Madeg Pandito ala Jaka Tingkir: Pilihan Sikap Negarawan Sejati - Analisa - www.indonesiana.id
x

Santri sebagai kelas sosial cukup mapan di Indonesia

Eko S. Nurcahyadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Juli 2019

Selasa, 30 Juli 2019 07:02 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Madeg Pandito ala Jaka Tingkir: Pilihan Sikap Negarawan Sejati

    Dibaca : 1.753 kali

    Tidak mudah bagi seorang penguasa politik menyerahkan kekuasaan kepada pihak lain yang bukan pilihannya. Keadaan lebih menyakitkan lagi jika penyerahan kekuasaan tersebut melalui serangkaian pergulatan kekerasan yang memaksanya menyingkir dari area pusat pemerintahannya. Hasrat untuk terus melakukan perlawanan dipastikan terus membuncah atas nama dendam dan kebencian. Hanya penguasa yang memiliki sikap negarawan sejati mampu melakukannya.

    Adalah Raden Mas Karebet yang di masa mudanya dipanggil Jaka Tingkir lalu di kemudian hari bernama abiseka Hadiwijaya sang pemimpin peralihan kekuasaan dari kesultanan Demak Bintoro ke kesultanan Pajang. Perpindahan itu menandai peralihan corak kekuasaan politik yang cukup kentara. Jika kesultanan Demak sangat ditentukan oleh arahan dewan wali, maka kesultanan Pajang determinasi visi kerajaan Islam para wali mulai pudar. Gradasi warna syar’i di kesultanan Pajang dibilang sedikit mengalami penurunan.

    Penurunan ini dapat dimengerti karena Mas Karebet adalah putra Ki Ageng Pengging. Sang ayah adalah seorang bangsawan tinggi Majapahit yang menganut Islam sinkretis murid Syekh Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar). Ki Ageng Pengging juga tercatat sebagai tokoh sufi kejawen berpengaruh yang konsisten memilih jalan kultural. Sampai akhir hayatnya ia tidak pernah mengakui kedaulatan kesultanan Demak namun tidak mengambil sikap konfrontatif, walaupun akhirnya tetap dieksekusi mati oleh Sultan.

    Dari sinilah awal mula cetak biru sistem kekuasaan kesultanan Pajang berakar. Sebagai putra tunggal, dia banyak mewarisi spirit dan warna keagamaan leluhurnya. Lebih-lebih pada masa kanak-kanak dan remajanya diasuh oleh Ki Ageng Tingkir karena sejak kecil telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Dari orang tua asuh inilah Raden Mas Karebet memperoleh nama panggilan Jaka Tingkir.

    Pada usia belasan Mas Karebet berguru kepada Sunan Kalijaga , Ki Ageng Selo, Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Butuh serta guru sufi Jawa utama lainnya. Dari para guru tersebut Jaka Tingkir akhirnya memperoleh kematangan yang sempurna untuk memulai sebuah babak baru sejarah di tanah Jawa.

    Perjalanan Menjemput Takdir
    Setelah merasa cukup dengan pengembaraannya kepada para guru yang tergolong masih sahabat ayah kandungnya sendiri, Jaka Tingkir memutuskan kembali ke desa Tingkir tempat tinggal ayah asuhnya. Tampaknya ayah angkatnya merasa puas dengan pencapaian jasmani dan ruhani putra asuhnya. Lalu dengan penuh kewaskitaan dan kecermatan perhitungan sesepuh dukuh Tingkir tersebut memerintahkan Jaka Tingkir pergi ke istana Demak untuk menjemput takdirnya.
    Melalui proses inisiasi yang dramatik Jaka Tingkir diterima sebagai abdi oleh sultan Trenggono. Dengan senang hati Sultan memberinya jabatan lurah prajurit dengan gelar Wira Tamtama. Sikap dan performanya sebagai pimpinan satuan elit prajurit sangat mengesankan para pembesar kerajaan.

    Pembuktian diri yang sangat baik dalam mengemban berbagai tugas kerajaan membuat kariernya melesat hingga menjadi salah satu sosok penting dalam lingkaran inti sultan. Keberadaannya selalu memperoleh sambuatan luas baik di dalam maupun di luar istana. Atas kepercayaan sultan trenggono Jaka Tingkir dihadiahi putri kesayangannya Ratu Mas Cempaka dan jabatan Adipati Pajang dengan gelar Hadiwijaya.

    Suatu hal yang jamak terjadi dalam dinamika pemerintahan dinasti manapun, Demak juga mengalami krisis internal akibat persaingan sengit antar keluarga. Kemelut politik berkepanjangan di era Sultan Trenggono mengancam keutuhan kerajaan. Keadaan itu membuat Ratu Kalinyamat sebagai ahli waris tertua atas tahta mengambil langkah pribadi dengan memberi kewenangan penuh kepada Hadiwijaya untuk menyelamatkan istana. Dengan wewenang besar itu Adipati Pajang mengembalikan kestabilan politik kesultanan Demak. Istana pun kembali aman dan nyaman.
    Meskipun begitu persaingan tajam antar keluarga istana tidaklah berhenti. Berbagai intrik di lingkaran dalam masih terus terjadi yang makin memperlemah posisi tawar keluarga sultan berhadapan dengan kekuatan yang mulai dibangun Hadiwijaya di Pajang. Sebagai salah satu wilayah kadipaten bawahan kesultanan Demak, Pajang menjadi wilayah sangat populer dan paling penting secara politik.

    Sejak itu sebenarnya secara de jure eksistensi sultan Demak hanya sebatas formalitas saja karena secara de facto kendali kekuasaan berada di Pajang. Tak lama kemudian sultan Trenggono wafat yang memberi keleluasaan pada Hadiwijaya untuk mengonsolidasi kekuatan menuju cita-cita lahirnya dinasti baru kesultanan Pajang.

    Sepeninggal sultan Trenggono istana Demak Bintara makin parah dilanda krisis yang mengakibatkan semua pewaris tahta terbunuh dalam pertikaiannya melawan Arya Penangsang. Keadaan itu membuat suksesi sultan Demak mengalami kebuntuan yang membawa Ratu Kalinyamat kembali mengambil keputusan memberi perintah pada Adipati Hadiwijaya untuk menghentikan aksi brutal Arya Penangsang.

    Mandat itu di kemudian hari berubah makna menjadi penyerahan hak waris Ratu Kalinyamat atas tahta sultan Demak kepada Hadiwijaya. Hal itu sangat kentara setelah kerusuhan besar yang dilakukan Arya Penangsang berhasil ditumpas melalui siasat cerdik penasihatnya Ki Ageng Pemanahan beserta putranya Sutawijaya.

    Akhirnya melalui berbagai pertimbangan para guru dan penasihatnya Hadiwijaya memindahkan pusat pengendalian pemerintahan Demak ke kadipaten Pajang. Sedangkan kekuasaannya sebagai sultan yang berdaulat di Pajang dimintakan bai’at kepada Sunan Giri pada tahun 1568 M.
    Fajar Baru Corak Kekuasaan Pajang

    Legitimasi Hadiwijaya sebagai penguasa baru politik di Jawa sejatinya mulai terasa sejak menjadi punggawa keraton Demak yang piawai dalam memenangkan setiap konfrontasi militer. Reputasinya semakin bagus bersamaan dengan kebijaksanaannya dalam turut memperkuat posisi Sultan Trenggono dalam konfigurasi politik Demak Bintara. Dengan bekal itu Hadiwijaya sangat dimudahkan dalam upayanya memperkuat eksistensi Pajang dengan memperluas wilayah kedaulatannya. Perluasan ke bekas wilayah Demak Bintara di Jawa bagian timur juga dilakukan dengan cukup baik melalui jalan damai.

    Kepiawaian Hadiwijaya sangat mumpuni dalam diplomasi untuk mengembalikan pengakuan para adipati Jawa bagian timur atas kedaulatan kesultanan Pajang. Sehingga dalam waktu singkat eksistensi dan pengaruh Pajang hampir menyamai pendahulunya, Demak Bintara.
    Tak hanya itu sultan baru Jawa itu juga tidak banyak mengalami tantangan dari lawan poltiknya dalam memberi corak baru kekuasaan dan pemerintahannya. Pada masa kesultanan Pajang inilah corak keagamaan tampil dengan nuansa baru lebih ortodoks dan kejawen. Dalam orientasi kekuasaan pun juga mengalami pergeseran besar. Jika Demak Bintoro masih terbawa ambisi kebesaran Majapahit sebagai imperium penguasa samudera maka berkebalikan dengan Pajang yang serius memperkuat kekuatan darat.

    Setelah konsolidasi kekuasaan selesai dilakukan tata pemerintahan juga disusun dengan sangat rapi. Dengan efektivitas pemerintahannya sultan Hadiwijaya membangun kekuatan dan kemakmuran kesultanan Pajang. Selain tercatat menjadi negara yang makmur, Pajang juga mengukir sejarah dalam memajukan kebudayaan dengan lahirnya sastera pesisir dan sastera pedalaman.

    Hadiwijaya juga dikenal sangat adil sebagai pemimpin negara. Hampir semua faksi yang berjasa dalam mewujudkan dinasti Pajang telah mendapatkan bagian yang menjadi haknya. Hanya satu hal belum dipenuhi yang sekaligus menjadi ganjalan hatinya sebagai pemilik dampar keprabon. Ia tampak ragu menyerahkan hak atas tanah Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan.
    Pertimbangan politis beraroma mistis melatarbelakangi penundaan penyerahan hak atas lahan yang sangat luas itu. Sebagai pihak yang paling berjasa dalam mengakhiri perang panjang melawan keganasan Arya Penangsang, Ki Ageng Pemanahan merasa perlu terus menagih janji Sultan atas tanah yang dijanjikan.

    Atas desakan para ulama sepuh sultan Pajang dengan berat hati menyerahkan hutan Mentaok kepada Pemanahan untuk dibuka menjadi menjadi pedukuhan. Di tempat baru tersebut Sutawijaya, putera kandung kebanggaan Ki Ageng Pemanahan sekaligus anak angkat Hadiwijaya membangun desa Mataram yang tumbuh pesat kemudian menjadi pesaing Pajang. Akibatnya ketegangan dan pertentangan kedua wilayah tak terhindarkan. Beberapa clash terjadi di perbatasan yang menyulut perang lebih besar melibatkan seluruh kekuatan prajurit kedua pihak.
    Dalam pertarungan yang menentukan Hadiwijaya tersingkir dari singgasananya lalu melarikan diri ke pulau Madura tempat mendiang ibundanya dimakamkan. Bersama para pengikut setianya, Hadiwijaya menyusun kekuatan besar untuk melakukan serangan balik ke Pajang yang telah dikuasai Sutawijaya.

    Madeg Pandito

    Di tengah perjalanan kembali dari pulau Madura, Hadiwijaya beserta sejumlah besar prajurit tangguhnya sempat singgah di Pulau Pringgoboyo (sekarang masuk wilayah Lamongan). Di pulau tersebut sekonyong-konyong terjadi perubahan pikiran pada diri sang raja tersingkir. Ada beberapa tafsir mengenai perubahan pikiran yang mendadak sangat bijak mengurungkan niatnya untuk melakukan serangan balasan.

    Satu tafsir mengatakan bahwa Hadiwijaya ditemui sosok ulama yang sangat dia hormati kemudian memperoleh nasihat sangat mencerahkan. Tafsir lainnya versi Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa di pulau persinggahannya itu Hadiwijaya pada malam harinya mendapat impian/vision dari gurunya yang melarang mengobarkan perang memperebutkan tahta kerajaan. Mimpi tersebut juga mengirim pesan jika perang dilakukan ia hanya akan menjadi korban nafsu kekuasaan belaka.
    Singkat kata Hadiwijaya memutuskan berhenti berburu kekuasaan dan mengambil cara berkhidmad demi kemaslahatan masyarakat tidak dari singgasana kekuasaan sebagaimana selama ini ia impikan. Dia kemudian menghabiskan sisa umurnya dengan melakukan sesuatu yang berarti besar bagi masyarakat secara mandiri di luar skema penguasa namun sama sekali tidak beroposisi dengan kerajaan.

    Ia tidak keliru, sejarah membuktikan bahwa pola hubungan antara periferal – sentral yang tidak simetris itu menjadi strategi pengembangan Islam yang lebih akseleratif dan lebih damai. Hal itu dimungkinan karena pola pengembangan masyarakat dilakukan oleh aktor-aktor periferal yang tidak ditunjuk penguasa.

    Konsistensi Jaka Tingkir dalam berjuang telah melahirkan kelas masyarakat santri Jawa yang relatif lebih cerdas dibanding kelompok masyarakat Jawa pada umumnya. Kelompok sosial santri Jawa ini telah menjadi lapisan terbesar masyarakat sosial dan politik di Indonesia. Gambaran paling kentara hasil proyek sosial dan kerja kultural Jaka Tingkir setelah lengser keprabon adalah tersebarnya pondok-pondok pesantren besar dan berpengaruh di seantero pulau Jawa.

    Dari pengakuan para pengasuh pesantren besar di Tambakberas dan Tebuireng, Kabupaten Jombang, hampir semua pendiri dan pengasuh pesantren besar Jawa mempunyai garis keturunan Jaka Tingkir. Lengser dari tampuk kekuasaan tidak membuat mati gaya Raden Mas Karebet untuk tetap berbakti. Madeg pandito yang dilakukannya menghasilkan kelas santri Jawa dan para ulama Nusantara dengan peran kolektif sangat penting dalam warna budaya dan politik Indonesia.***
    Eko S. Nurcahyadi, pegiat literasi dan peminat kajian Sejarah


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.