Penembakan Dubes Rusia di Ankara

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kasus penembakan Andrei Karlov, Dubes Rusia untuk Turki, yang belum ada presedennya, berpotensi menginspirasi aksi serupa di negara lain.

Dubes Rusia untuk Turki Andrei Karlov, bangun dari duduknya untuk menyampaikan sambutan dalam sebuah acara pameran seni, yang diselenggarakan di sebuah galeri seni, yang terletak di Distrik Cankaya, Ankara.

Saat sedang  berdiri di mimbar, tiba-tiba tepat pukul 19.05 Waktu Ankara (23.05 WIB), seorang pengunjung yang berjas dan berdasi (belakangan diidentifikasi bernama Mevlut Mert Aydintas, berusia 22 tahun dan anggota polisi anti-huru-hara) mencabut pistol dan memuntahkan sekitar delapan butir peluru ke tubuh Andrei Karlov, yang langsung terkapar di lokasi.

Belum ada kepastian bagaimana Mevlut Mert Aydintas muncul dan masuk di TKP. Namun karena galeri seni adalah ruang publik, maka kehadirannya sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Apalagi profesinya memang seorang polisi. Selain itu, berdasarkan pengalaman sebelumnya, pengamanan terhadap seorang Dubes di semua negara, biasanya memang tidak terlalu ketat.

Seusai menembak, berdasarkan rekaman video yang viral, di atas pelataran podium, Mevlut Mert Aydintas masih bergerak maju-mundur, sambil mengacungkan tangan dengan telunjuk tegak dan memekik, "Jangan lupakan Aleppo, jangan lupa tentang Suriah," dan memekik "Allahu Akbar."

Selanjutnya, setelah dikepung aparat keamanan, Mevlut Mert Aydintas sempat naik ke lantai dua gedung galeri kesenian. Dan sekitar 15 menit kemudian, Mevlut Mert Aydintas dinyatakan tewas setelah aksi baku tembak dengan aparat keamanan. Tampaknya Aydintas sudah kehabisan peluru juga.

Beberapa catatan tentang peristiwa tersebut:

Pertama, dalam pengamatan saya, selama sekitar 50 tahun terakhir, penembakan Andrei Karlov merupakan penembakan pertama seorang Duta Besar di seluruh wilayah Timur Tengah (saya memposisikan Turki sebagai bagian inti dari Timur Tengah). Belum ada presedennya.

Kedua, usia penembak yang hanya 22 tahun mewakili generasi Turki yang masih sangat belia, yang tumbuh dalam situasi keamanan dan politik regional Timur Tengah yang kacau, terutama dengan kondisi di Suriah (bagian selatan Turki).

Ketiga, pernyataan bahwa Mevlut Mert Aydintas baru bertugas sebagai polisi huru-hara selama 2,5 tahun menjadi menarik. Sebab ini menunjukkan bahwa di internal aparat keamanan Turki, mungkin banyak kader-kader muda yang berpikiran seperti  Mevlut Mert Aydintas. Hal ini mengingatkan kita pada kasus penembakan Anwar Sadat pada tahun 1981, yang semua pelakunya adalah tentara reguler Mesir.

Keempat, era war on terror telah memasuki sebuah babakan baru, dan belum ketahuan tanda-tanda arahnya akan ke mana. Satu hal yang pasti, war on terror akan semakin meningkat, dan konsekuensinya, aksi-aksi teror juga akan semakin berimprovisasi dan jumlah pelakunya juga semakin bertambah, dan bisa datang dari berbagai profesi dan latar belakang sosial.

Fakta sejarah selama 15 tahun terkahir – sejak war on terror dikumandangkan Amerika Serikat paska serangan 9/11, pada 2001 – membuktikan bahwa semakin intens dan massif propaganda dan praktek war on terror, aksi-aksi teror dan jumlah pelaku teror juga semakin meningkat. Itulah sebabnya, muncul asumsi yang mengatakan, salah satu agenda global yang paling gagal total adalah war on terror.

Namun, kita tahu belum ada resep mujarab tentang memerangi teror yang dianggap paling rasional, kecuali memeranginya dengan kekuatan penuh. Mungkin karena itulah, dari Mokow, Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Selasa (20/12/2016) menegaskan, “Hanya ada satu jawaban untuk kasus ini, yakni meningkatkan  perang melawan terorisme, dan mereka akan merasakannya”.

Kelima, kasus penembakan Dubes Rusia bisa berpotensi menginspirasi para pelaku teror di negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslimnya lainnya, termasuk di Indonesia. Sasaran tidak harus seorang Dubes, sebab pesan inti dari penembakan Dubes Rusia untuk Turki Andrei Karlov, adalah bahwa aksi adalah “model pembunuhan selektif”.

Sumber foto ilustrasi: dok. CNN

Syarifuddin Abdullah | 21 Desember 2016

Bagikan Artikel Ini
img-content
Syarifuddin Abdullah

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Filosofi Filsafat

Sabtu, 20 Juli 2024 14:58 WIB
img-content

Pertempuran dan Adu Drone di Langit Ukraina

Senin, 13 Februari 2023 05:57 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler