4 Fakta yang Membuat NTT Jadi Provinsi Tertinggal - Analisa - www.indonesiana.id
x

Wafiq Zuhair

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Januari 2020

Rabu, 22 Januari 2020 06:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • 4 Fakta yang Membuat NTT Jadi Provinsi Tertinggal

    Buruknya infrastruktur dan banyak aspek-aspek lainnya.

    Dibaca : 1.764 kali

    Pedalaman selalu identik dengan hal-hal yang negatif, seperti akses jalan yang sulit, rakyat yang miskin, dan juga daerah yang terpencil. Pemerintah sendiri menggunakan istilah Daerah 3T atau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar di Indonesia untuk mengelompokkan daerah pedalaman. Salah satu daerah yang masuk kategori tersebut adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Semua kabupaten di Nusa Tenggara Timur masuk ke dalam kategori daerah 3T. Letak daerah yang berada jauh dari ibu kota provinsi menjadi alasan penyebutannya. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang belum merata dan pertumbuhan ekonomi yang terhambat menjadi alasan lainnya.

    #Sahabat tentu sudah tidak asing lagi mendengar bunyi sila kelima di dalam Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Artinya, seluruh penduduk di Indonesia berhak mendapatkan hak yang sama. Namun nyatanya, sila tersebut belum terealisasikan dengan baik karena masih banyak saudara kita yang belum mendapatkan keadilan yang sama.

    Berikut adalah 4 aspek yang perlu #Sahabat ketahui kenapa Nusa Tenggara Timur wajib kita bangun bersama-sama :

    1. Rendahnya Kualitas Pendidikan

    Maju atau tidaknya suatu bangsa dilihat dari faktor pendidikannya. Sebagai provinsi yang berbasis kepulauan, Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki tingkat pendidikan yang rendah apabila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia loh, #Sahabat. Bahkan kata menteri pendidikan kita Provinsi Nusa Tenggara Timur berada di peringkat tiga terendah dalam kualitas pendidikan setelah Papua dan Papua Barat. Menyedihkan sekali ya, #Sahabat.

    Di sana banyak sekali anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena terkendala biaya. Salah satunya yaitu Rehan Saputra. Anak berusia 8 tahun ini berasal dari Desa Pontianak, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Sudah 5 tahun lalu ayahnya meninggal sehingga Reyhan menjadi yatim. Ibunya bekerja sebagai pencari teripang. #Sahabat sudah tahu? Mencari teripang itu pekerjaan yang berat dan bahkan biasanya dikerjakan oleh laki-laki. Mengharuskan ibu Reyhan berenang hingga ke dasar laut. Kesulitan-kesulitan tersebut menjadikan Reyhan terancam putus sekolah. Kasihan sekali ya, #Sahabat ?

    Selain itu ada pula kisah lain dari Nurmiyati, anak berusia 14 tahun yang berasal dari Desa Nusa Kenari, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor. Nusa Tenggara Timur.  Nurmiyati punya 3 adik yang masih kecil-kecil dan sejak dua tahun lalu ditinggal oleh ibunya. Gaji bapaknya yang berprofesi sebagai ojek gunung hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan kadang kurang. Hal tersebut membuat Nurmiyati harus mengubur impiannya untuk bersekolah dan mengubur cita-citanya.

    Selain sulitnya ekonomi yang menghambat berkembangnya pendidikan di sana, faktor pengajar juga jadi persoalan. Guru-guru di sana kurang diperhatikan kesejahteraannya. Bayangkan saja, dalam satu bulan mereka hanya mendapatkan gaji Rp100.000 saja. Jumlah yang sangat kecil sekali ya, #Sahabat. Tentu jumlah tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan mereka sehingga mereka mencari mata pencaharian lainnya.

    Baca Juga        : Nadiem Makarim dan Harapan Guru di Pedalaman Indonesia

    1. Kurang Meratanya Listrik di Nusa Tenggara Timur

    #Sahabat tentu pernah mengeluh ketika listrik padam. Entah karena cuaca buruk atau mungkin karena terjadi pemadaman bergilir dari PLN. Nah, ternyata di NTT sendiri masih banyak daerah yang sama sekali belum teraliri listrik loh #Sahabat.

    Tercatat ada 99.381 kepala keluarga yang belum mendapatkan listrik atau 17 % dari total penduduk NTT yang berjumlah 5 juta. Bahkan menurut Badan Pusat Statistik, 40 % rumah tangga di Kabupaten Sumba Barat Daya masih menggunakan sumber penerangan non listrik, jumlah tersebut tertinggi di antara kabupaten atau kota lainnya.

    Tentu hal itu menghambat banyak hal ya, #Sahabat. Bayangkan saja, beberapa jam saja kita merasakan listrik padam pekerjaan kita jadi terganggu. Bagaimana jadinya mereka yang sepanjang hari tidak pernah merasakan listrik ?

    Baca Juga        : Permasalahan Lingkungan di Pedalaman, Kita Bisa Apa ?

    1. Kualitas Kesehatan Yang Rendah

    Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur, Sebagian besar masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur atau sekitar 64 % berada dalam kondisi tidak sehat. Sementara itu 19 % lainnya beresiko sakit dan hanya 17 % warganya yang berada dalam kondisi sehat. Terdapat tiga masalah kesehatan terbesar yang ada di Nusa Tenggara Timur. Tiga hal itu antara lain 61,1 % penderita hipertensi berobat secara tidak teratur, tingginya angka perokok di dalam keluarga, yaitu tercatat sebesar 75,7 %, serta minimnya cakupan keikutsertaan masyarakat di program Kartu Indonesia Sehat yang hanya sekitar 31,6 %.

    Salah satu masalah kesehatan dialami oleh Bu Maryani, seorang ibu rumah tangga berusia 34 tahun asal Desa Legu, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Pada Januari 2019 lalu,muncul benjolan dan rasa sakit di payudara sebelah kirinya. Karena keterbatasan biaya Bu Maryani hanya menjalani pengobatan tradisional. Beberapa bulan setelahnya beliau divonis kanker payudara stadium 4 dan harus segera dioperasi. Namun karena keterbatasan biaya Bu Maryani operasi belum bisa dilakukan.

    Baca Selengkapnya     : Donasi Kesehatan di Insan Bumi Mandiri

    1. Rendahnya Perekonomian

    #Sahabat tentu pernah mendengar jika Nusa Tenggara Timur adalah surganya pariwisata. Keindahan pesona alamnya menjadi daya tarik tidak hanya bagi penduduk asli Indonesia namun juga mancanegara. Banyak wisatawan asing yang berkunjung ke sana setiap tahunnya. Bahkan di Kabupaten Manggarai Barat tepatnya di Labuhan Bajo, terdapat Bandara Internasional yang melayani penerbangan dari luar negeri. Tidak heran jika #Sahabat dapat dengan mudah menemukan bule-bule yang berjalan di kotanya.

    Tapi, kondisi itu ternyata tidak berdampak besar bagi perekonomian di sana. Provinsi Nusa Tenggara Timur tercatat menjadi provinsi yang memiliki presentase penduduk miskin tertinggi ketiga di Indonesia, setelah Papua dan Papua Barat. Menurut Badan Pusat Statistika (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT), penduduk miskin di daerah perkotaan berjumlah sebesar 9,09% dari total jumlah penduduk seluruhnya, sedangkan penduduk miskin di pedesaan berjumlah sebesar 24,91 %. Data tersebut dihimpun pada tahun 2019 lalu.

    Pengangguran ternyata juga menjadi masalah yang cukup besar di sana loh, #Sahabat. Tercatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Provinsi NTT mencapai 3,10 % yang menempatkannya ke dalam peringkata 5 terendah dari 34 provinsi di Indonesia.

    Hal tersebut dirasakan betul oleh Sukarti  (15 tahun) dan Parta (10 tahun). Dua bersaudara yang berasal dari Pulau Longos, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur ini harus merasakan perjuangan menjalani hidup setelah ayah mereka meninggal sejak lama. Setiap hari Sukarti harus membantu ibunya menjadi buruh cuci untuk menyambung hidup. Sementara Parta yang masih kelas 4 SD sudah ikut mencari ikan dengan para nelayan agar dapat membantu perekonomian keluarga.

    Rumah mereka sangat jauh dari kondisi layak. Hanya beratap daun kering yang sudah lapuk dan dinding yang sudah tua, rumah mereka bisa saja rubuh dengan mudah. Apalagi letaknya persis di pinggir pantai. Jika hujan turun pun mereka mau tidak mau tidur sambil diguyur hujan karena atapnya tidak kuasa menahan derasnya air yang masuk. Menyedihkan sekali ya, #Sahabat. Itu adalah salah satu potret kehidupan di sana. Masih banyak masyarakat di Nusa Tenggara Timur lainnya yang membutuhkan uluran tangan kita.

    Baca Selengkapnya : Permasalahan Lingkungan di Pedalaman, Kita Bisa Apa ?

    Kata pemerintah, butuh waktu 10 hingga 13 tahun agar Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat setara dengan daerah-daerah lain yang ada di Indonesia. Lama sekali, ya.

    Tapi, hal itu bisa dipercepat apabila banyak pihak ikut andil dalam membantu pembangunannya.

    Nah, bagaimana #Sahabat ? Apakah #Sahabat termasuk salah satu di antaranya ? Menjadi kontributor kebaikan untuk saudara-saudara kita di pedalaman ?

    Ayo mulai langkah kebaikan #Sahabat dengan berdonasi di Insan Bumi Mandiri!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.