5 Fakta Unik Mangga Muda, Film Komedi yang Dibintangi Tora Sudiro - Seleb - www.indonesiana.id
x

Sinta Nurhikmah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 September 2019

Rabu, 22 Januari 2020 06:22 WIB
  • Seleb
  • Berita Utama
  • 5 Fakta Unik Mangga Muda, Film Komedi yang Dibintangi Tora Sudiro

    Dibaca : 834 kali

    Kehidupan suami istri Agil (Tora Sudiro) supir taksi dan Luli (Alexandra Gottardo) karyawati salon yang pas-pasan dan tak kunjung dikaruniai buah hati, karena kesibukan masing-masing ini akhirnya membuat keduanya kesepian. Suatu saat Agil bernadzar, apabila sang istri hamil ia akan menuruti semua permintaan sang istri demi sang buah hati. Nyatanya, doa Agil didengar dan Luli pun hamil anak mereka. 

    Namun sayangnya, saat sang istri hamil dan meminta banyak hal malahan membuat Agil pusing karena himpitan ekonomi keluarga mereka. Alih-alih meminta mangga muda, nyatanya Luli meminta satu unit mobil Toyota Yaris berwarna merah kepada Agil. Apakah Agil akan menuruti kemauan sang istri seperti nadzarnya sebelum sang istri hamil? 

    Dari pada penasaran, berikut ini ada lima fakta yang terdapat dalam film Mangga Muda, seperti:

    1. Film Mangga Muda sudah siap semenjak 2014

    Sudah siap untuk melakukan produksi semenjak tahun 2014 silam, nyatanya Jujur Prananto sebagai penulis naskah bersama dengan Yudhistira Bayuadji sebagai sutradara memang sudah menyiapkan semenjak film Kain Kaftan Hitam selesai digarap. Bahkan, antara Jujur Prananto, Yudhistira Bayuadji, dan Girry Pratama ketiganya sepakat ingin menggarap di tahun 2014-2015.

    2. Tora Sudiro sudah menjadi incaran semenjak 2014

    Semenjak tahun 2014 tersebut, para penulis naskah dan sutradara telah membayangkan jika pemain utamanya adalah Tora Sudiro. Melalui alur ceritanya yang mengangkat cerita komedi juga di dalamnya, sehingga menurut mereka sangat cocok dengan kepribadian Tora.

    3. Tora Sudiro sempat tolak tawaran

    Sempat menolak tawaran saat pertama kali diberikan kepercayaan, alasan Tora adalah karena tak mengenal para pemain yang akan bermain bersamanya dan juga kru produksinya. Namun, akhirnya Tora pun menyetujui tawaran tersebut karena ada Gary Iskak dan beradu akting bersama dengan Alexandra Gottardo, Nafa Urbach, dan Ajun Perwira.

    4. KPI mendukung adanya film Mangga Muda yang relate dengan kehidupan di masyarakat

    Film Mangga Muda mendapatkan dukungan dari KPI karena alur ceritanya yang sangat relate dengan kehidupan pernikahan dalam masyarakat. Menurut Yuliandre Darwis, cerita yang dibawakan terasa fresh dan juga sangat menghibur sesuai dengan selera masyarakat, dan cerita yang disampaikan pun bisa diterima dengan baik dan mudah.

    5. Pesan tersembunyi 

    Selain ingin menghadirkan sisi komedi dan juga bagaimana kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan masyarakat, nyatanya Yudhistira Bayuadji sang sutradara ingin memberikan pesan sosial yang unik di dalamnya. Ia ingin membuat para masyarakat melek finansial dan juga dunia saham, karena ia sendiri berlatar belakang sebagai pedagang saham. Ia tak ingin hanya sekadar memberikan kesan komedi seperti kebanyakan film, tetapi ingin memberikan kesan lain tentang finansial. 

    Tentu semakin tertarik bukan untuk menyaksikan kebolehan akting antara Tora Sudiro dan Alexandra Gottardo? Jangan lupa tanggal 23 Januari 2020 ya!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 452 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin