x

Iklan

Christa Elim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menggapai Azam di Negeri Kanguru

Fidelis Nitti, pemburu beasiswa di bidang Kimia. Gelar masternya sudah diperoleh di University of Melbourne. Saat ini tengah menyelesaikan studi Doktornya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hidup Fidelis Nitti dipenuhi keputusan nekat. Bermodalkan nilai TOEFL 470, dia nekat melamar beasiswa Magister dan Doktor untuk studi Analytical and Environmental Chemistry di The University of Melbourne, Australia pada 2012. Padahal, angka minimal yang dibutuhkan di universitas itu sebesar 500. Selama dua tahun, dia mengejar kekurangan skor dengan mengikuti kursus bahasa Inggris. “Akhirnya saya bisa mencapai skor 523 untuk mendaftar beasiswa,” kata Fidel, akhir Juli lalu.

Fidel lahir di Tunbaun, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, 4 Juli 1987. Ia menghabiskan masa kecil di Kupang. Sarmolina Nitti, nenek Fidel yang mengasuhnya sejak kecil. Sarmolina pula yang membiayai seluruh pendidikannya.

Semasa bersekolah di SMPK Frater, Kupang, Fidel bukan siswa menonjol. Dia bahkan tak masuk peringkat 10 besar di kelas. Ia dikenal sebagai lelaki pendiam. “Dulu dia sama sekali tidak diperhitungkan. Banyak teman lain lebih unggul darinya,” ujar Louis Fernandez, teman sekelasnya di SMPK Frater Kupang.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Belakangan, kecintaan pada ilmu kimia tumbuh sejak belajar di SMA Giovanni, Kupang. “Kimia itu lebih menarik dari fisika,” ujarnya. Rupanya, inilah yang bakal mengubah jalan hidupnya. Dia menekuni ilmu ini dengan serius dan memutuskan kuliah S1 di Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana. Fidel berhasil menyelesaikan kuliahnya tepat waktu selama empat tahun dengan predikat Summa Cum Laude.

Pada 2008, Fidel melamar posisi dosen di almamaternya. Lamaran Fidel diterima, namun belum cukup hanya dengan ijazah strata satu. Dia harus segera mendapatkan gelar master. Dia melirik beasiswa di Universitas Gadjah Mada. Namun, proposal beasiswanya mendapat penolakan. Fidel tak patah arang, dia justru nekat pengen kuliah di luar negeri. “Ya itu, dengan modal bahasa Inggris pas-pasan,” kata Fidel.

Januari 2012, jawaban atas perjuangan Fidel pun tiba. Lamaran beasiswa S2 di Universitas Melbourne Australia diberikan oleh Australian Development Scholarship. Fidel berangkat ke Melbourne bulan Juni 2012, Australia untuk memulai studi Paska Sarjana di The University of Melbourne, Australia School of Chemistry. Tak hanya bahagia tapi juga kecemasan menderanya. “Bahasa Inggris saya nol besar,” jelasnya.

Ternyata kecemasan Fidel menjadi kenyataan. Materi kuliah Advanced Physical Organic Chemistry yang diberikan sang dosen, Jonathan White tidak dipahaminya sama sekali. Untuk mengantisipasi kendala bahasa, Fidel merekam seluruh percakapan selama di kelas. Sampai di rumah, Fidel baru menyadari semua isi rekaman pembicaraan White berkaitan dengan rumus-rumus kimia yang ditulisnya di papan tulis. “Jadi, kalaupun saya dengar lagi, saya tetap tidak akan paham,” kata Fidel.

Dia menghapus rekaman suara itu dari handphone. Selanjutnya, dia meminjam buku referensi dan jurnal pendukung di perpustakaan untuk mengejar ketertinggalan. Sempat mengajukan tutorial dari mahasiswa S3 bimbingan White. Jawaban mencengangkan terlontar dari bibir White. “Cukup ikuti saja perkuliahan saya, Anda akan baik-baik saja. Saya pikir Anda tidak butuh tutorial,” ujarnya menirukan perkataan White.

Sandungan lain menghadang. Empat bulan setelah memulai studi, Fidel divonis menderita usus buntu. Dia harus menjalani operasi pada Oktober 2012 dan wajib beristirahat sebulan penuh untuk pemulihan. Sementara, saat itu ujian semester tengah berlangsung. Beruntung, ijin istirahat di rumah diberikan universitas. Memanfaatkan satu bulan istirahat di rumah, Fidel mengejar ketertinggalan dengan belajar dan membaca.

Tepat dua tahun, Fidel menyelesaikan studi magisternya. Gelar master sudah di tangan. Tapi, itu belum cukup memuaskannya. Kembali dia menelusuri deretan lowongan beasiswa S3. Ada kendala, jika ingin kembali melanjutkan studi di Australia, minimal harus dua tahun setelah pendidikan sebelumnya.

Dia mencari pemberi beasiswa lain. Akhirnya, ia mendapat beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk studi doktor di The University of Melbourne, Australia School of Chemistry.

Saya sempat menemuinya di Bogor sebelum keberangkatannya ke Australia. Kala itu, dia sedang menjalani program magang di Institut Pertanian Bogor. Di sela-sela pembicaraan kami, dia sempat menasehati saya. “Beasiswa di luar itu sangat banyak, apalagi untuk kita yang dari NTT. Ayo sekolah lagi,” katanya. 

Saya bukan orang pertama yang dimotivasi untuk sekolah lagi. Teman kami, Louis Fernandez mengalami hal serupa. “Fidel itu orang yang tidak mudah lelah untuk memotivasi temannya,” kata Louis lewat pesan singkat. Tidak hanya memotivasi, dia juga berbagi trik mendapatkan beasiswa.

Fidelis Nitti sedang melakukan eksperimen di laboratorium Kimia, University of Melbourne

Saat ini, Fidel tengah menempuh studi doktor yang dimulai sejak Mei 2016. Ia dan timnya sedang mengembangkan metode Passive Sampling untuk monitoring dan menentukan kadar ion logam pencemar dalam air. “Kalau sekarang mau monitor kualitas air danau selama 1 bulan. Kami harus ke sana setiap hari mengambil air untuk dibawa dan dianalisis di lab. Sekarang kami sedang membuat alat yang bisa langsung ditaruh di danau selama 1 bulan,” ujarnya.

Pagi hampir menjelang saat dia mengakhiri pembicaraan kami. “Biar saja saya belajar  secukupnya lalu pulang ke Timor,” ujarnya. Dia ingin kembali ke Kupang dan berkontribusi untuk kemajuan pendidikan di Universitas Nusa Cendana.

Ikuti tulisan menarik Christa Elim lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler