x

Iklan

Syarifuddin Abdullah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

[Nyaris Pasti] Ahok Kalah di Putaran Kedua

Jika ulasan ini benar adanya, maka pertarungan Pilgub DKI 2017 putaran kedua bolehlah disebut “sudah selesai” bahkan sebelum dimulai.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sungguh, awalnya saya tidak menduga akan separah ini setback yang dialami oleh pasangan Ahok-Djarot. Namun tujuh alasan utama berikut ini memang mengindikasikan kuat bahwa Ahok hampir pasti akan kalah dalam Pilgub DKI putaran kedua, 19 April 2017:

Pertama, beberapa hasil jajak pendapat yang telah dipublikasikan relatif konsisten menunjukkan Anies-Sandi unggul dengan selisih antara 5 sampai 9 persen. Rentang selisih ini cukup lebar. Sangat sulit terkejar dalam tempo yang sisa 9 hari lagi menuju pencoblosan 19 April 2017.

Kedua, pada awalnya, saya masih ragu dengan hanya mengandalkan “survei publik”, yang memang sulit dijadikan acuan utama analisis. Tetapi, survei publik mendapatkan semacam legitimasi, melalui bocoran dari Tim Ahok bahwa survei internal terakhir yang dilakukan oleh Tim Ahok – tidak dipublikasikan – juga menunjukkan keunggulan Anies-Sandi sekitar 3 persen.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketiga, dan ini yang paling menarik. Saya coba membaca ulang suasana kebatinan dua pekan sebelum Pilgub DKI tahun 2012, ketika Fauzi Bowo berhadapan melawan pasangan Jokowi-Ahok. Kesimpulannya, situasinya mirip-mirip.

Saat itu, Fauzi Bowo juga sudah diberitahu oleh Timnya tentang keunggulan Jokowi-Ahok. Oleh karena waktunya sudah semakin mepet menuju hari pencoblosan, Tim Fauzi Bowo akhirnya memilih jalan pintas: menggelontorkan dana secara massif. Namun belakangan diketahui bahwa dana massif itu tidak mengalir turun ke pemilih, tetapi berhenti di level tengah (tim sukses).

Artinya, para tim sukses Fauzi Bowo saat itu memutuskan untuk “menelikung di dalam lipatan”, dengan cara menahan dan mengambil sendiri duit itu, yang mestinya disalurkan kepada para pemilih, dengan alasan sederhana: duit itu sudah tidak ngefek lagi untuk mengubah pilihan rakyat DKI. Pertarungan sudah selesai bahkan sebelum dimulai. Jadi daripada disalurkan ke pemilih, mending diamankan alias untuk kocek sendiri saja. Saya khawatir, perilaku Tim Sukses Fauzi Bowo lima tahun lalu, terulang kembali di kalangan Tim Sukses Ahok-Djarot.

Keempat, sejak periode kampanye putaran pertama, banyak pakar yang menyuarakan analisis yang menyebutkan bahwa pemilih DKI adalah pemilih paling dinamis, yang konon enteng bergeser dari satu pilihan ke pilihan lain, hanya karena sebuah isu. Terus terang, saya tidak terlalu percaya dengan analisis ini. Sebab di sisi lain, pemilih DKI juga sering digambarkan sebagai pemilih paling rasional. Nah, agak sulit bagi saya mensingkronkan antara rasionalitas dan entengnya berpindah pilihan.

Kelima, benar bahwa akhirnya PPP akhirnya memutuskan mendukung Ahok. Tapi keputusan ini sudah sangat telat, sehingga kesannya sangat kental hitungan pragmatis para pengurus partai. Karena itu, keputusan itu mungkin tidak akan berpengaruh signifikan lagi dalam mengarahkan pilihan anggota dan pendukung/simpatisan PPP. Bahkan sangat dimungkinkan terjadi semacam “deviasi ketaatan” kepada keputusan partai di kalangan anggota PPP.

Keenam, pada awalnya, saya menduga DPP PKB akan menjadi Parpol pertama yang mengalihkan dukungannya secara penuh kepada Ahok, ternyata tidak. Konon karena PKB cq Muhaimin Iskandar tidak mendapatkan janji “kompensasi yang memadai”. Lantas pada 04 April 2017, DPW DKI PKB menyatakan dukungan kepada Ahok. Namun selang beberapa hari kemudian, muncul postingan pernyataan Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU, yang beredar viral sejak 09 April 2017, yang menganjurkan untuk tidak memilih pemimpin non-muslim. Fakta ini semakin menguatkan asumsi bahwa suara NU dan PKB di DKI tidak solid. Mereka cenderung tidak akan memilih Ahok, meski belum tentu juga akan memilih Anies-Sandi.

Ketujuh, meski coba disembunyikan, jajaran tim sulit menutupi kepanikan. Mungkin karena kaget, dan setback itu di luar ekspektasi awal, akhirnya mereka terkesan seolah kehabisan kreativitas untuk mengejar keunggulan Anies-Sandi di papan survei.

Kesimpulannya, bila ulasan ini benar adanya, maka pertarungan Pilgub DKI 2017 putaran kedua bolehlah disebut “sudah selesai” bahkan sebelum dimulai, sebelum TPS dibuka untuk pencoblosan pada 19 April 2017.

Syarifuddin Abdullah | Senin, 10 April 2017 / 13 Rajab 2017

Sumber Foto: detikcom-Hasan Alhabshy.

Ikuti tulisan menarik Syarifuddin Abdullah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu