x

Iklan

Chaterine Tika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mengorbankan Privasi Demi Sebuah Eksistensi

Berita bohong tidak akan menyebar cepat seperti virus apabila pengguna medsos melek literasi media dan sadar bahwa hak privasinya sedang dipertaruhkankan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kunjungan saya ke Jogja beberapa waktu lalu menyisakan banyak perenungan. Salah satunya ketika saya berjumpa dengan kakak tiri saya yang beberapa tahun tidak bertemu.

“Dek, nama facebook kamu apa?” Ucap kakak tiri saya.

“Sudah nggak facebook-an Mas, saya non aktif-in”

Mendengar hal ini, lantas kakak tiri menampakkan “kegetunan”. Sesudah itu panjang lebar Ia menasihati bahwa facebook sangat penting untuk mencari kolega dan komunitas. Sebagai wirausaha kelas menengah Ia merasa mendapat banyak keuntungan dengan bergabung komunitas usaha sejenis melalui facebook. Ia beranggapan hal ini dapat digunakan pula bagi saya yang sedang mencari informasi tentang beasiswa kursus pendek di luar negeri.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tidak hanya itu saja, kakak tiri saya juga menceritakan pengalaman akun facebooknya pernah di hack seketika ia memposting sesuatu tentang filsafah agama. Dalam hitungan jam akun facebook kakak tiri saya lenyap, tidak dapat diakses ataupun ditemukan.

Yap, kakak saya mengalami keuntungan dan kesialan dari media sosial semacam facebook namun Ia tetap bertahan menjadi pengguna akun facebook hingga sekarang. Pengalaman kurang mengenakkan seperti ini bisa saja terjadi kepada siapapun dan banyak kasus serupa terjadi. Untunglah, dari jaman Friendster hingga Instagram saya belum pernah mengalami.

Saat saya menyinggung tentang kasus Skandal Cambridge Analytica, di mana facebook terseret dalam pemanfaatan tidak sah atas data jutaan pengguna facebook untuk tujuan kampanye politik, kakak tiri saya tetap bergeming pada penilaiannya terhadap facebook memberikan banyak faedah. Bagaimana dengan Anda?

 

Perang Psikologi dengan Big Data

Secara umum, media baru seperti media sosial telah disambut oleh media tradisional dengan positif. Sekalipun berangsur-angsur mulai muncul ketakutan sekaligus optimisme mengenai konsekuensi media baru yang luas, contohnya kerangka regulasi dan kontrol yang dibentuk. Memang benar terjadi, konsekuensi ini nyatanya belum sepenuhnya dimitigasi dengan regulasi dan kontrol yang kencang. Hal ini dapat kita lihat dari kasus skandal Cambridge Analytica. Skandal ini telah menyeret nama besar CEO Facebook, Mark Zuckerberg yang sedang menjadi trending topic di berbagai laman internet dengan potongan video persidangannya dengan para senator Amerika terkait kasus pelanggaran kesepakatan 2011 yang salah satu isinya berjanji melindungi privasi pengguna facebook.

Merangkum artikel Majalah Mingguan Tempo Edisi 2-6 April 2018 berjudul Jejak Firma Tuan Bond, disebutkan ada sebuah Grup Strategic Communication Laboratories (SCL) yang bermarkas di Inggris yang salah satu anak perusahaanya adalah Cambridge Analytica telah melakukan ratusan proyek operasi big data dengan perang psikologi. Perusahaan ini mengklaim telah menangani lebih dari seratus kampanye pemilihan umum di seluruh dunia. Adapun sejumlah proyek tersebut diantaranya sebagai tim konsultan kampanye Ted Cruz meskipun tidak lolos dalam pemilihan presiden Amerika tahun 2015, tim kampanye President Donald Trump dua tahun silam, hingga kasus dukungan untuk “Brexit”. Jejak di Indonesia sendiri, Abdul Rahman Wahid alias Gus Dur di isu kan pernah menjadi klien grup SCL ini ketika maju menjadi presiden melalui sidang umum MPR tahun 1999.

Lesson learn dari kasus di atas, ancaman terbesar saat ini adalah krisisnya hak privasi yang tidak diikuti dengan kesadaran masyarakat akan literasi media. Dari sinilah perang psikologi mendapatkan ruang gerak. Pengolahan alogaritma dari big data yang dikonversikan dalam analisis psikologi manusia menghasilkan senjata untuk mempengaruhi target yang diinginkan. Apabila seseorang terbiasa membuka konten mengenai keburukan calon presiden X, maka sifat konten yang sering disajikan kurang lebih sama. Maka ia akan melihat keburukan calon presiden X itu sebagai kebenaran karena banyaknya pemberitaan yang diterima senada. Misi perang psikologi ini adalah korban akan disuntik dengan doktrin tentang keburukan atau kebaikan suatu subyek sesuai keinginan klien.

Kebiasaan umum pengguna internet yang bebas klik sana sini dipelajari sangat baik dengan mesin alogaritma. Untuk itu jangan heran jika apapun konten yang sedang kita buka sering muncul iklan situs dengan konten yang relevan dengan riwayat pencarian sebelumnya. Akibatnya, mesin pencari akan mengarahkan pada satu perspektif isu yang relatif sama. Jika hal ini terus menerus disajikan niscaya pemahaman seseorang akan hanya terarah pada satu perspektif yang diyakini itu benar, karena konten-konten yang diterima seolah-oleh  menjadi evidence keyakinan yang benar.

Untuk diketahui bahwa facebook memiliki learning machine berupa aplikasi MyPersonality yang dikembangkan Michal Konsinski dari Stanford University dan David Stillwell dari University of Cambridge. Mesin itu dapat mengetahui profil dari orang berdasarkan alogaritma OCEAN (Openness, Conscientiousness, Extroversion, Agreeableness, Neuroticism) hanya dengan 70 like apa saja, mesin dapat mengetahui perilaku pengguna tersebut. Saya juga teringat adanya beberapa aplikasi juga menggunakan alogaritma OCEAN ini untuk memperdalam interpersonal dan karakter pengguna akun, contoh yang saya ketahui yang digunakan oleh beberapa akun biro jodoh online.

Pada aplikasi biro jodoh online, analisis alogaritma yang dikembangkan terang-terangan digunakan untuk mencocokkan pasangan. Lalu bagaimana dengan proyek yang dilakukan Cambridge Analytica dengan ilmu alogaritma ini? Apakah masih bisa dipandang sebagai manfaat?

Kasus ini membuktikan ketakutan bahwa internet dapat melampaui fase keterbukaaan dan demokrasi baru asumsi awal saja. Selebihnya, skandal ini memperlihatkan kengerian yang lebih besar akibat operasi big data dengan pengolahan rekaman riwayat aktivitas ber-medsos menjadi alat propaganda politik. Sayangnya, tidak banyak orang menyadari bahwa setiap pengguna akun sosial media memiliki potensi yang besar menjadi korban dari penjualan tidak sah atas data privasi yang mencakup profil hingga seluruh aktivitas bermedia sosial mereka.

 

Digital is Immortal

Digitalisasi dan konvergensi memiliki konsekuensi yang revolusioner, hal ini menjadikan internet telah memiliki peran yang dominan dalam segala aktivitas. Contohnya hadirnya ojek online dengan berbagai fasilitas perangkainya, biro jodoh online, belanja online, segala yang berbau online telah menjadi fasilitas primer di Era Jaman Now.  Kehidupan kedua juga tidak kalah menarik sebagai kebutuhan yang perlu diperhitungkan, yaitu eksistensi di dunia maya.

Rata-rata generasi millenial tumbuh berkembang bersama facebook. Bertahun-tahun lamanya facebook menjadi tempat arsip atas segala curhatan, percakapan, status, foto dan video dari pengguna di berbagai belahan dunia. Meskipun beberapa generasi millenial mulai meninggalkan facebook dan beralih ke sosial media yang lain, data digital yang telah ditinggalkan di facebook bisa jadi sebuah investasi dan kelak menjadi harta karun. Selain itu, untuk mencari rekam jejak data digital yang telah dihapus pun ada berbagai cara, artinya keamanan pengguna sosial media belum nyata ada.

Lesson learn, pengguna sosial media sebaiknya segera menyadari bahwa segala informasi yang berkaitan dengan data digital adalah abadi, tidak begitu saja mudah dihapus. Sosial media layaknya media Public Relation, Ia merupakan media strategis untuk membangun citra diri atau reputasi. Reputasi efeknya jangka pendek sehingga apa yang anda lakukan di media sosial sifatnya sementara, semu dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Komentar positif tidak multak berarti positif. Begitu pula sebaliknya. Sementara dalam sosialisasi kehidupan nyata, manusia membutuhkan trust  yang efeknya lebih ke jangka panjang.

Berbicara produktifitas, saya sendiri mulai kesal dan membenci diri sendiri ketika tanpa sadar waktu produktif digunakan untuk scrolling media sosial yang kurang berfaedah. Saat hari kerja, saya non-aktifkan akun sosial media untuk menghalau dorongan untuk scrolling for nothing to scroll ini. Bagi yang merasakan kegalauan dan candu akut akibat media sosial, perlu merefleksi diri dengan pertanyaan apa yang terjadi jika saya tidak memiliki media sosial, termasuk kekurangan dan kelebihannya. Temukan implikasinya, seberapa perlu Anda menggunakannya dalam pekerjaan hingga kehidupan pribadi? Kapan saya harus gunakan dan kapan harus saya menarik diri dari media sosial?

 

Kawan atau Lawan

Berangkat dari cerita kakak tiri saya, saya pun memahami bahwa facebook telah memeberikan banyak keuntungan sekalipun facebook tidak dapat sukses mengontrol seseorang hacker menghapus akun facebooknya. Dalam segi ekonomi, facebook telah menyumbang banyak manfaat sebagai agensi pribadi semua kalangan untuk bergabung dalam ekosistem bisnis baru dengan gaya komunikasi virtual. Di mana ekosistim bisnis baru ini telah mendorong kebangkitan ekonomi secara meluas.

Dalam segi gaya hidup, bermunculan hobi-hobi yang semakin banyak peminat, seperti traveling, fotografi, videografi, kuliner, blogging, hingga programming. Hal ini tentu saja sering dengan perkembangan sosial media yang telah menggeser konsepsi kehidupan masyarakat tradisional. Artinya perusahaan media sosial sendiri telah merasuki sistem kehidupan masyarakat luas, yang memaksa mereka untuk terus melayani dan tumbuh. Tulisan dalam New York Times berjudul “Can Social Media Be Saved” membantu saya melihat sosial media dalam sudut pandang lain.

The primary problem with today’s social networks is that they’re already too big, and are trapped inside a market-based system that forces them to keep growing. Facebook can’t stop monetizing our personal data for the same reason that Starbucks can’t stop selling coffee — it’s the heart of the enterprise.

Awalnya saya sempat beranggapan bahwa media sosial mampu menjadi alat demokrasi yang kompatibel untuk era digitalisasi,  tetapi perlu diingat juga penyelewengan big data facebook ini mencederai kepercayaan pengguna agar lebih berhati-hati menggunakan sosial media dalam menyalurkan berbagi aspirasi umum apalagi politik. Perlu dipahami bahwa satu-satunya gate keeper dari banyaknya konten informasi saat berselancar bebas di samudera maya adalah pengguna akun itu sendiri. Sudah banyak perusahaan media massa ternama dan kredibel merambah ke dunia media sosial, artinya akses informasi yang akurat dan valid telah hadir menyeimbangkan banyaknya berita bohong yang memadati media sosial.

Sebuah ilmu akan cepat menyebar untuk dipelajari, apabila regulasi dan kontrol tidak lebih canggih dari pengembang teknologi niscaya kasus serupa skandal Cambridge Analytica akan terulang kembali dengan kemasan yang lebih elegan dan samar untuk diidentifikasi. Untunglah kasus Cambridge Analytica ini terkuak sebelum pemilihan presiden 2019, paling tidak meminimalisir potensi salah satu calon tergiur menjadi klien sejenis Cambridge Analytica untuk mengecoh para pengguna akun facebook dengan sengatan propaganda yang menguntungkan salah satu pihak dengan kampanye hitam.

***

Ikuti tulisan menarik Chaterine Tika lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu