Mencari Pemimpin Ideal Buat Jakarta

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bukan hal mudah mencari pemimpin Jakarta. Selain menjadi pusat pemerintahan Jakarta juga masih memiliki situs budaya dan masyarakatnya yang heterogen.

 

PILKADA DKI Jakarta masih akan dilaksanakan tahun depan, namun euphoria politiknya sudah tercium dari sekarang. Hal itu ditandai dengan bermunculannya para BALON ( Bakal Calon ), baik dari jalur partai politik maupun jalur independen.  Bahkan bisa dikatakan para balon tersebut, sudah mulai mencari simpati masyarakat Jakarta. Lihat saja, ada yang blusukan ke pasar dengan kaos Mickey Mouse, ada yang mengungkit-ungkit keburukan lawan dan lain sebagainya. Bukan hanya balon saja yang mulai seliweran di pasar-pasar atau pusat keramaian, begitupun dengan Partai Politik. Beberapa di antaranya sudah terang-terangan mendukung salah satu balon, sebut saja NASDEM dan HANURA. Kedua partai politik ini sama-sama mendukung Basuki Tjahaya Purnama—biasa dipanggil Ahok yang dipastikan akan kembali maju memperebutkan kursi DKI-1.

Tanggal 15 April lalu, Forum Berbagi Ilmu ( FBI ) bekerjasama dengan Indoblognet menggelar diskusi dengan mengundang awak media dan netizen. Diskusi yang menghadirkan tiga nara sumber di bidangnya masing-masing ini mengusung tema sekitar Pilkada Jakarta. Adapun tema yang diangkat adalah “Ekspresi Warga Terhadap Kepemimpinan Ahok”. Yang patut di garis bawahi dalam acara ini yaitu bukan tentang pro dan kontranya tapi lebih bagaimana cara warga melihat sang Gubernur.

Pemaparan pertama oleh Airlangga Pribadi, beliau menyorot soal AMDAL Reklamasi. Dari paparannya Airlangga menyimpulkan bahwa Partai Politik harus bersikap tegas dalam memilih pemimpin DKI yang akan datang. Pembicara berikutnya Eddy Soeparno Sekjen PAN, beliau mengatakan bahwa PAN memiliki persyaratan khusus dalam memilih calon Gubernur DKI Jakarta. PAN lebih mengedepankan program-program yang akan diusung oleh para balon. PAN juga tidak melihat dari sisi sosok individunya tapi lebih pada program kerja.

Secara individu, Eddy Soeparno mengakui kinerja Ahok selama  jadi gubernur Jakarta. Banyak perubahan pembangunan di setiap sudut kota Jakarta, terutama dalam hal birokrasi. Menurutnya dalam beberapa tahun memimpin, masyarakat Jakarta juga sudah bisa melihat dan merasakan sendiri pencapaian Ahok. Sedangkan dalam hal birokrasi Ahok telah menyelenggarakan clear egoverment. Para bawahan mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan sampai tingkat atas digenjot kinerjanya dan yang pasti bebas korupsi. 

Dalam kesempatan ini, Eddy Soeparno juga tidak menyangkal soal gaya bicara Ahok yang cenderung kasar. Dua kasus yang  tengah dihadapi oleh Ahok menjadi bukti bahwa sebenarnya taat pada aturan saja tidak cukup. Masih ada lagi hal-hal yang lebih krusial agar kasus Sumber Waras dan Reklamasi Pantai bisa diselesaikan. Secara tidak langsung Ahok sudah mempersulit dirinya sendiri. Kepungan peraturan dan undang-undang lama tidak ditelaah lebih dalam. Ahok lupa bahwa daerah yang dipimpinnya terdiri dari masyarakat heterogen. Jika sebagian orang masih membandingkan dengan gaya kepemimpinan Ali Sadikin, rasanya sudah nggak jaman. Saat ini  dunia lebih mengedepankan tindakan persuasive ketimbang adu jotos. Ini bukan soal karakter tapi sesuatu yang bisa dilakukan oleh semua orang apalagi pemimpin.  Setiap pemimpin memang tidak harus sama, akan tetapi peraturan dan hati nurani lah yang membuatnya jadi sama.

Jakarta memang butuh pemimpin tegas untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Di samping Peraturan dan Undang-undang, pemahaman akan sebuah kebijakan juga diperlukan. Misalnya saja, masalah penggusuran Kampung Luar Batang. Ridwan Saidi, Budayawan Betawi mengatakan bahwa Kampung Luar Batang itu merupakan situs Budaya Betawi. Lambat laun jika semua situs Budaya Betawi dimusnahkan, apa yang bisa dibanggakan oleh Betawi ? 

Lebih jauh Tokoh Betawi yang sudah menelurkan ratusan buku budaya itu mengatakan, bahwa situs Budaya Betawi tidak bisa dibangun kembali. Sedikit kisah tentang tanah Kampung Luar Batang, pada tahun 1738 datang seseorang dari Yaman bernama Said Husain bin Abu Bakar Alaysus membeli tanah Luar Batang. Tahun 1739 Said Husain berniat untuk membangun Mesjid di tanah tersebut. SIngkat cerita berdirilah Mesjid di Kampung Luar Batang. Said Husain meninggal pada tahun 1756, sampai meninggal beliau tidak memiliki keturunan. Kesimpulan dari kisah ini ternyata Kampung Luar Batang itu masih dimiliki oleh Said Husein, dan tidak diwariskan pada siapapun.

Oleh karenanya Kampung Luar Batang menjadi pusat bertemunya dua budaya, yaitu Budaya Betawi dan China.  Itu baru dari segi budaya dan peradaban, masih ada lagi hal krusial lainnya. Bahkan ada satu masalah yang sangat penting luput dari pemikiran Ahok. Masalah itu adalah HANKAMRATA ( Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta ). Ridwan Saidi menyayangkan bahwa masalah keamanan Kota Jakarta jadi dikesampingkan. Bukankah pertahanan Ibu Kota harus selalu dijaga dan lebih utama ?

Sepatutnya pemimpin ideal bagi Jakarta selain memiliki visi dan misi memajukan dan mensejahterakan ada baiknya juga memikirkan peradaban. Bukankah peradaban itu merupakan warisan bagi anak cucu di masa datang ? Jika peradaban Betawi sudah punah apalagi yang akan ditinggalkan pada generasi mendatang ? Pemimpin tidak  selalu melakukan perubahan tapi juga penataan. Dengan menghargai sebuah peradaban dan situs-situs budaya berarti menghargai sejarah bangsa atau daerah itu sendiri. Bukankah kejayaan bangsa atau daerah terlahir dari budaya masa lalu ? Budaya bisa juga dikatakan symbol dari kejayaan suatu bangsa atau daerah. Sedangkan Jakarta bukan lahan bisnis yang bisa dihitung untung ruginya.

Pemimpin Jakarta boleh dipegang oleh siapapun, lintas batas serta pengetahuan. Akan tetapi sebelum masuk atau duduk di dalamnya peganglah etika. Sebenarnya ini simple saja, layaknya seorang tamu yang berkunjung ke rumah orang bukankah harus memperkenalkan diri dulu atau memberi salam. Memang tolok ukur ini sangat sepele, tapi ini Indonesia. Bangsa yang memiliki jiwa sosial dengan akar budaya tinggi. Eddy Soeparno sendiri menyadari telah terjadi kekliruan dalam hal perlakuan terhadap masyarakat Jakarta yang rumahnya tergusur. Ada kekerasan di situ, ada ketidak adilan di situ. Dari kacamata seorang politikus, Eddy Soeparno menilai, apakah figure Ahok masih bisa dipertahankan untuk memimpin Jakarta.

Perlu diketahui, saat ini PAN sedang menggodok balon-balon yang akan dimajukan pada DKI-1 nanti. Melihat dan mendengar berbagai aspirasi masyarakat Jakarta, PAN akan menyeleksi secara ketat balon-balon tersebut. Pernyataan ini didukung pula oleh Airlangga Pribadi selaku pengamat politik agar menyisipkan kriteria pemimpin Jakarta dengan dua hal. Yang pertama peduli pada situs-situs budaya dalam hal ini Betawi dan kedua perhati pada lingkungan Jakarta. Nah, kita lihat saja nanti siapakah calon yang akan diusung oleh PAN untuk memimpin DKI Jakarta 5 tahun ke depan. @etybudiharjo

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ety Budiharjo

Suka menulis terutama soal humaniora dan branding. Softselling study and premier blog...

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua