x

Warga melintas di antara karangan bunga untuk Ahok-Djarot di Balai Kota, Jakarta, 26 April 2017. Karangan bunga ini dikirimkan setelah pasangan inkumben Ahok-Djarot kalah dalam Pilkada DKI Jakarta versi hitung cepat. TEMPO/Amston Probel

Iklan

Erri Subakti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Sosiolog UI: Menang Dapat Kursi, Kalah Merebut Hati Rakyat

Profesor Thamrin Tomgaloa, sosiolog dari UI menjelaskan mengenai fenomena kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sosiolog dari Universitas Indonesia, Profesor Thamrin Tomagola yang hadir di Balaikota pada Rabu 26/4/2017 mengungkapkan bahwa, dalam sejarah Jakarta, gubernur yang berkarakter, yang benar-benar membentuk Jakarta itu cuma 2, Ali Sadikin dan Ahok.

Hal ini ia katakan dalam wawancaranya dengan salah satu stasiun televisi.

"Waktu Ali Sadikin berhenti, tidak ada karangan bunga seperti ini. Nah karangan bunga begini banyak seperti lautan ini karena rakyat kecewa cara-cara menangnya. Menangnya kan dengan cara menyebarkan kebencian, menakut-nakuti, segala macam itu. Jadi sebenarnya yang sekarang terjadi ini, yang menang itu memang mendapatkan kursi kekuasaan, tapi yang kalah merebut hati rakyat," demikian dipaparkan oleh dosen Teori Sosial itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selanjutnya dosen yang gelar PhD-nya diraih dari Universitas Essex, Inggris dalam bidang sosiologi media ini mengatakan, "Saya ingat ketika tahun 1945 waktu ada rapat Ikada di sini dengan Bung Karno, itu juga rakyat berbondong-bondong datang tanpa dikomando. Persis terulang lagi, tahun 2017."

"Itu menunjukan spontanitas, kekecewaan dari rakyat yang meihat jagonya itu dizalimi dengan cara yang sama sekali tidak fair," ujarnya.

Sampai pagi tadi (28/04/2017) jumlah karangan bunga telah mencapai 4.007 buah. Meskipun Basuki dan Djarot telah mengimbau untuk tidak perlu lagi mengirimkan karangan bunga, namun spontanitas kecintaan para pendukungnya tidak bisa dibendung.

Selain karangan bunga, ada saja persembahan kreatif dari para pecinta Ahok-Djarot, mereka membawa banyak boneka Nemo untuk Ahok.

Sebagaimana sebelumnya pada Hari Selasa, (25/4/2017) Ahok membacakan pledoinya dalam sidang kasus dugaan penistaan agama, sempat menukil kisah dari film anak-anak, Nemo. Dalam film Nemo ada adegan dimana Nemo mengajak ikan-ikan lainnya untuk berenang melawan arus agar tidak tertangkap jaring nelayan.

Selain membawa banyak boneka Nemo dan karangan bunga, mereka juga membawakan nasi tumpeng dan cake untuk Basuki dan Djarot.

 

(ES)

Ikuti tulisan menarik Erri Subakti lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu