x

Iklan

Irfantoni Listiyawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

KH.Hasyim Asyari dalam Kenangan : Resolusi Jihad

Hari ini enam puluh sembilan tahun silam, 25 Juli 1947 KH.Hasyim Asyari telah menghadap Sang Ilahi. Namun api semangat petuahnya terus hidup hingga kini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hari ini, enam puluh sembilan tahun silam tepatnya pada 25 Juli 1947 warga Indonesia umumnya dan warga Nahdhiyin khususnya kehilangan salah satu tokoh berpengaruh. KH. Hasyim Asyari telah berpulang kehadirat ilahi. Tak hanya sebagai salah satu tokoh sentral dalam bidang keagamaan, KH. Hasyim Asyari yang akrab disapa dengan gelar Hadratussyaikh juga merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dari keluarga Hasyim Asyari pula lahir cendekiawan dan generasi cemerlang setelahnya yang juga meneruskan perjuangan beliau, Wahid Hasyim hingga Abdurrahman Wahid salah satu buktinya. Kelahiran organisasi keagamaan Islam terbesar di nusantara ini Nahdhatul Ulama (NU) adalah hasil nyata perjuangan beliau beserta rekannya dalam usahanya memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara yang selaras dengan keagamaan. Sepak terjang NU sebagai organisasi keagamaan besar di Indonesia tidaklah sedikit, dari bidang keagamaan hingga partisipasinya dalam menyokong perjuangan merebut kemerdekaan. Resolusi Jihad adalah salah satu buah pemikiran Sang Hadratussyaikh bersama para ulama NU kala itu dalam usahanya meraih kemerdekaan.

Usaha NU dalam Mencapai Kemerdekaan melalui Jalur Politik

Sebagaimana dikemukakan oleh Andree Fielard dalam NU vis-a-vis Negara : Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, keterlibatan NU sebagai organisasi keagamaan dalam menentukan garis politik melawan penjajah Belanda menjelang Perang Dunia II terjadi ketika NU bersama organisasi Islam lainnya membentuk sebuah konfederasi. Konfederasi organisasi Islam tersebut selanjutnya dikenal dengan Majlis Islam A’laa Indonesia (MIAI) pada tahun 1937. Saat Jepang menduduki Indonesia pada Februari 1942 MIAI dibubarkan dan kemudian digantikan oleh Majlis Sjuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang siap membantu segala kepentingan Jepang.

Pada tahun 1942 pula Jepang yang bertindak sewenang-wenang mulai mendapat reaksi keras dari para ulama, termasuk KH. Hasyim Asyari. Adapun tindakan sewenang-wenang tersebut adalah penghormatan terhadap kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan (Sikerei). Atas reaksinya, KH. Hasyim Asyari kemudian dijebloskan ke penjara pada tahun yang sama selama beberapa bulan. Atas tindakan ini pihak Jepang meminta maaf kepada masyarakat muslim, dan memberikan status terhormat kepada para ulama. Dengan demikian terciptalah kerjasama antara NU dengan Jepang.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Baru pada tahun 1944, KH.Hasyim Asyari diangkat menjadi ketua Shumubu atau Kantor Urusan Agama bentukan Jepang. Hal ini membuat NU mulai masuk dalam urusan pemerintahan untuk pertama kalinya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh NU dalam upayanya ikut berpartisipasi mencapai kemerdekaan Indonesia. Di tahun ini pula putra KH.Hasyim Asyari, Wahid Hasyim berhasil membujuk Jepang untuk memberikan latihan militer bagi para santri dan membentuk barisan pertahanan. Barisan pertahanan tersebut kemudian dikenal dengan Hizbullah dan Sabilillah. Sementara kalangan yang netral agama yang membentuk barisan pertahanan tergabung dalam PETA yang telah terbentuk tahun sebelumnya, September 1943. Barisan Hizbullah dan Sabilillah inilah yang nantinya ikut bertempur dalam laga pertempuran di Surabaya.

Resolusi Jihad sebagai Usaha Menmpertahankan Kemerdekaan

Pasukan Inggris mendarat di Jawa sejak September 1945 sebagai sekutu Belanda dalam usahanya menanamkan kembali kekuasaannya di Hindia Belanda. Sebagian kota besar telah jatuh ke tangan mereka seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Sasaran selanjutnya adalah kota Surabaya. Mendengar kabar tak enak ini, para ulama NU berkumpul pada tanggal 22 Oktober 1945 dan menyatakan Jihadnya melawan koalisi Inggris-Belanda. Para ulama tersebut berkumpul di Jalan Bubutan VI Nomor 2, Surabaya. Sebelumnya, pada tanggal 17 September 1945 KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa jihad yang isinya hampir sama dengan Resolusi Jihad. Adapun isinya adalah mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945, dan Indonesia sebagai pemerintah yang sah harus dibela dan Jihad melawan Belanda merupakan kewajiban bagi umat Islam. Naskah lengkap resolusi Jihad tersebut dimuat dalam Aula, No.7, Tahun II.

Setelah memanggil para ulama se-Jawa dan Madura di Surabaya tersebut, teks resolusi Jihad dikirim kepada Presiden Soekarno dan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jenderal Soedirman. Sementara di Surabaya, KH.Hasyim Asyari mempercayakan pelaksanaan Resolusi Jihad kepada Bung Tomo. Hal ini dikarenakan Bung Tomo memiliki kedekatan dan hubungan khusus dengan kelompok Islam. Kedekatan inilah yang membawanya dekat pula dengan KH.Hasyim Asyari.  Sejak Jepang menduduki Indonesia, Bung Tomo sering sowan ke KH.Hasyim Asyari guna mendapatkan kekuatan hati dan keteguhan spiritual dalam masa perang.

Konon, dua hari sebelum insiden Hotel Yamato tanggal 19 September 1945, Bung Tomo mendatangi kediaman KH.Hasyim Asyari di Tebu Ireng, Jombang. KH.Hasyim Asyari kemudian memberinya bekal secarik kertas berisi fatwa jihad dalam huruf Arab Pegon. Selain itu KH.Hasyim Asyari sendiri membantu pembiayaan pasukan Hizbullah yang akan bertempur dibawah komando Bung Tomo.

Kedekatan Bung Tomo serta Jenderal Soedirman dengan KH.Hasyim Asyari berlangsung hingga menjelang akhir hayat sang kiai pada tanggal 25 Juli 1947. Sebelum Beliau wafat, Bung Tomo dan Jenderal Soedirman mengirim utusan melaporkan perkembangan soal Agresi Militer Belanda I ke Tebu Ireng. Utusan tersebut memberi laporan bertepatan dengan hari ketujuh Ramadhan seusai Tarawih. Selepas Tarawih, biasanya KH.Hasyim Asyari memberikan ceramah di masjid. Ketika utusan tersebut tiba, Beliau menghentikan ceramahnya dan meninggalkan masjid ke rumahnya. Letak rumah Beliau bersebelahan dengan masjid tersebut.

Sesampai dirumah, Sang Kiai ambruk dalam kondisi lunglai. Dalam kondisi demikian tak hentinya Hadratussyaikh berseru “Masya Allah...”. Tak lama setelah itu, Beliau menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada hari ini enam puluh sembilan tahun silam. Sang Kiai telah menghadap sang ilahi, namun api semangat perjuangan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara nan selaras dengan kehidupan agama yang Ia anjurkan senantiasa hidup dalam sanubari bangsa ini.

 

Sumber Tulisan :

Fielard, Andree. 1999. NU vis-a-vis Negara : Pencarian Isi, Bentuk dan Makna. Yogyakarta : LKIS

Tim Penyusun. 2016. Bung Tomo :Soerabaja di Tahun 45 (Seri Buku Tempo). Jakarta : Pnerbit KPG

 

Ikuti tulisan menarik Irfantoni Listiyawan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan