Sajak yang Tak Termuat pada Buku 'Aviarium' - Viral - www.indonesiana.id
x

Massa Demo

Hasan Aspahani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 5 Agustus 2019 18:03 WIB

  • Viral
  • Topik Utama
  • Sajak yang Tak Termuat pada Buku 'Aviarium'

    SAJAK berikut ini saya sertakan dalam naskah buku saya "Aviarium" (Gramedia, 2019). Atas berbagai pertimbangan dari editor, saya bisa menerima permintaan untuk mencabut puisi ini.

    Dibaca : 3.204 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    SAJAK berikut ini saya sertakan dalam naskh buku saya "Aviarium" (Gramedia, 2019). Atas berbagai pertimbangan dari editor, saya bisa menerima permintaan untuk mencabut puisi ini. Antara lain mengingat situasi menjelang pemilihan presiden kala itu. 

    Saya menulis sajak ini sebagai "peringatan". Bentuk pamflet saya pakai, mengikuti pertimbangan Rendra ketika menulis "Potret Pembangunan dalam Puisi", yang penuh kritik itu.

    Saya menulis sebagai suara kekecewaan dan ya itu tadi peringatan, apakah hal yang sama akan dilakukan lagi (jika Presiden Jokowi menang). Secara tak langsung dengan sajak ini saya ingin bilang, beliau akan menang lagi. Tanda-tanda bahwa saya akan kecewa lagi sudah terlihat bukan?

    Paling tidak saya sudah menulis sebuah peringatan!

     

    Pamflet untuk Presiden yang Marah
    (di Sebuah Negeri yang Tak Nyaman karena
    akan Menyelenggarakan Pemilihan Umum)

    JIKA engkau bertanya
    sebutkan lima nama mataapi kemarahan
    aku akan mengangkat tangan dan menjawabnya.

    Tak perlu engkau beri aku hadiah sepeda.

    Kami marah karena korupsi semakin rutin
    dan KPK hendak dicabuti tulang-tulangnya
    pidato menguap di podium istana
    dikutip oleh reporter yang bosan untuk media online
    dan tertimbun di antara berita Jennifer Dunn.

    Kami marah karena kabinetmu adalah ajang kompromi juga
    akhirnya,  bagi-bagi kursi, dengan banderol harga yang murah
    dan lelang di antara partai-partai pendukungmu
    yang saling berebut dan saling iri.

    Dan oposisi membakar jenggotnya sendiri.

    Kami marah karena engkau seperti lupa
    untuk mendengarkan dan menyanyikan lagi bersama kami
    lirik Metallica yang dulu katamu sangat kau suka
    tentang penguasa atas (petugas) boneka,
    dan bukan sebaliknya.

    Kami marah karena kami kecewa pada kami
    mengapa semakin terpojok pada situasi
    — hanya seorang pemimpin seperti engkau
    yang bisa kami pilih lagi dari ratusan juta manusia di negeri ini?
    dan partai-partai seakan kehabisan akal
    mencoba membujuk kami dengan nama penunggang
    yang sudah kami tolak berkali-kali.

    Kami marah karena kami telah mencoba
    menerima dan mencintai engkau dan kami hampir saja tak bisa.

    Dan engkau tak perlu beri aku hadiah sepeda.

    Aku telah menjawab dengan jawaban yang salah,
    dan engkau juga tak pernah bertanya.

     

     

    Image by Bruce Emmerling from Pixabay

     

    Ikuti tulisan menarik Hasan Aspahani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.