Utang versus Lahan - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Utang versus Lahan

    Dibaca : 262 kali

     

    Argumen tidak selalu harus diladeni dengan kontra-argumen. Itulah pelajaran yang dapat dipetik dari wacana yang berlangsung selama ini, sehingga diskusi tentang isu-isu penting bangsa ini tidak pernah berlangsung di pusat persoalannya, melainkan bergulir di tepiannya. Apa lagi berharap ketemu jalan keluarnya, jangan mimpi. Wacana seperti ini terutama berlangsung di antara elite politik.

    Beberapa waktu lalu, misalnya, wacana utang luar negeri terhenti begitu saja ketika kritik capres Prabowo Subianto dijawab oleh Menkeu Sri Mulyani dengan puisi. Isu penguasaan lahan pun tidak berlanjut hingga ke substansinya ketika kedua kubu hanya saling melempar ‘kerikil’: ‘Sekeliling loe juga para tuan tanah’. Alhasil, rakyat tidak memperoleh gambaran utuh tentang situasi sesungguhnya utang kita dan penguasaan lahan di negeri ini. Belum lagi isu-isu penting lainnya. Apakah ini bagian dari ‘ah, kita kan sama-sama tahu’.

    Kontra-argumen yang sejati akan menukik pada inti pendapat yang disampaikan lawan bicara dan bukan menggeser isu perdebatan ke wilayah pinggiran alias ngeles. Jika seseorang menggeser isu dari yang pokok ke pinggiran, sesungguhnya ia telah menjadikan kritik atau pendapat lawan bicaranya sebagai non-isu atau sesuatu yang tidak penting untuk dibicarakan. Dengan me-non-isu-kan sebuah topik pembicaraan, seseorang telah menghentikan pembicaraan justru ketika baru dimulai dan belum menyentuh inti persoalan.

    Dengan menjadikan non-isu, bukan berarti bahwa isu tersebut benar-benar tidak penting, melainkan karena orang tersebut tidak mau menerjunkan diri dalam debat mengenai isu itu. Ia memilih untuk menghindar dari pembicaraan tentang isu tersebut karena alasan tertentu. Dengan tidak mau menanggapi pokok masalahnya, ia juga ingin menimbulkan kesan di hadapan masyarakat bahwa apa yang disampaikan lawan bicaranya itu bukan sesuatu yang penting untuk ditanggapi.

    Menghindari adu argumen memang kerap dipilih sebagai cara agar tidak terlibat dalam pembicaraan yang berpotensi tidak menguntungkan. Ada banyak isu penting yang sempat terlontar di ranah publik namun tidak tereksplorasi lebih mendalam karena argumen tidak dijawab dengan kontra-argumen, melainkan dengan menjadikannya non-isu. Dalam debat tatap muka, hal seperti ini kerap dilakukan. Pertanyaan atau kritik yang cenderung merugikan tidak diladeni. Singkirkan saja ke wilayah pinggiran debat dan mentahkan tanpa perlu capek berargumen.

    Jika lawan debat tidak punya kecerdikan untuk memancingnya kembali ke isu yang ia lontarkan, maka isu tersebut akan benar-benar hilang dari ruang perdebatan. Isu pokok akan lenyap dan tergantikan oleh isu pinggiran. Itulah yang terjadi selama ini dan ini pula yang menyebabkan rakyat tidak dapat mengukur secara memadai penguasaan para capres atas beragam persoalan bangsa kita maupun kapasitas masing-masing dalam memecahkan persoalan tersebut. Debat pinggiran menyebabkan rakyat tidak memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bagaimana sesungguhnya keadaan bangsa dan negara ini. **


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.