x

Iklan

Natasya Sitorus

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Catatan Hari AIDS Sedunia: Anak-anak yang kehilangan

Sebuah tulisan yang menceritakan kehilangan seorang anak akan ibunya karena AIDS

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Dina dan Angga sekarang  tak lagi memiliki ibu. Bu Arsa, ibu kandung mereka, meninggal dunia, Jumat lalu pada pukul 10.30 malam. Sementara ayah mereka, tak ada yang tahu keberadaannya. Bu Arsa meninggal karena kondisi fisiknya yang terus memburuk sejak 3 bulan terakhir. Obat anti virus yang tidak dikonsumsi secara teratur yang memperburuk kondisi bu Arsa.

Angga, kakak Dina, beruntung. Dia lahir dengan kondisi sehat, tidak tertular. Dina yang berusia enam tahun, sayangnya ikut tertular virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh tersebut. Kini Angga dan Dina tinggal bersama nenek, nenek yang selama ini tidak terlalu paham tentang perawatan anak dengan HIV. Yang nenek tahu, HIV sudah merenggut nyawa anak perempuannya, juga mungkin perlahan akan merenggut nyawa Dina.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hari ini seluruh dunia merayakan Hari AIDS Sedunia. Beramai-ramai orang menggunakan pita merah di baju mereka sebagai lambang kepedulian mereka terhadap orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Ramai-ramai orang membuat foto dan mengirimkannya ke media sosial. Sementara bagi nenek, HIV menjadi sesuatu yang kalau bisa saat ini tak perlu dibicarakan. Sesuatu yang kalau memungkinkan tidak usah dibahas panjang lebar.

Angga dan Dina hanya dua anak di antara banyak anak lain yang kini tidak lagi diasuh oleh orang tua mereka. UNICEF melaporkan, pada tahun 2015 terdapat 13,4 juta anak di dunia yang kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka karena AIDS. Di Indonesia, data tentang anak-anak ini tidak terlalu jelas. Namun berdasarkan pengalaman pendampingan Lentera Anak Pelangi di Jakarta, 80% anak yang mereka dampingi sudah menjadi yatim atau yatim piatu karena AIDS.

Meninggalnya salah satu atau kedua orang tua mengakibatkan pengasuhan anak beralih kepada anggota keluarga yang lain. Kakek dan nenek misalnya. Sayangnya, tingkat pengetahuan sebagian besar pelaku rawat selain orang tua ini rendah. Pemahaman mereka tentang HIV dan pentingnya kepatuhan minum obat harus senantiasa diperkaya lewat kegiatan-kegiatan dukungan dan edukasi.

Pekerjaan merawat anak setelah orang tua meninggal bukanlah hal yang mudah. Beberapa kakek dan nenek sempat merasa putus asa karena kondisi anak yang sering sakit. Bahkan ada anak yang akhirnya memburuk kondisinya karena pelaku rawat tidak terlalu peduli dengan kesehatan anak-anak ini. Oleh karena itu diperlukan adanya program penguatan bagi pelaku rawat. Pengetahuan tentang pengasuhan serta perawatan anak dengan HIV harus terus menerus disampaikan dan sampai saat ini pemerintah belum memiliki perhatian khusus terkait hal ini.

Adalah Lentera Anak Pelangi yang sejak 2009 sudah memulai program pendampingan bagi anak-anak HIV di DKI Jakarta dan sekitarnya. Tidak hanya memberi dukungan nutrisi, kesehatan, dan psikososial pada anak, tapi juga dukungan psikososial bagi para pelaku rawat. Pertemuan kelompok dukungan sebaya dijadikan tempat belajar bersama tentang berbagai isu terkait anak dengan HIV. Hadirnya narasumber dari berbagai latar belakang akan memperkaya pengetahuan para pelaku rawat. Selain itu, kesempatan berbagi dan saling menguatkan di antara para pelaku rawat pada akhirnya menjadi obat dan kekuatan bagi keputusasaan mereka dalam merawat anak.

Pada suatu pertemuan kelompok dukungan sebaya, para pelaku rawat diminta untuk menuliskan janji mereka pada diri sendiri dan untuk anak atau cucu mereka yang terinfeksi HIV. Tiap tulisan punya cerita yang berbeda dan janji yang juga berbeda. Tapi kurang lebih janji-janji itu kebanyakan untuk mewujudkan masa depan anak yang lebih baik. Tulisan bu Arsa setahun sebelum meninggal adalah salah satunya.

“Saya berjanji untuk selalu mengurus anak dengan teratur sewaktu minum obat pagi dan malam. Walaupun anak sedang bermain, tapi saya tidak lupa memberi obatnya teratur. Saya berani berjanji akan selalu menjaga anak saya dengan baik dan saya juga berjanji selalu minum obat teratur.”

Tak ada yang tahu dengan pasti apa penyebab Bu Arsa 3 bulan terakhir tidak mau secara patuh mengkonsumsi obat anti virusnya. Tak ada juga yang tahu dengan pasti apa yang terjadi dengan janji yang ditulis oleh Bu Arsa. Yang jelas adalah segala upaya sudah dilakukan untuk memberikan semangat bagi bu Arsa melalui kunjungan-kunjungan yang dilakukan oleh manajer kasus Lentera Anak Pelangi. Beberapa ibu anggota kelompok dukungan sebaya pun menyempatkan diri untuk menjenguk bu Arsa, menyemangati, dan turut mendoakan. Dan kini yang pasti adalah Angga dan Dina kehilangan ibu mereka.   

Sekarang yang menjadi tugas penting bagi Lentera Anak Pelangi adalah mendampingi nenek untuk bisa terus merawat Angga dan Dina terutama untuk tetap patuh minum obat. Semoga nenek juga bisa meneruskan janji Bu Arsa untuk menjaga Angga dan Dina dengan baik. Semoga di Hari AIDS Sedunia tahun depan, nenek tak lagi perlu merasa pantang berbicara tentang HIV, tapi justru memiliki keberanian untuk bercerita tentang keberhasilannya merawat Angga dan Dina. 

Ikuti tulisan menarik Natasya Sitorus lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB