x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Ingat Don Quixote, Temukan Kesenangan Membaca

Beberapa hari lagi, perayaan Hari Buku Sedunia akan berlangsung. Membaca memang serius, tapi keseriusan yang menyenangkan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Ada tiga orang pecinta buku yang meninggal pada tanggal yang sama: 23 April 1616. Tiga orang itu ialah William Shakespeare, Inca Garcilaso de la Vega, dan Miguel de Cervantes. Di antara mereka, Shakespearelah yang termuda dan berusia paling pendek. Nama-nama ini layak disebut, karena setiap tahun tanggal 23 April diperingati sebagai Hari Buku Sedunia.

Hasil kesepakatan yang dicapai dalam konferesi UNESCO pada 1995 itu dimaksudkan untuk mendorong setiap orang, khususnya anak-anak muda, untuk menemukan kesenangan dalam membaca dan memberi penghormatan kepada mereka yang telah berkontribusi kepada kemajuan kemanusiaan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di antara mereka yang dianggap berjasa bagi kemanusiaan ialah Garcilaso de la Vega. Ia seorang ahli kronik dan penulis yang lahir di Peru ketika negeri di Amerika Latin ini masih dikuasai Spanyol. Setelah ayahnya meninggal, Garcilaso berlayar ke Spanyol pada usia 21 tahun dan menempuh pendidikan informal di sana.

Garcilaso dianggap berjasa dalam menuliskan sejarah, budaya, dan masyarakat Inca—yang cukup lama dijajah Spanyol. La Florida del Inca merupakan karyanya yang pertama, diterbitkan di Lisbon pada 1605 dan dengan cepat dikenal luas. Karya ini menggambarkan ekspedisi Spanyol dengan mengandalkan catatan sendiri maupun informasi yang berhasil dihimpun Garcilaso selama bertahun-tahun. Sebagian sejarawan menganggap buku ini bukan karya sejarah, melainkan karya sastra.

Saat menetap di Spanyol, Garcilaso menulis karya yang kemudian terkenal, Comentarios Reales de los Incas, diterbitkan di Lisbon 1609. Karya ini disusun berdasarkan cerita dan sejarah oral yang disampaikan kerabat Garcilaso yang berdarah Inca. Ia juga menulis buku Spanish conquest of Peru, mula-mula terbit di Lisbon pada 1617 dan kemudian edisi Inggrisnya terbit d London pada 1685. Satu setengah abad kemudian, ketika berlangsung pergolakan melawan penindasan kolonial oleh Tupac Amaru II, Raja Charles III dari Spanyol melarang penerbitan Comentarios di Peru karena alasan isinya berbahaya.

Garcilaso memberi inspirasi bagi banyak penulis berbahasa Spanyol. Dalam novel Of Love and Other Demons karya Gabriel Garcia Marquez, salah satu karakter utamanya, Bapa Cayetano Delaura adalah pengagum Garcilaso. Dalam novel ini, yang berlatas Kolombia masa kolonial di abad ke-18, Delaura dipaksa berhenti menjadi pelayan umat karena kisah cintanya yang tragis.

Lain lagi dengan Miguel de Cervantes. Meskipun penulis berdarah Spanyol ini menghasilkan banyak karya, yang paling mashur adalah Don Quixote—yang dianggap sebagai novel modern pertama pada zamannya dan kini jadi klasik, dan disebut oleh Fyodor Dostoevsky sebagai ‘karya puncak dan paling sublim mengenai pemikiran manusia’ . Sejak terbitnya karya ini, pengaruh Cervantes begitu besar terhadap perkembangan bahasa Spanyol, sehingga bahasanya kerap dijuluki bahasa khas Cervantes.

Hidup Cervantes boleh dibilang penuh warna. Setelah diusir dari tempat tinggalnya karena suatu alasan pada 1569, Cervantes pindah ke Roma dan bekerja pada seorang kardinal. Lalu ia bergabung dengan resimen infanteri Spanyol, tertangkap dan ditawan musuh, lalu dilepaskan dengan uang tebusan dari keluarganya. Pulanglah Cervantes kepada keluarganya di Madrid.

Cervantes kembali kepada kehidupan sebagai penulis, lahirlah La Galatea. Barangkali, karena penghasilan sebagai penulis serba terbatas, ia bekerja pula sebagai agen pembelian untuk Armada Spanyol. Belakangan, ia bekerja dengan pengumpul pajak untuk pemerintah. Cervantes meninggal oleh sirosis hati; di tahun-tahun terakhir kehidupannya, ia disebut-sebut sangat produktif bekerja.

Lalu William Shakespeare? Siapa tak kenal? Seperti halnya Garcilaso dan Cervantes, karya-karya drama dan soneta Shakespeare adalah buah pembacaan terhadap beragam watak manusia dan masyarakat: hasrat akan kuasa, kejujuran dan kenaifan pengkianata, juga ketidakberdayaan dan perlawanan. Banyak sudah yang orang bicarakan tentang Shakespeare, tapi penemuan yang paling menarik ialah penampilannya sebagai salah satu karakter dalam fiksi serial Michael Scott, The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel.

Jika masih ada pertanyaan yang tersisa, mengapa 23 April yang dipilih? Gagasan awalnya sebenarnya dipantik oleh perayaan 23 April yang dilakukan para penjual buku di Catalonia, Spanyol, pada 1923. Ketika itu, penulis Vicente Clavel Andres mengusulkan adanya perayaan untuk menghormati Miguel de Cervantes yang (dianggap) meninggal pada tanggal tersebut. Gagasan ini lantas diadopsi oleh UNESCO pada 1995, dan kebetulan ada sejumlah penulis lain yang meninggal pada tanggal yang sama, termasuk Vladimir Nabokov. Karya-karya penulis ini—khususnya mereka bertiga—dibacakan dalam perayaan Hari Buku Sedunia yang berlangsung di berbagai kota dunia. ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB