Politik Sudah Membosankan, Mana Suara Oposisi? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

oposisi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 6 Maret 2020 09:47 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Politik Sudah Membosankan, Mana Suara Oposisi?

    Dibaca : 873 kali

    Bangsa ini sedang dihimpit berbagai persoalan, namun karena koalisi di parlemen dan pemerintah sudah sulit digoyah oleh pihak oposisi dan rakyat, maka, arah biduk jalannya roda pemerintahan RI mau ke mana, sudah banyak membikin rakyat jengah. 

    Percuma memberi kritik, saran, masukan, apalagi menolak atau memprotes kebijakan dan keputusan, semuanya hanya dianggap angin lalu oleh pemimpin parlemen dan pemerintahan rezim sekarang. 

    Apapun protes, komplain, kritikan, hingga demonstrasi yang akibatkan korban jiwa pun tetap membikin pemimpin negeri tak bergeming dengan kebijakan dan keputusan yang tidak disetujui rakyat. 

    Alih-alih melunak dan berbalik kembali berpihak kepada rakyat, "mereka" justru semakin merapatkan barisan, terus membombardir kebijakan-kebijakan dan keputusan yang tidak berpihak kepada rakyat. 

    Pada akhirnya, sejak 100 hari Kabinet Kerja terlewati, barisan opisisi parlemen dan pemerintah di negeri ini, semakin nampak malas memberikan kritik dan masukan. 

    Lucunya, hal ini sepertinya tak dirasakan oleh mereka, dan menganggap kejadian ini menjadi hal baik, sehingga negeri ini jauh dari perseteruan dan kisruh. 

    Namun begitu, ternyata, atas kondisi ini ada yang tetap memiliki mata dan hati. Dia adalah Sekretaris Kabinet, Pramono Anung yang ternyata merasakan dan mengaku kehilangan sosok dua mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah dan Fadli Zon, yang dulu kerap mengkritik pemerintah. 

    Ternyata Pramono yang juga kader PDIP ini, merasakan bahwa kritik yang disampaikan oposisi membuat dinamika politik kian menarik. Namun, sejak dua orang sudah tak lagi terlihat sering tampil mengkritik, dinamika politik menjadi biasa saja. 

    Pernyataan Pramono ini, entah sebagai sekadar basa-basi politik atau sebagai perasaan hati terdalam sesuai fakta, karena memang dinamika politik sekarang menjadi tak menarik. "Saya pribadi kehilangan orang-orang seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon untuk mengkritisi pemerintahan ini, karena itu menjadi vitamin," kata Pramono saat membuka talkshow bertajuk "Meneguhkan Kembali Cita-cita Reformasi" di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (4/3/2020). 

    Semoga pernyataan Pramono benar dari pikiran dan hati terdalamnya, sehingga memang benar, parlemen dan pemerintahan sekarang kering dan ditinggal oleh para oposisi yang sudah malas mengkritisi. 

    Malahan, menurutnya, saat ini pemerintah telah menguasai 74 persen dukungan di parlemen. Sehingga membuat situasi politik relatif stabil. Mungkin apa yang dirasakan Pram benar, politik relatif stabil, namun menurut rakyat tidak demikian. Politik menjadi membosankan. 

    Di negara mana pun di belahan dunia ini, kehadiran kelompok oposisi bukan hanya diperlukan demi untuk menjaga dinamika politik, namun juga menjadi penyeimbang dan semangat dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara yang berwarna demi untuk mencapai cita-cita bersama, maju dan berkembang. 

    Bila kini di Indonesia, parlemen dan pemerintah diduduki oleh warna yang sama, sudah jauh dari menarik. 

    Bahkan, semakin ke sini, dirasakan semakin membosankan bahkan semakin jauh dari cita-cita pendiri bangsa, yang seharusnya menjadikan rakyat Indonesia sejahtera karena segala kekayaan dan isi alamnya digunakan seluas-luasnya untuk, oleh, dan dari rakyat, bukan untuk rakyat lain/negara lain. 

    Beginilah, bila oposisi menjauh di negeri ini. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.