Akhir Tahun yang Menyedihkan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kesedihan melandaku saat sahabat karibku, seorang yang berpendidikan, bekerja di pendidikan ikut-ikutan meneruskan sebuah postingan yang menusuk hatiku.

Selama ini saya selalu berfokus untuk mencari hal-hal baik dari agama-agama sahabatku. Aku terkagum dengan keadilan yang diajarkan oleh Islam. Aku bahagia dengan rahmatan lil alamin yang dibawa oleh agama Islam. Aku bangga dengan berbuat baik kepada sesama yang selalu dipraktikkan oleh umat Budha. Aku merasa sejahtera dengan umat Hindu yang menjaga kelestarian semua makhluk.

 

Namun di akhir tahun ini saya menjadi sangat sedih. Sebab seorang sahabat karibku, seorang yang bekerja di bidang pendidikan, seorang yang menjadi teladan dalam literasi, seorang yang selama ini menjadi kawan diskusi tentang kebhinekaan, seorang yang mengajariku tentang Islam yang rahmatan lil alamin memposting ajakan yang mengusik keyakinanku. Memang saya yakin bukan dia yang membuat postingan itu. Sahabatku ini hanya meneruskan saja postingan yang sudah ada. Namun saya harus bertanya-tanya, apakah gelombang kebencian yang saat ini melanda Indonesia sudah sedemikian kuat sehingga seorang yang terpelajar (berpendidikan master bidang pendidikan), bekerja di lembaga internasional di bidang pendidikan, tokoh literasi yang mengajurkan orang-orang untuk membaca, bisa demikian saja meneruskan sebuah postingan yang menurutku memuat rasa kebencian? Meski unggahan ini ditujukan untuk kalangan internal, namun karena diunggah di media sosial, maka unggahan ini menjadi masuk ke ranah publik. Saya sedih bahwa untuk menghimbau umat untuk melakukan/tidak melakukan sesuatu dipakai kebiasaan umat lain. Seakan-akan yang dilakukan oleh umat lain tersebut adalah sesuatu yang dilaknat Allah. Sehingga kalau ikut melakukannya akan kehilangan sorga.

Marilah sedikit menengok sejarah lonceng gereja. Memang harus diakui bahwa lonceng identik dengan gereja. Itupun awalnya hanya gereja-gereja di Eropa. Gereja menggunakan lonceng untuk memanggil umat supaya beribadah. Sebab di tengah dinginnya salju tentu saja gereja tak mungkin memanggil umatnya untuk beribadah dengan cara beradzan. Saudara-saudara kami orang Kristen Koptik di Mesir masih tetap memakai adzan untuk memanggil umat supaya bisa beribadah bersama. Adzan adalah budaya orang-orang Timur Tengah untuk memanggil kaumnya dalam beribadah. Adzan dipraktikkan jauh sebelum Agama Islam memakainya, meski lafal adzan tentu saja berbeda.

Namun dalam postingan di atas, saya merasa bahwa ada kesalah-pahaman akut. Saya menduga bahwa kesalah pahaman itu karena pembuatnya tidak pernah mau belajar. Atau karena kebencian sudah sedemikian menguasai diri sehingga tak mau tahu apa alasan orang Nasrani membunyikan lonceng. Seakan-akan lonceng dibunyikan hanya untuk hura-hura saja. Bukan. Tidak demikian saudaraku. Lonceng adalah sama dengan adzan. Lonceng digunakan untuk memanggil umat beribadah.

Saya sangat setuju bahwa tak perlu kita merayakan tahun baru dengan hura-hura. Saya juga sangat setuju bahwa masing-masing kita memiliki awal tahun baru yang berbeda, seperti orang Jawa memiliki 1 Suro. Saya sangat setuju bahwa kita tak perlu ikut-ikutan perayaan agama lain. Namun saya tidak setuju bahwa himbauan tersebut dilakukan dengan dasar kesalah-pahaman, apalagi dengan kebencian. Saya yakin Islam tidak mengajarkan kebencian.

Lagi pula di saat natal dan tahun baru saya tak pernah merayakannya dengan pesta-pesta. Saat tahun baru saya selalu berdoa untuk mengucap syukur atas segala berkat yang telah dikaruniakanNya kepada saya, keluarga dan para sahabat sepanjang tahun. Saya juga selalu berdoa di akhir tahun supaya hidup saya menjadi lebih bermanfaat bagi sesama di tahun yang akan datang. Saya selalu mengucap: “Ya Allahku, kiranya Engkau mau terus menggunakan hidupku untuk menyalurkan kasihMu kepada sesama manusia, semua makhluk dan bumi satu-satunya yang Engkau karuniakan bagi kami umat manusia.”

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua