x

Hardiknas, Belasan Tahun Jadi Guru Honorer Sucendi Harapkan Perubahan

Iklan

taufic Rizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Sepenggal Cerita Guru

pemaparan tentang realita yang dihadapi seorang guru

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendidikan, sebuah kata yang sering didengar dan diucapkan hampir semua pemimpin di Negara ini. Pendidikan, sebuah kata yang selalu menjadi bahan kampanye disetiap pemilihan baik daerah maupun nasional. Pendidikan, selalu menjadi pesan moral yang berapi-api dan pidato yang diucapkan dengan luar biasa oleh pemimpin-pemimpin di negeri ini baik pusat maupun daerah, dari Presiden, Gubernur hingga Bupati selalu berpidato seolah-olah peduli dengan kata ini, seolah kata pendidikan ini sangat penting bagi mereka.

Sebuah cerita dari negeri Jepang yang hampir di semua Fakultas Ilmu Pendidkan dan Keguruan di berbagai Universitas di negeri ini disetiap awal perkuliahan mahasiswa baru selalu disampaikan, bahwa setelah Jepang di bumihanguskan oleh sekutu warga yang pertama kali di data adalah guru, sebuah cerita yang ingin mebangkitkan motivasi bagi mahasiswa baru ini yang kebanyakan dari mereka memilih berkuliah di FKIP karena merupakan pilihan terakhir yang penting kuliah. Tapi sebuah ironi, yang diceritakan itu adalah cerita dari Negara yang pernah menjajah negeri ini. Jika sebuah musibah terjadi di negeri yang pertama kali di data selain jumlah korban adalah berapa kerugian dari bangunan, kendaraan serta harta benda yang hancur, tak pernah sekalipun terdengar di berita di negeri ini bahwa yang di data pertama kali adalah jumlah guru yang hilang. Benarkah pendidikan di negeri ini begitu penting, sebuah pertanyaan yang seolah-olah tidak pernah ada jawabannya dari puluhan tahun yang lalu. Di mulai dari perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan sekolah Taman Siswa melawan kebijakan pendidikan colonial Belanda dengan politik balas budi yang seakan-akan ingin membalas kebaikan rakyat yang ratusan tahun telah mereka jajah, yang ternyata itu hanyalah sebuah system yang justru makin membodohi rakyat di negeri ini. Hingga sekarang dengan amanat UUD 1945 bahwa anggaran pendidikan harus sebesar 20 % dari APBD baik pusat maupun daerah, tapi kenyataan bahwa banyak komponen di dunia pendidikan harus selalu berteriak memohon belas kasihan untuk diperhatikan.

Pendidikan selau menjadi bahan jualan kampanye pasar para kandidat pemimpin di negeri ini hampir di setiap pemilhan. Sekolah gratis, beasiswa kurang mampu, beasiswa pretasi, kartu pintar dan segala macam program dijanjikan akan memperbaiki kualitas pendidikan di negeri ini. Tapi jika semua itu jauh dari harapan pada akhirnya siapa yang mereka salahkan dan selalu dijadikan kambing hitamnya, adalah sosok Guru, manusia yang digambarkan harus dituntut untuk senantiasa berdedikasi, berkualitas dan bermoral dalam melaksanakan tugasnya yang katanya taruhannya adalah dunia dan akhirat. Sosok guru yang identic dengan pahlawan tanpa tanda jasa,yang digambarkan oleh Iwan Fals dalam lagu Oemar Bakrie, jika berteriak untuk minta diperhatikan lagi-lagi mereka dibenturkan dengan bahwa mereka tidak layak sebagai guru jika menuntut kesejahteraan mereka. Bahwa mereka tidak layak ke sekolah dengan menggunakan mobil mewah dan memliki rumah besar untuk keluarga mereka, guru identic dengan kesederhanaan yang sebenarnya sangat jarang dicontohkan oleh pejabat-pejabat maupun anggota dewan di Negara ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Memugar gedung dewan dan gedung pemerintahan akan lebih penting dibandingkan memugar sekolah-sekolah dengan kondisi tidak layak yang mana guru harus betah mengajar selama berjam-jam sambil berdoa semoga atap tidak runtuh sementara pajabat-pejabat memikirkan bagaimana mereka nyaman di wc kamar mandi mereka. Pejabat-pejabat di negeri ini lebih memilih mengganti laptop dan computer mereka yang dengan yang terbaru dari pada memilih memberikan guru laptop, karena bagi mereka guru cukup di beri spidol dan pengahpus untuk mengajar. Bukankah lebih penting bagi pejabat untuk menggunakan laptop terbarumereka untuk mengerjakan laporan anggaran serta perjalanan dinas mereka yang semoga saja tidak fiktif, daripad digunakan oleh guru menyampaikan materi atau sekedar merekap nilai murid mereka, tentu saja lebih penting SPJ, serta SPPD mereka.

Mungkin para pemimpin di negeri ini masih terpengaruh budaya jaman penjajah, bahwa pendidikan hanyalah sebuah janji yang tidak harus ditepati, hanya pemanis di sebuah ajang pemilihan, setelah itu mereka lebih baik berkumpul dengan kolega mereka di dewan membicarakan proyek mana lagi yang mereka bisa “kerjakan”. Daripada memilih berkumpul bersama guru-guru membicarakan bagaimana memajukan pendidikan di daerahnya. Mereka lebih memilih kepala Dinas Pendidikan bahkan menteri pendidikan dari orang-orang yang mendukungnya selama masa kampanye. daripda menunujuk seorang Guru memimpin di lembaga tersebut, peribahasa serahkan segala sesuatunya itu pada ahlinya tidak berlaku bagi mereka. Bahkan orang yang mereka serahi tanggung jawab memimpin lemabga pendidikan mengajar di depan kelas selama satu jam saja mungkin tidak prnah, tiba-tiba menjadi sangat ahli dan menguasai di bindang pendidikan., merasakan membuat RPP, laporan Wali Kelas, memikirkan Angka Kredit guru, melakukan penelitian tindakan kelas semua itu tidak pernah mereka lakukan, tiba-tiba mereka berdiri di depan para guru seolah-olah mereka ahli dalam semua itu.

Penulis pernah merasakan bekerja di perusahaan di salah  satu perusahaan tambang terbesar di Kalimantan Timur selama 3 tahun, dan sekarang baru selama hampir 6 tahun “mengabdi” menjadi guru. Gaji yang diterima saat ini sama dengan gaji yang pertama kali diterima pada tahun 2008 saat bekerja di perusahaan. Bahkan pernah penulis bertemu manager perusahaan yang berasal dari Kore Selatan saat telah menjadi guru dan dia membandingkan gaji penulis jika masih bekerja di perusahaan dengan ketika menjadi guru, dengan lantang dia berteriak ‘ ya jauh sekali, selisih 4 juta ya, kembali saja ke perusahaan’. Penulis hanya bisa tersenyum kecut mendengar kalimat tersebut, ada rasa pedih mendengarnya, jika dibandingkan besarnya tanggung jawab menjadi guru yang harus selalu mmemikirkan perkembangan muridnya dengan bekerja di perusahaan yang hanya memikirkan stok spare parts kendaraan perusahaan.

Ketika teman-teman buruh berdemo menuntut kenaikan upah para pejabat dengan sikap pahlawannya mengatakan akan selalu memperhatikan tuntutan buruh, para anggota dewan akan berkata akan kami perjuangkan semua tuntutan buruh, sambil mengpalkan tangan ke udara berteriak “ hidup Buruh”. Berbeda jika para Gur baik Honor maupun yang berstatus PNS menuntut kesejahteraan mereka, para pejabat dan anggota dewan hanya berkata sabar, bahkan ada ancaman untuk memutasi guru ketempat terpencil jika mereka berani berteriak tentang kesejahteraannya. Yang lebih bodoh lagi jika ada ucapan jumlah guru itu banyak makanya sangat sulit untuk memberikan kesejahteraan pada mereka. Sebuah ungkapan yang sangat bodoh dan konyol apalagi jika yang menyampaikan seorang pejabat pemerintahan. Logika bodohnya jumlah guru tidak akan banyak jika jumlah sekolah tidak banyak dan jumlah siswwa tidak banyak. Jika ingin jumlah guru tidak banyak silahkan tutup sekolah-sekolah dan jangan menjadi pahalawan dengan berkata pendidikan gratis.

Menjadi seorang Guru memang diakui penulis adalah sebuah kepuasan batin melihat anak didiknya begitu lulus mereka bekerja ataupun kuliah dengan berhasil, setidaknya ada angka nilai dari seorang guru yang menyebabkan mereka bisa bekerja maupun kuliah sesuai dengan harapan mereka, itu sebuah kepuasan yang tidak ternilai oleh seberapapun uang yang ada di dunia ini. Namun ketika kepuasan batin telah terpenuhi bagaimana dengan keluarga para Guru, siapa yang mau memikirkan mereka. Sekali lagi Guru dituntut harus professional dihadapan siswa,  guru tidak boleh memperlihatkan kekalutan pikiran mereka ketika mereka tidak di gaji selam berbulan-bulan, mereka tidak boleh memperlihatkan kesedihan mereka ketika mereka pulang anak-anak mereka menangis meminta sesuatu yang tidak bisa mereka penuhi, mereka harus selalu tersenyum walaupun mereka sendiri getir memikirkan anak-anak mereka masa depannya bagaimana. Bagi mereka yang tidak mengetahui bagaimana seluk beluk menjadi seorang guru akan selalu mengatakan bahwa menjadi guru itu enak, dapat tunjangan, sertifikasi dan selalu mendapat banyak libur ketika sekolah juga libur. Mereka membaca di media-media bahwa tunjangan guru diperhatikan guru mendapatkan sertifkasi yang jUmlahnya satu kali gaji pokok setiap bulannya. Mereka tidak tahu bahwa sertifikasi dari seorang guru harus melewati proses yang sangat panjang, Guru harus diuji kompeten tidaknya dalam mengajar dan proses itu memakan waktu bertahun-tahun, dan tunjangan sertifikasi Guru tidaklah cair setiap bulannya terkadang menunggu selama tiga bulan bahkan pernah terjadi selama setahun. Ketika guru ingin naik pangkat mereka harus dihadapkan persyaratan administrasi yang rumit belum lagi kewajiban melakukan penelitian dan publikasi karya ilmiah, berbeda dengan rekan-rekan PNS yang berada di jalur structural yang naik pangkat setiap 4 tahun otomatis tanpa harus mengerjakan syarat=syarat yang bermacam-macam cukup datang duduk manis selama 4 tahun maka mereka akan naik pangkat secara otomatis.

Pendidikan bukan sebuah janji-janji atau sebuah kalimat di undang-undang yang hanya pemanis dalam setiap gerak pemerintahan di Negara ini, tapi membutuhkan sebuah komitmen besar dari setiap pemimpin dan pejabat di negeri ini. Jangan karena negeri ini telah ratusan tahun telah dijajah, pemimpin serta pejabat-pejabat di Negara ini berperilaku dan mengelola negeri dengan gaya peninggalan  penjajah, yang tidak rela rakyatnya cerdas dan berpikir merdeka, sebuah kata merdeka tidak hanya untuk kemerdekaan secara fisik tapi dari pikiran bangsa ini haruslah merdeka. Hanya dengan jalan memajukan pendidikanlah kemerdekaan pemikiran dan kecerdasan bangsa ini bisa tercapai. Salah satunya adalah bagaimana menjadikan profesi Guru sebuah profesi yang tidaklah lebih rendah dari profesi yang lain, jangan hanya Guru diberikan sanjungan sebagai Pahlawan, tetapi perhatikan bagaimana Guru menjadi bangga dengan profesinya, jadikan Guru sebagai profesi yang menjanjikan seperti layaknya profesi Dokter, Dosen dan bahkan Anggota Dewan, karena ditangan Guru-guru inilah dokter, polisi, tentara bahakan Presiden sekalipun dididik, jika tidak lebih baik hapus saja kolom segala persyaratan nilai ijasah dan nilai raport ataupun riwayat pendidikan jika ingin mendaftar pekerjaan atau kuliah, karena angka-angka yang tertera dilembaran tersebut adalah sebuah nilai kerendahan hati seorang Guru yang ketika menilai muridnya menghilangkan segala keegoisannya meski sang murid memberi salam kepada Gurunya saja tidak. Bayangkan jika Guru yang mengajar di TK maupun SD meminta kompensasi atas ilmu membaca dan menulis yang diajarkannya kepada kita, tidak akanlah cukup harta kita untuk membayar semua itu justru itu pondasi dasar untuk kita menjadi seperti sekarang ini. Jangan biarkan Guru-guru ini sampai berteriak-teriak di jalan meneriakan tuntutan kesejahteraan mereka padahal mungkin diantara mereka yang berteriak terselip Guru anda yang dulu begitu mempecayai anda dan begitu yakin bahwa anda akan sukses. Jangan sampai justru anda ketika menjadi pemimpin, pejabat ataupun anggota dewan menjadi orang yang mempersulit Guru anda menjadi sejahtera, karena justru karena nilai-nilai dari Guru andalah yang menjadikan anda di posisi sekarang, jika anda menampikkan itu tolong kembalikan ijasah dan nilai –nilai rapot anda ke Guru anda,biarlah mereka bisa ikhlas menerima pelakuan anda.

Tulisan ini hanyalah dari seorang Guru masih terus belajar untuk menjadi Guru, dari seorang murid yang tidak disangka-sangaka bertemu dengan Wali kelasnya dan sekarang menjadi sesama rekan Guru dalam satu lingkungan sekolah. Tulisan ini luapan emosi yang terkumpul ketika mendengar keluhan seorang Guru yang menjadi orang tua tunggal yang harus menghidupi 2 anaknya sementara gaji tidak dibayarkan. Tulisan ini luapan emosi ketika menonton berita seorang guru mengabdi 20 tahun menjadi honor dan hanya dibayar 200 ribu rupiah perbulan. Tulisan ini luapan emosi ketika pejabat-pejabat pemrintahan melintas dengan gagahnya menggunakan kendaraan plat merahnya sementara seorang Guru mlintasi hutan dan sungai hanya untuk mengajar tanpa meminta SPPD atau uang perjalanan DInas yang dinikmati pejabat ataupun anggota dewan yang jika dipotong haknya sedikit saja akan berteriak marah-marah bahwa itu memang adalah haknya dan mereka berhak menerima walaupun tidak kelihatan kerja mereka. Tapi satu hal yang pasti Guru bukanlah profesi Pengemis (pengemis saja pnghasilannya lebih besar dari guru), lupakanlah Guru tapi jangan tuntut Guru untuk mengubah wajah negeri ini menjadi bangsa yang cerdas. Silahkan rendahkanlah Guru tapi tolong jangan daftarkan anak anda di sekolah, sangat lucu anda merendahkan profesi Guru tapi minta  mereka menaikkan derajat anak anda. Maafkan kami para Guru, kami bukanlah manusia sempurna. 

Ikuti tulisan menarik taufic Rizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler