Generasi Muda Harus Jadi Harapan di Era Ketidakstabilan Global - - www.indonesiana.id
x

Indri Puji Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 3 Mei 2019 13:38 WIB

  • Topik Utama
  • Generasi Muda Harus Jadi Harapan di Era Ketidakstabilan Global

    Mahasiswa Hubungan Internasional mampu memahami permasalahan global yang ada dan bisa memberi kontribusi atau tepatnya menjadi harapan masa depan untuk mengatasinya.


    Dibaca : 702 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Banyak permasalahan dunia yang mengancam stabilitas global seperti; perdagangan anak, proxy war, narkoba, terror, dan lain sebagainya, yang membuat kelangsungan Negara Indonesia terancam. Kendati demikian, masih terdapat harapan yang dapat diupayakan generasi muda sebagai calon pemimpin dalam mengatasi permasalahan pelik tersebut. Ini lah yang menjadi sasaran kegiatan Youth & Peace: Hope in An Era of Global Instability, pada 26 April 2019 di D 502 UPH Kampus Lippo Village; sebagai bagian dari tugas akhir kelas Capstone mahasiswa Hubungan Internasional (HI) UPH.

    Kegiatan ini menghadirkan 14 booth dengan merepresentasikan 14 isu permasalahan global dunia yang dipamerkan kepada siswa sekolah menengah sebagai target partisipan. Bersama Departemen Marketing and Admission, sebanyak 303 siswa SMA dari 14 sekolah di sekitar Bogor, Jakarta, dan Tangerang ini hadir dan mendengar paparan dari setiap booth yang ada. Ke-14 isu tersebut mengenai Migrant Workers, Foreign Support for Separatist Movement, Forest and Climate Change, Human Trafficking, Child Worker, Cyber Security and Espionage, Refugee and Displaced People, Fair Trade and Working Environment, Cultural Claims, Drug Trafficking, Money Laundering, Territorial Dispute Including Illegal Fishing, Radicalism and Terrorism, dan Human Security.

    “Dengan kegiatan seperti ini kami mau mahasiswa HI yang nanti akan terjun dalam masyarakat mampu memahami permasalahan global yang ada dan bisa memberi kontribusi atau tepatnya menjadi harapan masa depan untuk mengatasinya. Dengan pameran ini para mahasiswa dituntut untuk bisa melihat fenomena yang ada melalui kacamata teori HI, multidisiplin, perspektif secular, kemudian menuangkannya dalam booth yang ada. Kemampuan mahasiswa untuk bekerja dalam kelompok dalam proses untuk mengungkapkan kembali isu yang ada melalui pameran dan presentasi adalah wujud tercapainya tujuan pendidikan tingkat 5 dalam taxonomy bloom yang juga mencakup ketiga ranah kemampuan baik kognitif, afektif maupun psikomotor,” jelas Elyzabeth B. Nasution – Ketua Program Studi Hubungan (HI) Universitas Pelita Harapan.

    Acara Youth & Peace sengaja melibatkan siswa sekolah menengah, dengan tujuan agar para siswa sebagai calon pemimpin mendatang dapat dipupuk kesadarannya terkait permasalahan global. Sehingga melalui pembekalan ketrampilan strategi perdamaian sejak dini, diharapkan membantu mereka menjadi pemimpin yang peka dan tidak jadi bagian dari masalah di masa mendatang. (pl)

     ------

    Testimoni Siswa

    ------

    Soh Nicaise Kenny

    Jubilee School – Kelas 11

    “Menurut aku, acara ini ngebuat kita kaum anak muda lebih aware dengan hal-hal yang harusnya kita sudah tahu. Jadi misal kalau dari dulu kita mementingkan budaya sendiri, pasti tidak akan ada yang merebut. Jadi hal seperti ini bisa untuk kita nanti ceritakan kembali pengetahuannya ke anak cucu kita."

    Ikuti tulisan menarik Indri Puji Lestari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.