Minimnya Edukasi Tentang Virus Corona, Berdampak pada Kepanikan Masyarakat. - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar ini diambi dari puncak gunung lawu Jawa Tengah

Alhemo Nawir Chanel

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Desember 2019

Rabu, 8 April 2020 19:14 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Minimnya Edukasi Tentang Virus Corona, Berdampak pada Kepanikan Masyarakat.

    Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia),Middle-East Respiratory Syndrome (MERS),

    Dibaca : 1.848 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penulis : Nhawir Alhemo 

    Saya pribadi dengan ini  mengangkat sebuah artikel  yang membahas  menjadi polemik saat ini yaitu tentang penyebaran  virus corona (Covid19), cara pandang ini atas dasar yang bersifat  objektif, bukan sebaliknya  bersifat subjektif. Sebelum terlalu jauh,  terlebih dahulu kita harus mengetahui dan memahami dulu,  apa itu corona virus?

    Corona virus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia),Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

    Secara definisi  kita sudah pahami, tentu kita harus lebih memahami lagi bagaimana gejala dan penyebaran virus corona  ini.
    Gejala Virus Corona

    Gejala awal infeksi virus corona atau Covid-19 bisa berupa gejala flu, seperti demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala bisa memberat. Pasien bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona.

    Namun, secara umum ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus corona, yaitu:

    Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius), batuk, sesak napas.
    Kemudian bagaimana kita bisa mengetahui bahwa manusia sudah terjangkit oleh virus corona, perlu yang namanya uji laboratorium yaitu guna memastikan diagnosis Covid-19, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan berikut:

    Uji sampel darah tes usap tenggorokan untuk meneliti sampel dahak (tes PCR)Rontgen dada untuk mendeteksi infiltrat atau cairan di paru-paru.
    Kemudian point penting dalam tulisan ini adalah minimnya pengetahuan sehingga dapat  menimbulkan kepanikan masyarakat pesisir/desa, tentang penyebaran Covid-19.

    Masalah yang terjadi hari ini, melanda dunia adalah penyebaran virus corona, sehingga banyak masyarakat merasa panik dan takut, tentang keadaan yang melanda umat manusia saat ini. Dinamika yang terjadi, bukan persoalan virus ini mematikan, tapi yang menjadi problem  terjadi dikalangan masyarakat,  merasa terganggu dengan informasi yang malah membuat masyarakat resah dan takut, tentu merujuk pada pola pikir yang sifatnya kaku, kepanikan akan berujung pada keadaan stres yang berlebihan. Dikarenakan  minimnya edukasi pemerintah, dan lembaga-Lembaga kesehatan memberikan informasi dan pengetahuan  tentang bagaimana penyebaran virus corona. Edukasi sangat penting ketika mereka turun langsung ke lapangan/masuk desa oleh tenaga kesehatan. Sehingga bisa memberikan informasi ke masyarakat, agar dapat mengatahui dan mengenali bagaimana cara penyebaran pandemik virus corona ini. Kemudian daripada itu,  masyarakat dapat menerapkan prilaku hidup sehat secara rutin diruang lingkup sosial maupun individu dirumah. Jadi peran pemerintah dan lembaga-Lembaga kesehatan sangat penting memberikan edukasi kesehatan terhadap masyarakat yang minim pengetahuan tentang bagaimana  penyebaran virus corona.

    Pakar Neurosains dr. Ryu Hasan, SpBS mengatakan bahwa kepanikan yang timbul pada diri seseorang merupakan suatu bakat. Jadi orang indonesia lebih dominan rasa kepanikan. Namun untuk Indonesia, Ryu melihat bahwa bakat orang Indonesia cenderung lebih besar panik dibanding bahagia.
    "Sebetulnya kepanikan itu juga bakat. Tapi kepanikan massa itu adalah berbeda, berbeda dengan Orang Jepang cenderung lebih mudah panik secara individual, tetapi tidak untuk kepanikan masal. Mereka secara personal lebih mudah panik dengan masalah pribadinya masing-masing," kata dia.

    Perlu lagi saya tegaskan. Perlunya peran penting pemerintah dan Lembaga-lembaga kesehatan memberikan edukasi mengenai apa itu virus corona, cara penyebaran, gejala-gejala yang timbul dan cara penanganan.  Bukan malah sebaliknya memberikan efek kepanikan tentang informasi yang malah menambah dampak yang tidak baik diruang lingkup masyarakat, apalagi masyarakat terpencil yang minim pengetahuan dan pelayanan untuk menghadapi penyebaran virus corona.

    Kemudian di sisi lain  yang sering terjadi sehingga membuat masyarakat panik dengan keadaan yang melanda masyarakat saat ini adalah mengenai penyebaran informasi hoaks, bahwa informasi yang sifatnya seperti itu, malah memberi dampak negatif diruang lingkup masyarakat. Informasi sifatnya sensitif, malah menimbulkan keresahan masyarakat. Ada pula oknum yang sengaja memanfaatkan keadaan demi mendapatkan kepentingan individu atau meraup keuntungan bisnis memanfatkan keadaan yang genting,  kemudian menyebaran hoaks dimana-mana, sehingga masyarakat cepat percaya dengan informasi yang sifatnya seperti itu. Pada akhirnya masyarakat mengatahui kebenaran, akan berdampak pada keresahan masyarakat. Maka dari itu perlu nya memberikan pemahaman kepada masyarakat agar dapat mentralisir/menyaring  informasi yang di dapat.

    Doridungga 8 April 2020



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Karmila Yusuf

    1 hari lalu

    Proyek Based Learning Melalui Media Daring Memanfaatkan Akun Media Sosial Menciptakan Merdeka Belajar dan Mewujudkan Pelajar Berprofil Pancasila dalam Pembelajaran Terbatas di Masa New Normal

    Dibaca : 73 kali

    Terlepas dari aturan pemerintah daerah yang menghimbau anak anak untuk tidak membawa Hp ke sekolah, justru sekarang sebaliknya anak anak malah harus membawa Hp tapi tetap dalam kontrol ibu bapak gurunya disekolah. Pada pertengahan Oktober lalau terkait penyebaran covid 19 dimana daerah NTB mulai memasuki zona orans ke hija, pemerintah daerah mengacu pada pernyataan mas menteri yang membolehkan daerah zona orens untuk melakukan kegiaatn simulasi pembelajaran dengan protokol kesehatan yang ketat. Sekolah kami melakukan kegiatan simulasi dengan model sip, sehingga anak anak disekolah belajar per mapel selama 45 menit. Berangkat dari itu maka semua guru diminta untuk menyiapkan materi esensial yaitu materi yang dianggap paling penting yang sudah disesuaikan dengan KD setiap bab mata pelajaran. Hal inilah yang memunculkan ide saya dalam mengEmbangkan model pembelajaran Projek Beased Learning, projek anak anak dipembelajaran ini cukup berbeda, anak anak disekolah hanya membahas materi esensial saja selebihnya 80% pembelajaran dilakukan secara berkelompok dirumah dan semua penilaian dilakukan melalui media sosial yaitu melakukan promosi hasil karya melalui WA, Fb, IG ataupun media sosial lainnya, mereka harus memiliki sebuah toko online yang di aplikasinya melalui Hp. Dalam pembelajaran ini anak anak secara tidak langsung akan terlihat kemampuan sesuai dengan profil pancasila yaitu yaitu gotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri serta anak anak dapat berekspresi sehingga terwujudnya merdeka belajar. Merujuk dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengatakan semua anak itu berbeda dan setiap perbedaan adalah unik, guru itu bukanlah menuntut anak untuk harus mengikuti segalaa proses pembelajaran yang di dalam kendalinya namun guru tuganya menuntun anak sesuia kodrat yang melekat pada diri anak, dimana seoarang guru tidak dapat merubah kodrat anak melainkan hanya dapat menuntun kodrat tersebut layaknya seorang petani yang sedang menyemai padi. Tumbuhnya padi tidak bisa dipaksa seperti tumbuhnya tanaman jagung atau tumbuhan yang lainnya, tumbuhnya padi hanya bisa dioptimalkan menjadi padi yang tumbuh subur dan mengasilkan padi berkualitan tinggi. Anak anak SMA memang sudah lama mempelajari PKWU ( Prakarya dan Kewirausahaan ), anak anak sangat mumpuni dalam bereksperimen, mengenai alat alat rumah tangga seperti sendal jepit dan bermacam macam aksesoris lainnya, banyak jenis gaun gaun dari hasil limbah plastik yang merupakan hasil karya anak anak SMA di pelajaran dan seni budaya prakarya. Namun baru dua tahun ini anak anak dipokuskan pada makanan olahan tradisional yang digabung dengan makanan modern terkait dengan program pemerintah yaitu meningkatkan pengetahuan budaya lokal, anak anak praktik pengolahan makan sekaligus mempresentasikan olahan mereka sendiri yang dilakukan disekolah, sebagai tim penilai adalah Ibu Bapak guru disekolah. Berangkat dari potensi itu saya berpikir bahwa anak anak selain berkarya memang harus belajar berwirausaha terkait anak anak memang sudah memiliki modal utama yaitu mampu memproduksi makanan atau barang aksesoris lainnya. Selain itu pendidikan kewirausahan juga menguntungkan siswa dari semua latar belakang sosial ekonomi karena mengajarkan anak anak untuk berfikir luas, mengasah bakat dan keterampilan yang tidak konvensional. Lebih jauh lagi, ini dapat menciptakan peluang kerja, menjamin keadilan sosial, menanamkan kepercayaan diri dan merangsang ekonomi. Oleh karena itu saya mengajak anak anak untuk melihat dunia pasar yaitu pasar online, anakpun sekarang sudah lihai berseluncur ke dunia media sosial, saya hanya menuntun potensi mereka untuk mengidentifikasi media sosial, anak anak menemukan beragam toko toko online berseliwerran. Saya menanyakan kembali apakah anak anak siap beewirausaha bersma ibu guru sambil berkata jika memang ada pembelajaran wirausaha menurut anak anak yang membuat anak anak nyaman silahakan kita diskusikan bersama “untuk menciptakan merdeka belajar yaitu belajar atas dasar kemauan sendri”. Anak anakpun dengan semanagat mengatakan kami mau belajar berwirausaha bu guru. Dengan begitu saya mulai mengajak anak anak untuk merencakanan produk andalan apa yang akan diproduksi untuk di promokan ke media media sosila mereka, dengan membetuk kelompok kerja kemudian memberikan tips serta ilmu berwirausaha. Anak anak langsung saya minta mulai dari sekarang. Jadi anak anak membuat produk dan melakukan promosi dengan tetap saya kontrol melalui photo photo dan vidio vidio yang diunggah di media sosial atau dikirim langsung ke WA saya. Disekolah anak anak hanya membahas materi esensial saja terkait proses dalam memproduksi, tehnik mengemasan produk, dan tehnik pemasaran. Pada kesempatan inilah anak anak berkolaborasi anatar kelompok, dengan memperkenalkan produk produk ungggulan mereka bersamaan dengan proses serta kendala kendala yang anak anak temuan di lapangan. Disini terbentuk sebuah sinergi, saling mensuport, belajar saling menghargai serta memberikan masukan masukan berbentuk nilai nilai positif yang nantinya mampu memajukan iptek dan wawasan dunia luar secara bersama sama.






    Oleh: Tri Harjanto

    1 hari lalu

    Implementasi Merdeka Belajar Melalui Pembelajaran Daring Berdiferensiasi Pada Masa Pandemi Covid-19

    Dibaca : 107 kali

    Guru dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif dalam upaya untuk mewujudkan merdeka belajar terlebih pembelajaran melalui daring karena masih dalam suasana pandemi Covid-19. Upaya mengimplementasikan merdeka belajar pada mata pelajaran Biologi SMA Kelas X, diterapkan melalui strategi pembelajaran daring berdiferensiasi pada pokok bahasan tentang virus. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Untuk menentukan kebutuhan murid, guru harus memetakan kebutuhan belajar murid melalui kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid dan profil belajar murid. Strategi pembelajaran berdiferensiasi terdiri dari diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Pada masa pandemi Covi-19 pembelajaran yang menarik, menantang, kolaboratif, komunikatif harus tetap berjalan. Upaya mewujudkan hal tersebut digunakan google meet sebagai media pembelajaran. Pada pembelajaran ini murid mendengarkan penjelasan seolah-olah bertemu di kelas, masih ada interaksi, umpan balik, diskusi dan unjuk karya produk hasil pembelajaran. Pembelajaran juga didasarkan pada minat yang dipetakan oleh guru sebelumnya, sehingga guru sudah mengetahui minat murid terhadap apa yang akan dipelajari saat itu. Pembelajaran dilaksanakan berdasarkan RPP pembelajaran berdiferensiasi yang telah dibuat sebelumnya oleh guru. Pokok bahasan pembelajaran adalah Virus, dengan kompetensi dasar 4.4 melakukan kampanye tentang bahaya virus dalam kehidupan terutama bahaya AIDS berdasarkan tingkat virulensinya melalui berbagai media informasi. Strategi pada tahap diferensiasi konten, murid bebas memilih virus yang menjadi target materi. Diferensiasi proses, murid yang tersebar dalam kelompok yang belum memahami materi, guru akan memberikan pembimbingan individual atau meminta teman satu kelompoknya yang sudah paham untuk membantu menjadi tutor sebaya atau mencari sumber belajar lain. Tahap selanjutnya adalah diferensiasi produk, dalam menyajikan proyek setiap kelompok bisa membuat dalam bentuk PPT, poster atau video sebagai media presentasi kampanye yang diunggah ke you tube. Pada pembelajaran daring berdiferensiasi ini, muird-murid terlihat merdeka belajarnya, hal ini dapat dilihat dari antusias, ketepatan menggunggah tugas, kemampuan diskusi, variasi produk dan sumber belajar yang dipakai. Pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu murid mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang mereka hasilkan sesuai minatnya.