x

Iklan

Aisy Karima

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Surat Valentine buat Bapak Ibuk Petani

Surat Valentine ini saya tulis untuk membalas ungkapan cinta. Cinta dari Bapak Ibuk petani, yang berwujud hidangan di piring-piring kami.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pak, Buk,terima kasih. Kerja keras Bapak dan Ibuk telah membuat saya bisa menikmati manis dan renyahnya sayur sawi, dengan harga 3000 cuma-cuma. Tidak hanya sawi, tetapi juga kacang panjang, jagung, hingga...tomat! Favorit saya! Pokoknya, tanaman pangan yang tumbuh dari sawah Ibuk adalah surga bagi lidah saya.

Sedari dulu, Mamak sering menyuruh saya belanja sayur di rumah Ibuk. Padahal Ibuk bukan pedagang sayuran, tetapi petani. Cerdiknya, Mamak saya tahu kalau beli sayur langsung di tempat Ibuk, pasti harganya jauh lebih murah daripada sayur yang ada di pasar. Mamak saya hafal dan tahu betul kapan Ibuk panen. Jadi kalau saya habis lewat rumah Ibuk, yang ditanya Mamak saya adalah, “Kamu lihat sayur apa saja di depan rumah Ibuk?” Padahal saya waktu itu cuma bocah biasa yang suka main gundu, mana saya peduli soal belanja sayur mayur!

Sebelum ini, saya sempat nggak paham dengan realita profesi Ibuk. Bagi saya, petani adalah penghasil pangan. Titik. Saya belum melek dengan isu-isu sosial, belum suka baca buku ‘serius’. Yang saya baca adalah novel atau kumpulan cerpen. Dalam benak saya, tertanam prasangka kalau bertani itu pekerjaan kelas dua. Di mata saya, ada banyak pekerjaan lain yang cepat dan banyak menghasilkan uang, tapi yang jelas bukan pertanian.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Maafkan saya karena berpikiran dangkal seperti itu.

Baru saat saya dipaksa belajar Penyuluhan Pertanian, saya sadar dengan banyak hal. Saya baru ngeh, kalau di negara-negara maju, bertani berarti kaya. Saya sadar, sektor yang menjadi pondasi kehidupan rakyat adalah sektor pertanian. Tangan-tangan kekar Ibuk dan Bapak Tani lah yang menyuapi makan kami selama ini.

Saya baru sadar betapa pentingnya menjadi petani.

Saya pernah 6 bulan hidup di tengah-tengah petani. Bukan atas kemauan saya sendiri, tetapi tugas kuliah. Saya melihat betapa panjang dan rumitnya proses makanan dibuat. Kini, saya melihat makanan bukan sebagai sekedar barang lezat pengganjal perut. Saya tidak melihat makanan dari kacamata gizi saja. Saya melihat makanan di piring saya sebagai produk keteguhan dan ketulusan petani. Makanan seperti barang ajaib, yang perlu diperlakukan dengan benar. Apalagi setelah membaca buku Food for Beginners karya Susan George. Beliau mengatakan, “Makanan adalah alat politik” dan “Produsen makanan adalah orang-orang miskin” Disebutkan pula bahwa bencana kelaparan adalah keputusan politik, bahwa sebenarnya ada cukup makanan untuk mengenyangkan perut seluruh manusia di dunia.

Mamak saya dulu sering memarahi saya kalau saya tidak menghabiskan makanan. Katanya, “Ngambil-ngambil sendiri, kok nggak dihabisin. Di luar sana banyak orang yang kelaparan!” Di pagi hari, Mamak menyuruh anak-anaknya menghabiskan nasi sisa kemarin, sebelum makan nasi yang dimasak pagi hari. Apabila saya tidak suka makan cabe hijau atau tomat dalam masakan Mamak, Mamak menyuruh saya menaruh cabe hijau atau tomat itu ke piring beliau. “Nanti Mamak makan”, katanya. Disiplin Mamak terhadap makanan tidak pernah sampai menyiksa anak-anaknya. Kami boleh tidak menghabiskan makanan kalau tidak sanggup, tapi makanan sisa itu bakal dijemur untuk dijadikan kerupuk, atau dikasihkan ke kucing liar, atau ayam tetangga. Menurut saya dulu, Mamak ini rempong sekali. Tapi, kini saya sadar, Pak, Buk, dengan cara itulah kami bisa menghargai perjuangan Bapak Ibuk. Begitulah kami menunjukkan bahwa kami sadar mengenai isu kelaparan dunia.

Pak, Buk, dosen-dosen kami bilang, kami adalah calon penyuluh pertanian. Saya adalah calon penyuluh pertanian. Di sini, kami diajari untuk menjadi fasilitator, teman belajar Ibuk dan Bapak. Kami dipersiapkan agar dapat membantu Bapak Ibuk.

Sesungguhnya, saya ingin membantu, Pak, Buk. Saya punya visi, suatu saat profesi petani adalah profesi yang bergengsi. Saya bermimpi derajat profesi petani diangkat, dikembalikan ke posisi yang seharusnya. Saya ingin petani-petani di Indonesia makmur dan punya kehidupan yang luhur. Sayangnya, kedua tangan saya ini masih kecil, kepala saya masih kosong. Saya mesti banyak belajar. Jadi untuk saat ini, biarlah saya membantu sebisa saya, dengan cara saya. Surat Valentine ini saya tulis, untuk membalas ungkapan cinta. Lewat tulisan inilah saya bisa menyuarakan keberadaan cinta yang telah Bapak Ibuk tebarkan. Cinta yang sering kami lupakan, yakni cinta dari Bapak Ibuk petani, yang berwujud hidangan di atas piring kami.

Ikuti tulisan menarik Aisy Karima lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB

Terkini

Semangat

Oleh: Malik Ibnu Zaman

7 jam lalu

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB