Mukidi Efek vs Jokowi Efek

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kehadiran humor Mukidi yang menggembirakan seolah menimbulkan Mukdi Efek yang mampu mengimbangi Jokowi efek.

Ah, Mukidi memang layak dapat perhatian. Lepas dia tokoh rekaan sehingga tak bisa jadi cagub DKI atau maju dalam Pilpres 2019 nanti, Mukidi adalah Mukidi, yang menghibur, yang menggelitik, dan membuat tertawa terbahak-bahak. Mungkin, kehadirannya saat ini sangat pas dengan situasi dan kondisi "stres" yang ada, sehingga para elit pemerintahan dan politik juga larut dalam ke-Mukidi-an. 

Karena penasaran dengan Mukidi efek yang begitu menggelora, sehingga membuat hape banjir kiriman kisah Mukidi, sayang iseng-iseng mengetik kata mukidi di twitter. Hasilnya, Mukidi memang cocok disebut menimbulkan Mukidi efek. Saya yakin, banyak nama keren yang ikut ber-mukidi-ria.

Setidaknya ada tiga nama yang cukup dikenal khalayak yang komen soal mukidi, Lukman Hakim Syaifuddin menteri agama, Pramono Anung sekretaris kabinet, ada juga Jenderal Moeldoko yang tampaknya juga menikmati Mukidi efek. Saya penasaran, apakah Presiden Jokowi dan Prabowo, SBY, Ahok juga terkena Mukidi efek, ternyata tak ketemu ada tweet dari mereka.

Politikus Roy Suryo yang ikut men-tweet menilai fenomena Mukidi ini ada yang memunculkan untuk menutupi adanya kasus besar. Sayangnya Pak Politikus ini tak menyebut kasus apa itu. Dia mungkin tak tahu saja, bermukidi ria ini sudah lama. Masyarakat sih tahunya enjoy saja tak usah suudzon begitu, tak baik nanti cepat tua.

Memang, banyak yang menilai munculnya humor ala Mukidi yang jadi viral di medos ini, dari berbagai macam sudut, ya seperti Pak Politikus itu. Saya sendiri menilai dari hal yang paling sederhana, masyarakat butuh hiburan dan Mukidi memberikan humor segar yang menghibur, masyarakat butuh sesuatu yang ditertawakan, Mukidi menyediakan dirinya untuk ditertawakan.

Karena itulah Mukidi mampu memberikan efek yang menggembirakan, sesuatu yang dibutuhkan di tengah Jokowi efek yang pada beberapa kalangan membuat stres. Jokowi Lovers tak perlu tersinggung, akhir-akhir ini beberapa kebijakan Jokowi memang bisa menimbulkan "stres" pada beberapa pihak. Misalnya saja soal kewarganegaraan Archandra Tahar yang dicopot dari jabatan menteri. 

Ya toh, ada tarik ulur kepentingan; ada yang ingin cepat ada yang menghambat. Ada yang berlagak serem dengan dalil hukum yang menakutkan, ada yang tetap ceria meski hatinya mungkin menangis dan gundah gulana.

Nah, humor Mukidi ini mungkin bisa menghibur....

MUKIDI PLESIR KE TANAH MELAYU

Mukidi ke Tanjung Pinang naik pesawat, sudah nahan kebelet dari Jakarta. Sampai di sana langsung buru-buru nyari toilet. Pas mau masuk, eh dihalangi oleh penjaganya dengan *berpantun*.

"Wet et et et...tunggu, tunggu," kata penjaganya.

     Celana bukan sembarang celana

     Celana panjang baju berdasi

     Tak peduli awak dari mana

     Masuk toilet harus permisi

Beuuuuh. Lalu Mukidi balas

     Emas perak adalah harta

     Mohon dijaga sepenuh hati

     Saya menahan berak dari Jakarta

     Tolong lah pinjam toilet barang sekali

Penjaganya bilang, "Wh, awak ni laaah...."

     Zaitun bukan sembarang zaitun 

     Zaitun bulat seperti semangka

     Pandai kali awak berpantun

     Bolehlah pakai toilet sesukanya

Mukidi bergegas menuju toilet. Baru beberapa langkah, Mukidi balik lagi ke penjaganya.

     Zaitun bukan sembarang zaitun

     Pulau kembang jauh di sana

     Lama sekali awak ngajak berpantun

     Saya sudah berak di celana

Kapok kon.......

........

Humor Mukidi memang cespleng. Bagi yang terimbas kebijakan Presiden Jokowi dalam hal tax amnesty, humor Mukidi juga bisa jadi penghibur hati. Sebagaimana diketahui, kebijakan tax amnesty yang digulirkan belum berjalan menggembirakan. Para pemilik uang dan harta di luar negeri yang diharapan mengikuti program ini, ternyata belum juga berbondong-bondong datang.

Dari target Rp 165 triliun pemasukan yang ditargetkan dari program ini, baru tercapai Rp 1,94 triliun. Dana yang dideklarasikan juga didominasi dari dalam negeri mencapai Rp 50,8 triliun. Sementara yang dari luar, yang sebelumnya disebut ada potensi sekitar Rp 11 ribu triliun itu, justru baru dideklarasi Rp 6,94 triliun. Pencapaian ini juga diwarnai keluhan wajib pajak UMKM yang merasa ditekan oleh petugas pajak.

Ya memang aneh, tax amnesty yang digulirkan agar dana yang ngumpet di luar negeri dan tak bayar pajak itu mau pulang untuk membangun negeri, tapi yang diobok-obok kok justru UMKM di dalam negeri. Itu pun petugas pajak ternyata juga belum paham benar dengan sasaran dan tujuan tax amnesty. Ya mungkin masih proses. 

Nah, humor Mukidi ini mungkin bisa sedikit menghibur.

BU MARKONAH

Cak Mukidi ke pasar, mau kulineran rujak cingur yang penjualnya ibu-ibu asal Madura bertubuh montok bernama Buk Markonah.

"Buk, rujak satu, berapa?" tanya Cak Mukidi.

"Sepoloh rebu...Cak...," kata Buk Markonah.

Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000. Markonah bilang, Cak...tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri di sini ya," kata Markonah sambil menunjukkan belahan dada atas.

Tanpa ragu-ragu, Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh uang segala macam di sana, pikirnya. "Nggak ada...Buk," kata Cak Mukidi.

Bu Markonah kasih instruksi, "Lebih dalam lagi, terus, terus. Ke kanan, ke kiri."

Cak Mukidi, "Nggak ada... Buk."

"Ya sudah," kata Buk Markonah.

"Lah terus mana kembalian saya????" tanya Cak Mukidi Bingung.

Buk Markonah dengan enteng berkata,"Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kiro goh-rogoh nang jero kutangku gratis."

Mukidi hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar omongan Buk Markonah. 

.........

Ah, Mukidi memang datang di waktu yang tepat, bisa menjadi pelipur hati, yang gundah gulana paska reshuffle jilid II, yang diantaranya diwarnai munculnya gagasan full days school. Ini gagasan bukan main-main, sangat serius, dan mengundang banyak tanya dan protes. Lha bagaimana tidak, sekolah sampai hampir Maghrib, madrasah dan tempat belajar ngaji di mushola dan masjid juga bisa gulung tikar.

Tak hanya itu, paska reshuffle jilid II, urusan harga daging ternyata juga tak kunjung turun. Ya, memang katanya sih masih proses. Jadi, memang masyarakat memang butuh hiburan, termasuk juga yang kini sibuk ngurus E-KTP yang katanya juga ada sampai nginep di kantor kecamatan, daripada bolak-balik tak kunjung selesai.

Lagi-lagi ada humor Mukidi yang bisa membuat tertawa, jadi pelipur rasa penat dan kecewa, seperti cerita ini.

BIKIN KONDOM

Di ruang operasi rumah sakit, seorang dokter bedah melihat Mukidi yang akan dioperasi kelihatan gelisah. Untuk menenangkannya, Mukidi diajak bercanda.

Dokter, "Bapak tahu cara membuat sarung tangan karet yang sedang saya pakai ini?"

Mukidi, "Tidak, Dok....," jawab Mukidi sambil memberi isyarat dengan tangannya. 

Dokter, "Begini, Pak. Karet mentah direbus sampai meleleh, lalu pegawai pabrik mencelupkan tangan ke dalam cairan itu. Setelah itu tangan segera diangkat untuk diangin-anginkan. Tak lama kemudian jadilah sarung tangan seperti ini."

Mukidi tersenyum mendengar penjelasan sang dokter. Beberapa saat kemudian Mukidi tertawa terpingkal-pingkal. Dokter heran dan bertanya.

Dokter, "Mengapa anda tertawa seperti itu?"

Mukidi, "Dengar cerita dokter tadi, saya lalu membayangkan bagaimana cara membuat kondom."

Dokter,"....." (bengong).

..........

Jadi, Mukidi memang tepat jadi viral di media sosial. Dia ada di saat yang tepat. Namanya hidup memang bisa berubah sewaktu-waktu. Kalau dulu kehadiran Jokowi di perpolitikan nasional mampu mengahadirkan Jokowi efek yang begitu hebat, kini agaknya ada pendatang baru yang layak diperhitungkan, yaitu Mukidi yang juga berhasil menghadirkan Mukidi efek.

Ada yang berseloroh, seandainya Pilpres 2019 dimajukan hari ini, dan capres yang tampil hanya dua yaitu Mukidi dan Jokowi, kira-kira yang menang kemungkinan besar Mukidi. Jokowi Lovers tak perlu marah. Bercanda itu sehat, para politikus itu juga perlu bercanda, jangan curiga melulu kaya Pak Roy Suryo. Enjoy saja, nikmati Mukidi apa adanya.

Kembali ke judul tulisan ini Mukadi Efek vs Jokowi Efek, hasil kedua efek itu ternyata hebat. Presiden Jokowi kan punya slogan Kerja...Kerja...Kerja....Sementara semboyan Mukidi Gembira...Gembira...Gembira. Kalau digabung jadi bagus: Kerja....Kerja...Kerja...dengan Gembira...Gembira...Gembira.

Jadi memang saling melengkapi. Jangan-jangan Presiden Jokowi juga ikut menikmati humor Mukidi dan dan ikut ber-mukidi-ria. Presiden kan pegiat medsos. Tak apa toh, humor itu kan bisa dinikmati semua orang tak terkecuali Presiden Jokowi. Tapi mana ya yang kira-kira bisa membuat presiden kita tertawa terbahak-bahak, seperti saat mendengar joke Parto saat diundang ke Istana beberapa waktu lalu.

 

 

Salam Mukidi-ria.

 

Terima kasih kepada Pak Soetantyo Moechlas yang telah membagi kegembiraan dengan kisah-kisah Mukidi.

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
mohammad mustain

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Ormas Intoleran Pasca Ahok Kalah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua