x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Memata-matai Penulis

Di negara demokrasi sekalipun, penulis dimata-matai aparat negara.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Apakah penulis punya potensi menjadi ancaman bagi negara? Banyak pemerintahan, yang menganggap dirinya mewakili negara seratus persen, memandang penulis sebagai ancaman potensial yang mesti diwaspadai. Bahkan, di negara yang menyebut diri kampiun demokrasi seperti Amerika Serikat, penulis dimata-matai karena dianggap dapat membahayakan negara—setidaknya itulah yang berlangsung untuk waktu yang lama ketika J. Edgar Hoover memimpin biro investigasi federal (FBI) sejak 1924 hingga kematiannya pada 1972. Hoover memegang kekuasaan yang luar biasa, bahkan mungkin menandingi presiden AS pada masanya.

Hoover mengerahkan anggota FBI untuk melakukan hal yang menyita waktu: mengumpulkan berkas-berkas tentang novelis, sejarawan, penulis, maupun jurnalis maupun mengenai apa yang ditulis orang-orang itu. Mereka dianggap Hoover sebagai orang-orang yang berhahaya karena pikiran dan gagasan mereka. Agen-agen FBI di bawah Hoover mengawas, membuntuti, dan menghimpun 16 penulis di antaranya Hannah Arendt, Allen Ginsberg, Ernest Hemingway, Susan Sontag, Ayn Rand, Tom Clancy, maupun Aldous Huxley.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ray Bradbury, penulis yang mashur berkat karyanya Fahrenheit 451, dibuntuti karena seorang informan memeringatkan bahwa science fiction adalah plot jahat Soviet untuk memperlemah Amerika. Informan FBI itu seorang penulis skenario yang mencurigai Bradbury memiliki latar belakang komunis. Menurut informan ini, Bradbury menulis fiksi sains sebagai cara memperkenalkan ideologi komunis kepada masyarakat Amerika.

Dengan dukungan organisasi nirlaba MuckRock, JPat Brown, B.C.D. Lipton, dan Michael Morisy menghimpun dokumen-dokumen rahasia FBI berdasarkan Freedom of Information Act. Ketiganya kemudian menyunting bahan-bahan ini menjadi sebuah buku, Writers Under Surveillance (2018). Melalui buku ini, Brown dkk merasa telah menunaikan apa yang seharusnya diketahui oleh publik. “Masyarakat harus tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dan apa yang telah dilakukan oleh pegawai negeri atas nama publik,” kata Brown.

Allan Ginsberg juga jadi sasaran pengawasan, antara lain karena ia pernah pergi ke Kuba pada tahun 1960an. Namun, dokumen FBI itu juga menyingkapkan bahwa agen FBI menyusun laporan mengenai berita harian New York Times edisi 5 Maret 1960 yang memuat pembacaan karya-karya Ginsberg diiringi alunan musik jazz. Laporan agen itu disusun agaknya karena pembacaan puisi Ginsber berlangsung Viola, sebuah kafe di kota Praha, Cekoslowakia (waktu itu).

Sejumlah penulis perempuan tidak luput dari pengawasan FBI. Pikiran-pikiran mereka dianggap radikal, sebutlah di antaranya Hannah Arendt karena menulis buku mashur The Originis of Totalitarianism. Kunjungan Susan Sontag ke Vietnam Utara dan tulisannya tentang perjalanan ke Hanoi menguatkan minat FBI untuk mengawasinya. Begitu pula, pikira-pikiran Ayn Randt telah mengundang FBI di bawah Hoover untuk terus memasang mata.

Buku yang memuat arsip sepak terjang FBI ini menarik sebagai contoh tentang bagaimana aparat negara menggunakan wewenangnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang menurut sudut pandang mereka penting demi ‘keselamatan negara’. Buku ini juga menunjukkan betapa di negara demokrasipun aparat merasa layak sepenuhnya untuk memata-matai warganya sendiri karena tulisan mereka. Buku yang diterbitkan oleh MIT Press ini merupakan yang pertama dari seri yang direncanakan. Publik harus tahu, kata Brown, sebab arsip-arsip ini merupakan ‘sejarah yang dicuri’. **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler