x

Iklan

Anastasia Satriyo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

PTSD dan Cerita Keluarga Pahlawan

Refleksi dari pengalaman keluarga pahlawan dan kaitannya dengan kesehatan mental diri, keluarga sampai ke kualitas generasi penerus bangsa

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada tanggal 10 November, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan yang dilatarbelakangi oleh peristiwa pertempuran di Surabaya.

Sebagian besar dari kita yang lahir dan besar di Indonesia minimal pernah mempelajari tentang peristiwa ini di pelajaran sejarah-terlepas masih ingat tau tidak-.

Setiap tahun pada hari ini, pahlawan kemerdekaan yang seringkali didefinisikan secara sempit hanya pada pahlawan pejuang kemerdekaan dibahas kembali. Para veteran diwawancara media dan mengikuti upacara. Kebanyakan berita tentang veteran antara lain tentang kondisi kehidupan ekonomi veteran yang tidak sejahtera secara ekonomi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Definisi “pahlawan” dikaitkan dengan perilaku heroik di medan perang yang memang dilakukan oleh para leluhur, pendahulu kita. Di dalamnya ada orangtua, kakek-nenek, atau kakek dan nenek buyut kita. Salah satunya adalah Eyang Kakung saya.

Di balik kehebatan dan keberanian para tentara di masa lalu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menghadapi penjajah, kita tidak pernah tahu bagaimana para tentara menghadapi kehidupannya pasca perang. Terutama bagaimana mengelola dan mengolah pengalaman, emosi dan memori mencekam yang dialami selama masa perang.

Menurut cerita Eyang Putri, kehidupan di masa perang kemerdekaan sangat tidak menentu. Rumah yang ditinggali sewaktu-waktu bisa luluh lantak rata dengan tanah di keesokan hari. Persediaan makanan sangat terbatas. Tapi yang lebih mencekam adalah perasaan takut dan was-was sewaktu-waktu akan menghadapi tentara Belanda maupun kekhawatiran akan hilangnya nyawa. Baik tentara maupun keluarga tentara selalu dibayangi kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan.

“Apakah besok masih bisa bertemu lagi?

“Apakah besok masih bisa berkumpul bersama-sama lagi?”

Ketakutan akan hari esok dan masa depan menjadi sangat riil karena bahaya dan kematian benar-benar di depan mata.

Apalagi eyang kakung sebagai tentara, pernah mengalami peristiwa hidup dan mati. Saat itu ia bersembunyi di bawah gorong-gorong, sambil berusaha melindungi diri. Sementara di atas gorong-gorong ada tentara Belanda membawa senapan sedang mencari-carinya.

Pengalaman yang hanya beberapa menit, tapi membekas seumur hidup.

Bukan hanya setelah kejadian, tapi berpuluh-puluh tahun kemudian sampai ia pension dan menua pengalaman ini masih sangat membekas.

Bukan hanya pengalamannya, tapi perasaan takut, khawatir dan cemas akan keselamatan (diri dan keluarga) serta kekhawatiran menghadapi hari esok.

Kehidupan Diri dan Keluarga Pasca Perang

Setelah perang kemerdekaan selesai, eyang kakung kembali bekerja di kantor tentara AD serta menjalani peran sebagai suami maupun bapak dari 9 anak. Setelah saya beranjak dewasa dan kemudian mempelajari ilmu psikologi, saya mengevaluasi dan merefleksikan adanya ketakutan dan kecemasan yang sangat tinggi pada diri Eyang. Jika orang lain dihadapkan pada situasi tidak menentu dan berpikir tentang kemungkinan positifnya maka eyang adalah orang yang akan berpikir kemungkinan terburuk.

Jika ia atau anaknya ada yang akan mencoba suatu hal baru, maka yang ia pikirkan pertama kali adalah “Bagaimana kalau gagal atau tidak berhasil?”

Jika ada anaknya (baca: Ayah saya) yang ingin mencoba aktivitas olahraga beradrenalin tinggi, yang ia pikirkan pertama kali adalah “Bagaimana kalau mati?”

Bahkan setiap kali melihat berita kecelakaan di televisi, terutama kecelakaan motor pada saat anaknya menggunakan motor Eyang akan bergegas mendekati layar televisi untuk melihat apakah plat nomornya sama dengan plat nomor kendaraan anaknya.

Eyang mungkin tak paham apa itu Gangguan Kecemasan tapi ia tahu dan sadar kalau ia selalu was-was. Hal ini terlihat dari pilihan kata yang ia gunakan saat berkomunikasi dengan anak, saat mengomentari kejadian tertentu maupun dalam perilaku cemas sehari-hari.

Seringkali bukan hanya cemas yang tertransmisi dalam interaksi sehari-hari, tapi juga rasa takut yang sangat besar.

Setelah belajar ilmu psikologi dan kebetulan pada saat menempuh pendidikan S1 Psikologi banyak kesempatan untuk merefleksikan ilmu psikologi dengan pengalaman hidup pribadi. Saya mulai berhipotesa, apakah mungkin Eyang Kakung mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) sebagai dampak dari pernah berada dalam kondisi tertekan dan mengancam selama menjadi tentara pejuang kemerdekaan?

Apakah ketakutan dan kecemasan yang ia alami karena PTSD yang tidak tertangani ini yang memengaruhi cara ia mengasuh (parenting) anak-anaknya? Sehingga banyak ketakutan dan kecemasan yang dipakai untuk berkomunikasi dengan anak, serta otoriter dengan tujuan yang sebenarnya ingin memastikan keselamatan anak.

Hipotesa atau dugaan ini tidak bisa dibuktikan karena saat ini Eyang Kakung sudah almarhum. Namun jejak-jejak dari PTSD, minimal ketakutan dan kecemasan yang tinggi ini pada Ayah saya dan kemudian juga ada pada saya. Ayah saya hanyalah satu dari 9 anak Eyang Kakung dan mungkin saja setiap anak memiliki mekanisme yang berbeda. Saya juga merasa tidak berhak untuk berbicara atas nama yang lain, tapi bersama Ayah, saya sudah cukup sering mendiskusikan ini.

Dampak dari PTSD yang tidak terolah dan tertangani dengan baik à memengaruhi cara pengasuhan à memengaruhi cara anak memandang dunia dan menginterpretasi pengalaman-pengalaman yang ia alami. Ketika Ayah berkembang dari anak-anak kemudian dewasa dan memiliki anak (baca: saya), ketakutan dan kecemasan ini tertransmisi secara genetik maupun lewat pembelajaran sehari-hari (social learning).

Ketika trauma sudah terjadi pada dua atau lebih generasi, maka kita tidak lagi menyebutnya sebagai PTSD tetapi Intergenerational atau Tansgenerational Trauma.

"The phenomenon of children of traumatized parents being affected directly or indirectly by their parents’ post-traumatic symptoms has been described by some authors as secondary traumatisation (in reference to the second generation). To include the third generation, as well, the term intergenerational transmission of trauma was introduced."~Selma Fraiberg (2015) 

Byron Egeland, Inge Bretherton, and Daniel Schecter (2009), child trauma researcher have empirically identified psychological mechanisms that favor intergenerational transmission, including dissociation in the context of attachment, and "communication" of prior traumatic experience as an effect of parental efforts to maintain self-regulation in the context of post-traumatic stress disorder and related alterations in social cognitive processes (Dikutip dari Wikipedia)

Pada kisah-kisah heroik peperangan yang ditampilkan di film, cerita maupun sebagai usaha propaganda politik jarang diceritakan sisi lain dari dampak perang. Dampak yang tak hanya memengaruhi satu orang, tapi memengaruhi pula kesehatan mental dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

“There is no culture is free from trauma”, demikian penjelasan Kim Barthel, salah satu guru saya di bidang attachment dan trauma healing

Jika sudah terjadi beberapa generasi, trauma ini sudah built in sebagai kondisi genetik yang memengaruhi cara otak kita mempersepsi kejadian, tekanan darah, cara tubuh merespon stress dan sebagainya. Tapi kabar gembiranya, trauma bisa dikelola dan disembuhkan (healing) serta sudah ditemukan bukti ilmiah bahwa terjadi perubahan DNA pada penyintas trauma yang melakukan healing. DNA atau genetika penyintas trauma yang melakukan healing akan mereplikasi dengan cara baru seperti ketika kita mengetik di Microsoft Word kemudian kita melakukan revisi maka akan tersimpan revisi file tersebut.

Menyadari trauma yang kita miliki secara perseorangan, maupun menyadari trauma bawaan dari keluarga dan leluhur serta melakukan usaha untuk melakukan healing merupakan salah satu cara untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik dan sehat mental. Serta berupaya untuk mengusahakan kedamaian di dunia, dimulai dari berdamai dengan diri sendiri.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Tidak juga untuk digeneralisir pada keluarga-keluarga pahlawan lainnya karena belum ada penelitian empiris.

Tulisan ini adalah sebuah fragmen yang ingin menceritakan dampak riil dari Post Traumatic Stress Disorder yang tidak tertangani dan dampaknya yang bisa terbawa sampai pada beberapa generasi setelahnya.

Pada opini saya pribadi, perang bukanlah pilihan untuk mencapai tujuan. Tapi jika harus dilakukan perang, maka Negara maupun sistem pemerintah perlu memikirkan pendampingan yang memadai pada para tentara maupun penyintas bencana maupun kekerasan sehingga mereka dapat memproses PTSD yang dialami. Bahkan bisa melakukan healing.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk kesehatan dan kualitas hidup anak-cucu, generasi penerus bangsa.

Selamat Hari Pahlawan!

Kita semua adalah penyintas. 

Ikuti tulisan menarik Anastasia Satriyo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler