusahaan farmasi nasional akan bergantung pada pihak asing. 

Ketiga, negoisasi dengan industri masih kurang. Sehingga hasil risetnya tidak mampu di transfer ke industri. Meyakinkan pembeli, dalam hal ini industry, adalah suatu keharusan seorang peneliti. Prof. Dr. Singgit Riphat, dari Kementerian Keuangan RI, menyatakan bahwa seorang peneliti perlu membuka “kaca mata kudanya” dan melihat hal-hal lain yang sedang dibutuhkan khalayak. Bahkan seorang peneliti harus mampu ‘menjual’ hasil penelitiannya dengan bahasa marketing yang handal. Di berbagai negara maju, peneliti selalu dibawa para birokrat dalam forum kenegaraan, karena seorang peneliti lebih ahli dalam hal-hal detil yang dibutuhkan terkait kedalaman keilmuan dalam memecahkan masalah nasional. 

Optimisme kemenristekdikti terkait teknologi kemandirian bahan baku obat bukanlah tidak mungkin. Indonesia kaya akan sumber daya alam baik di darat maupun di laut, bahkan negara ini mendapat julukan salah satu negara mega-biodiversitas. Biota laut Indonesia belum banyak dimanfaatkan untuk penemuan obat, padahal negara-negara lain yang tidak memiliki laut yang cukup luas telah menemukan berbagai kandidat obat. Sebut saja Dolastin 15 merupakan obat anti kanker yang diisolasi dari organisme di perairan India, Didemnin B yang diisolasi dari Trididemnum solidum di perairan Karibia, dan Irvalec® merupakan kandidat obat untuk kanker kolon, pankreas, paru-paru, prostat dan payudara yang ditemukan oleh Perusahaan PharmaMar, Spanyol dan tahun 2016 memasuki Klinikal studi fase II. Selain itu, kekayaan herbal Indonesia yang melimpah perlu mendapat perhatian khusus dalam penemuan obat baru. Berbagai tanaman obat sebenarnya telah diteliti oleh peneliti Indonesia hanya saja penelitian tersebut dilakukan di negara lain sebagai bagian dalam mendapatkan gelar kesarjanaan. Melinjo yang notabene merupakan salah satu tanaman Indonesia telah menjadi bagian dari perhatian Japan Association of Melinjo Indonesia. Bahkan paten internasional (PCT) ekstrak melinjo telah menjadi bagian paten milik salah satu perusahaan Jepang disamping jahe jawa, melati jawa, dan teh melinjo. 

Sinergi AGCs menjadi penting dalam membangun ekonomi obat nasional. Dr. Muhammad Dimyati berharap konsep AGCs ini dapat dijalankan dengan baik. Konsep ini merupakan strategi mencapai proses optimal mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh beberapa lembaga terkait pendanaan, kemampuan sumber daya mabusia, infrastruktur penunjang riset dan pengembangan, infrastruktur produksi, tugas pokok dan fungsi lembaga dll. Kesuksesan sistem AGCs ini telah ditunjukkan Korea Selatan dalam menghasilkan seanol, yang merupakan ekstrak Ecklonia cava (rumput laut cokelat). Ekstrak seanol kaya akan polifenol dan memiliki aktivitas antioksidan sekitar 3.5 kali dari ekstrak blueberri dan 11 kali dari ekstrak anggur merah. Penemuan ini telah menghabiskan dana 35 juta dolar selama kurun waktu 14 tahun. Tetapi proses panjang tersebut tidaklah sia-sia, ekstrak seanol telah diaplikasikan dalam berbagai varian produk seperti suplemen kesehatan jantung dan otak, obat perawatan rambut, pasta gigi, minuman kesehatan, bahkan kosmeseutikal. Kerja sama yang belibatkan AGCs sangat terlihat nyata seperti publikasi berjudul “The anti-aging properties of a human placental hydrolysate combined with dieckol isolated from Ecklonia cava” dalam BMC Complement Altern Med (2015). Bahakan penemuan obat dengan konsep AGCs telah banyak dilakukan di Amerika seperti kolaborasi antara Masschusetts Institute of Technology (MIT) dengan Momenta Pharmaceutical/Carulean Pharma/Visterra dan National Institute of Health (NIH). Kolaborasi tersebut fokus pada obat terkait infeksi bakteri, virus dan kanker.

Ikuti tulisan menarik Andri Frediansyah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler