x

Iklan

Syamsul B

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Nilai Rupiah Menurun, Investor Masih Punya Peluang

Dalam kondisi ekonomi penuh tekanan, investor bisa ambil peluang di sektor UMKM

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Belakangan hari, nilai rupiah yang sudah menyentuh angka Rp15.000 per dolar menjadi perbincangan banyak pihak. Bagaimana tidak, sejak beberapa tahun belakangan, depresiasi nilai tukar mata uang garuda ini seolah tak terbendung. Pada tahun 2014, nilai rupiah masih bertengger di angka Rp12 ribuan per dolar dan sekarang nilainya menurun hingga 25%.

Banyak pihak dan investor dari dalam dan luar negeri yang meragukan kondisi ekonomi nasional saat ini. Pun, tidak sedikit pihak yang mengingatkan kita pada bayang-bayang krisis finansial di tahun 1997.

Padahal, sebetulnya investor tidak perlu khawatir secara berlebih. Belakangan ini, pemerintah sudah melakukan langkah-langkah penting untuk mengantisipasi depresiasi lebih lanjut. Ada peluang ekonomi yang masih tersedia bagi investor.

Langkah Pemerintah

Isu depresiasi nilai tukar di negara berkembang bukanlah hal baru. Pada tahun 2013, ekonom dari Goldman Sach sudah memperingatkan negara-negara berkembang akan ekonominya yang rentan. Spesifiknya, mereka menunjuk Indonesia, Turki, Brazil, Afrika Selatan, dan India sebagai ‘The Fragile Five’ sebab negara-negara ini mengalami defisit transaksi berjalan akibat minimnya ekspor dan impor yang tinggi. Itu artinya, negara-negara ini lebih banyak mengeluarkan devisa dibanding mendapatkannya dalam transaksi internasional. Alhasil, arus modal keluar tidak terhindarkan dan depresiasi nilai tukar menjadi-jadi.

Peringatan tersebut ternyata bukan angin lalu. Kita melihat sendiri, Turki kini sedang tertatih-tatih akibat lira yang jatuh, sementara Indonesia bersama tiga negara lainnya sedang berusaha bertahan dari tekanan terhadap mata uang mereka.

Pemerintah memang denial dengan faktor defisit transaksi berjalan selama beberapa tahun ini. Pemerintah lebih sering berdalih kalau depresiasi lebih disebabkan faktor eksternal yang berupa perubahan sentimen pasar akibat kenaikan suku bunga The Fed.

Faktor eksternal memang betul berpengaruh. Meningkatnya suku bunga bank sentral negeri Paman Sam tersebut memicu kembalinya modal dari negara berkembang ke negeri asalnya.

Akan tetapi, depresiasi nilai tukar yang sangat tajam sebetulnya bisa dicegah bila pemerintah sudah jauh-jauh hari berfokus menangani defisit transaksi berjalan. Arus modal yang keluar dalam jumlah besar bisa dikurangi dengan memperkuat ekspor.

Baru ketika angka defisit transaksi berjalan menyentuh 3% pada Agustus kemarin, usaha pemerintah mengatasi nilai tukar lebih terlihat. Untuk mengatasi masalah ini secara jangka pendek, setidaknya ada dua kebijakan penting yang perlu dicatat investor.

Pertama, adalah kebijakan peninjauan untuk 900 produk impor untuk komoditas konsumtif. Hal ini penting dilakukan untuk menekan tingkat impor, sementara pemilihan komoditas konsumtif cukup tepat mengingat penghentian impor komoditas produktif akan memperburuk produktivitas industri nasional.

Kedua, adalah implementasi kebijakan B20 sejak awal September ini. Melalui kebijakan ini, pengambil kebijakan ingin mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dengan mencampur solar dengan biodisel. Hal ini bisa menekan impor minyak, mengingat sawit, sebagai bahan baku biodisel, cukup berlimpah di Indonesia.

Tentu kebijakan-kebijakan tersebut cenderung defensif. Pemerintah belum mengatasi akar masalahnya, yakni rendahnya ekspor.

Secara jangka panjang, kebijakan penting justru berasal dari sektor keuangan. Pada pertengahan Agustus kemarin, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan paket kebijakan untuk mendorong tumbuhnya investasi ke unit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan sektor pariwisata.

Kebijakan ini penting sebab sektor UMKM masih menjadi tonggak utama ekonomi nasional. Lebih dari 60% PDB Indonesia ditopang oleh sektor ini, sementara lebih dari 90% tenaga kerja dalam negeri diserap ke sektor ini. Namun sayangnya, kontribusi sektor ini terhadap ekspor masih minim, yakni hanya sekitar 15%. Dengan tumbuhnya investasi di sektor ini, harapannya UMKM bisa berekspansi dan mengarahkan orientasi mereka ke ekspor. UMKM masih menyimpan potensi yang besar.

Di sisi lain, pariwisata menjadi sektor yang strategis untuk mendatangkan devisa secara cepat. Lantaran, tidak seperti ekspor, devisa yang masuk ke sektor pariwisata lebih cepat terkonversi ke dalam negeri.

Investor Bisa Ambil Peluang

Seiring melemahnya rupiah, investasi jangka pendek bukan pilihan yang tepat. Selama beberapa bulan belakangan, indeks harga saham ditutup melemah. Ada kemungkinan hal ini akan berlanjut sebab depresiasi nilai tukar yang terus terjadi akan memicu penarikan modal dari pasar keuangan dalam negeri.

Di sisi lain, depresiasi nilai tukar memicu melebarnya inflasi akibat meningkatnya harga barang-barang impor. Ada kemungkinan inflasi akan semakin melebar, sebab pemerintah akan meninjau barang-barang impor.

Lewat rangkaian kebijakan baru-baru ini, pemerintah sebetulnya memberi sinyal pada pasar agar lebih berinvestasi di sektor jangka panjang.

Paket kebijakan keuangan dari OJK memberi peluang yang besar bagi investor untuk terlibat di perkembangan usaha UMKM. Ada kemungkinan permintaan investasi dari sektor ini meningkat, sehingga modal dari investor bisa diserap secara berimbang.

Selain itu, dengan bantuan modal dan pendampingan yang cukup, UMKM berpeluang besar untuk berekspansi, sehingga bisa memberi imbal hasil yang besar bagi investor.

Memang, masalah utama investasi di sektor ini adalah banyaknya UMKM yang tidak bankable sehingga membuat modal sulit terdistribusi ke mereka. Namun hal ini bisa diatasi bila investor memanfaatkan industri fintech P2P lending yang sedang mekar selama belakangan tahun.

Fintech ini dapat menghubungkan investor dengan unit-unit usaha kecil yang membutuhkan modal yang belum bankable. Dengan demikian, dari segi infrastruktur, peluang berinvestasi pada masih UMKM terbuka lebar.

Industri ini disebut secara khusus oleh OJK dalam rilis paket kebijakan terbarunya. Dengan demikian, investor bisa memberi kepercayaan khusus kepada mereka.

Tentu, dalam kondisi seperti ini, investor harus banyak bersabar dan mengurangi investasi di sektor jangka pendek. Kondisi sekarang bukanlah saat yang tepat. Investasi secara jangka panjang di sektor UMKM adalah peluang bagi investor dalam kondisi seperti ini.

Ikuti tulisan menarik Syamsul B lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

10 jam lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

10 jam lalu