x

Iklan

Bernardinus Hendra Natadiria

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kerja Nyata atau Wacana Belaka?

Menjadi bagian dari pemerintah tak selamanya baru bisa diraih ketika telah menamatkan sekolah. Menjadi OSIS misalnya, adalah cara konkritnya di sekolah.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menjadi bagian dari pemerintah tak selamanya baru bisa diraih ketika kita telah menamatkan sekolah. Bahkan, ketika masih duduk di bangku sekolah, kita bisa menjadi bagian dari ‘pemerintah’.

Menjadi bagian dari OSIS merupakan cara konkrit untuk menjadi bagian dari ‘pemerintahan’. Tentunya, pemerintahan yang dimaksud lingkupnya adalah lingkup sekolah itu sendiri. Osis menjadi pelaksana amanat  dan jembatan aspirasi siswa kepada sekolah, pun juga sebaliknya.

Menjadi anggota OSIS merupakan sebuah kebanggaan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apalagi, ketika anggotanya hanya berjumlah sembilan orang.

Sedikit? Tapi itulah kenyataannya.

 ***

Inilah sekolahku. SMA Kolese Loyola. Di sini, sebenarnya jarang sekali terdengar atau terucap kata “OSIS”. OSIS Loyola punya sebutan istimewa; Dewan Keluarga Kolese Loyola namanya. Dewan Keluarga Kolese Loyola atau yang biasa disingkat DKKL hanya terdiri dari 9 orang setiap masa baktinya – berbeda dengan OSIS pada umumnya yang berjumlah puluhan. Mereka terdiri dari masing-masing seorang Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, Sie. Seni Budaya, Sie. Lingkungan Hidup, Sie. Olahraga, Sie. Rohani, dan Sie. Humas. Berbeda, DKKL 

 

Loh, 9 orang doang, apa bisa jalan program-programnya?

Nah, itu istimewanya DKKL. Program-program yang ada di Loyola dijalankan dengan sistem kepanitiaan, sehingga melibatkan seluruh siswa untuk aktif menyukseskan program yang telah dicanangkan itu. Anggota DKKL disini berperan sebagai motor dan supervisor yang mengatur, melaksanakan, dan memastikan agar program yang dibuat berjalan dengan baik.

 9 orang DKKL yang terpilih setiap tahunnya telah berhasil melewati beberapa tahap seleksi yang diberikan sekolah. Ada tahap verifikasi data dan nilai, tahap wawancara, endurance, latihan dasar kepemimpinan, kampanye, malam debat kandidat, lalu diakhiri dengan pemilu. Lewat wawancara, sekolah boleh tahu keseriusan dan kesanggupan calon kandidat. Lewat endurance, tidak hanya kemampuan fisik yang dicek, tetapi juga kepedulian serta kepekaan terhadap sesama calon kandidat. Lewat kampanye, kita dapat mengetahui visi, misi, program serta karakter kandidat. Lewat debat kandidat, dapat terlihat jalan dan pola pikir masing-masing kandidat. Lewat Pemilu, kita tidak diajarkan hanya memilih berdasarkan tampang, punya kontribusi besar sebelum menjadi kandidat dan aspek-aspek subyektif lainnya, tetapi kita diajarkan untuk memilih berdasarkan kompetensi. Menilai menggunakan logika dan hati, apakah kandidat ini akan mampu mengemban tugas yang diberikan atau tidak. Inilah alasan kenapa Loyola sampai harus ngoyo untuk mengadakan malam debat kandidat dan kampanye.

Setiap kandididat mengusung sebuah program yang “harapannya” dapat terlaksana. Banyak program-program inovatif, tetapi banyak juga program yang cukup mainstream. Dalam perjalanannya, belum tentu semua program berhasil mendapatkan hati para guru dan eksekutif Loyola. Banyak hal yang menyebabkan gagalnya suatu program terwujud, tapi yang terutama adalah masalah waktu.

Loyola adalah sekolah dengan kegiatan yang suangat padat. Ambil saja contoh tahun lalu. Sejak awal masa jabatan, ada event besar (Malam Budaya – merupakan konser perpaduan opera, band, gamelan, dance, banyolan, dsb) yang diselenggarakan untuk umum. Persiapan yang sangat matang tentu dibutuhkan agar event yang diselenggarakan tidak mengecewakan penonton, apalagi ketika kita harus membayar untuk dapat masuk menikmati acara.  Persiapan jauh dilakukan sebelum hari H. Disambi mempersiapkan event, DKKL harus menyelenggarakan kegiatan internal di dalam sekolah juga, yang telah menjadi program tahunan dari DKKL-DKKL sebelumnya.

Dengan demikian, pupuslah harapan untuk melaksanakan program-program inovatif dan strategis yang telah ‘diimpikan’ oleh para anggota DKKL sejak awal mendaftarkan diri menjadi kandidat. “Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah repot, program sendiri gak jalan pula.”

Yah, tapi itulah resiko menjadi ‘aparat pemerintah’. Berat sekali beban yang harus ditanggung. Hanya mereka-mereka yang punya dedikasi luar biasa bagi ‘keluarga’ yang sanggup mengembannya. Walaupun repot, toh mereka tetap melayani dengan penuh semangat. Walau sibuk, toh mereka masih sempat tersenyum dan menyapa.

Dan kembali opini-opini muncul ketika masa jabatan menjelang akhir.

“Apakah kerja mereka selama ini sia-sia, karena program yang mereka canangkan belum terlaksana?”

Kalau menurut saya, sih, tidak.

Karena curahan peluh, amarah, tawa, dan tangis,

Hari-hari menginap di sekolah mempersiapkan kegiatan,

Ratusan jam ber-insomnia-ria menyelesaikan laporan pertanggungjawaban ataupun proposal program,

Serta seluruh dedikasi mereka selama masa bakti,

itulah yang menjadi bukti nyata kerja mereka bagi keluarga.

“Terima Kasih DKKL, Terima Kasih Loyola!”

 

27 November 2016.

Ikuti tulisan menarik Bernardinus Hendra Natadiria lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu