x

Iklan

Abhotneo Naibaho

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

'Telolet' dan Sepenggal Cerita Kecilku Soal Bus Umum

Ada makna positif tentang reaksi 'om telolet om' dari anak-anak tersebut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh : Abhotneo Naibaho

 

“Terlepas dari kontroversi soal fenomena frasa ‘Om Telolet Om’, di mana bermula dari anak-anak di daerah Jawa Tengah yang secara iseng meminta kepada sang sopir bus agar membunyikan klakson busnya, spontan reaksi anak-anak tersebut bergembira-ria ketika mendengar keunikan bunyi klakson tersebut, hemat saya, ada makna positif tentang itu.”

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berbeda dengan kreatifitas dari sejumlah bus di daerah Jawa yang menggunakan suara klakson yang sudah teraplikasi dengan campuran musik kontemporer, mungkin di beberapa daerah lain di belahan nusantara memiliki cerita yang hampir sama soal bus dan suara klaksonnya.

Fenomena ini, menyikapinya tak perlu harus berdebat untuk mempersoalkannya. Karena memang fenomena kadangkala akan membuahkan pro maupun kontra. Aku sendiri, menyikapinya positif dan paling tidak ini menjadi bagian kecil  untuk berelaksasi dari ketegangan pikiran maupun tingkat stres. Kalau memang itu bisa membuat kita hepi, paling banter bisa menimbulkan tertawa kecil bagi kita, Why Not gitu lho……????

Teringat akan masa kecil ku, oleh karena fenomena frasa “Om Telolet Om”, sebagai anak berjenis kelamin laki-laki, secara umum siapa saja, dan di mana saja pasti punya pengalaman yang sama dengan Aku bermain mobil-mobilan. Itu menandakan, bahwa memang sejak jaman dulu profesi sopir ataupun yang mengemudikan mobil adalah kaum pria. Sementara kaum wanita identik dengan permainan boneka, masak-masakan, dan lain sebagaianya yang berhubungan dengan wanita. Belakangan, seiring perkembangan jaman dan tehnologi (desakan emansipasi wanita), pengendara mobil oleh wanita sudah semakin banyak. Bahkan untuk berprofesi sebagai sopir, wanita jaman sekarang, tak kalah tangguhnya soal mengemudikan kendaraan dari mulai minibus hingga bus gandeng seperti Trans Jakarta.

Kembali ke soal permainan masa kecil. Terlahir sebagai anak bersuku batak di Sumatera Utara di Kota Pematangsiantar, jaman Aku anak-anak bisa dibilang cukup familiar menumpangi kendaraan umum, karena memang orangtua Aku tidak sebagus nasib tetangga memiliki kendaraan pribadi. Jadi, ke mana-mana, Aku kerap diajak oleh orangtua seperti ke pesta, kunjungan keluarga, melayat ke daerah lain yang memang jarak tempuhnya lumayan jauh dari rumah tinggal, kami menumpangi bus umum.

Kala itu, beberapa bus yang cukup dikenal dan bisa dibilang ‘raja jalanan’ seperti; PMH, Palansa, Makmur, Bintang Utara, ALS, ANS, Pelangi, anak-anak pria para sahabat Aku juga menggemarinya bahkan nama-nama bus tersebut harus dihapal. Bus-bus tersebut melintasi jalan-jalan protokol dengan jarak tempuhnya yang lumayan jauh.

Permainan menebak nama bus misalnya, dari kejauhan sudah terdengan klakson bus dan memang belum melihat bus apa sebenarnya yang akan melintas di depan kami, harus bisa menebaknya dengan benar, kalo salah tebak, ada semacam sanksi atau hukuman yang akan didapatkan seperti; saling menyentil daun telinga. Juga ketika bus umum melintas, berbagai reaksi spontan anak-anak menyapa sang sopir bus seperti; Horas….!!!!, Wooiiii….!!!!, Merdeka….!!!! dan masih banyak lagi bentuk respon tentang itu yang tak bisa aku ingat lagi. 

Bentuk apresiasi anak-anak di jaman aku, melihat bus yang memang secara bodi maupun karoserinya keren, seneng rasanya memandangnya. Belum lagi, ketika bus melaju dengan kencang, bahkan super kecang apalagi dengan aksinya di jalan sambil menyalib bus yang lain, respon anak-anak mulai di depan mata hingga jarak pandang terbatas, bertepuk tangan juga menjadi respon yang spontan saat itu.

Sedari melihat, pengamatan di jalan saja anak-anak di antara kami sudah menunjukkan respon yang riang gembira, apalagi hingga bisa menaikinya sebagai penumpang, pasti esok, lusa atau kapan saja ketika sudah berkumpul kembali sesama sahabat anak-anak, yang mengalaminya pasti akan memberikan testimoni sepanjang ia di dalamnya dengan cara dan logat masing-masing dalam bercerita.

Ada juga anak-anak yang lain yang mencoba melafalkan suara klakson bus di jaman itu sebagai contoh; Pom….Pom….!!!, Tidin…dinn!!!!!, Prepeeppeppp….pppp!!!!!!!. Juga bentuk lafalan dari rem angina bus seperti; Kecess….cesss!!!!

Tanpa sadar atau tidak, dari bunyi-bunyian, salah satunya, bunyi klakson bisa memberikan kode bagi kita manusia. Khususnya sesame pengguna jalan raya, antara kendaraan yang satu dengan kendaraan yang lain. Juga dari mendengar bunyi-bunyian, sedari kita kanak-kanak maka mulai mengetahui pemahaman untuk membedakan antara nada yang satu ke nada yang lain.

Soal kajian dan analisa dari Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Perhubungan RI yang menyoalnya menurut PP Nomor 55 Tahun 2013, diatur kalau bunyi klakson paling maksimal itu 118 desibel. Sementara setelah diukur, volume klakson ‘telolet’ adalah 200 desibel. Tentu angka itu hampir mendekati dua kali batas maksimal yang diperbolehkan. Dan pada akhirnya pemerintah tidak jadi melarangnya, namun dianjurkan agar menyesuaikan volume klaksonnya.

Beruntunglah jika fenomena demikian tidak jadi dilarang. Karena pendapat aku pribadi, jika sampai terjadi pelarangan spontan, maka ruang untuk berkreatifitas sedang dihambat. Beberapa pihak yang turut andil dalam proses kreatifitas tersebut di antaranya; pertama si programmer suara (nada), pabrikan (home industry), perusahaan bus, orang-orang yang berprofesi sebagai sopir dan yang terakir adalah masyarakat yang meresponinya, utamanya para anak-anak.

Ikuti tulisan menarik Abhotneo Naibaho lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler