Apakah Masyarakat Mendapat Bantuan Sosial ? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ahmad Irso Kubangun

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 9 April 2020 06:13 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Apakah Masyarakat Mendapat Bantuan Sosial ?

    Dibaca : 1.152 kali

    Wabah virus corona semakin masif penyebarannya. Kini mulai ada dampak bagi rakyat Indonesia. Terutama, dampak sosial. Seperti pendapatan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari.

    Apa lagi ada imbauan untuk di rumah saja. Sehingga penghasilan pun berdampak, utamanya bagi pekerja harian/yg bekerja di sektor informal. Tentu hal itu untuk pencegahan virus corona.

    Iya, tapi untuk semua itu. Kita harus bersatu dan mengikuti arahan dan kebijakan pemerintah. So wabah ini menjadikan kita sebagai bangsa yang kuat harus bersatu untuk melawan virus corona atau Covid-19.

    Masalah ini sebenarnya, sudah diprediksi oleh Pemerintah. Pemerintah menurut penulis sangat cekatan dalam penanggulangan Covid-19 dalam hal masalah sosial.

    Sebab, Pemerintah sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk masalah ini. Terutama dikhususkan untuk perlindungan sosial bagi masyarakat terdampak Covid-19.

    Dalam keterangan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Dana yang dikeluarkan perlindungan sosial bagi masyarakat terdampak Covid-19 sebesar Rp 110 triliun. Angka fantastik kalau menurut saya pribadi.

    Tapi dana ini untuk kebutuhan rakyat Indonesia yang terdampak Covid-19. Di mana bantuan sosial ini diperuntukkan untuk pembebasan dan keringanan tarif listrik.

    Keringanan tarif listrik ini dengan diberikan diskon. Dan keringanan pembayaran kredit, untuk ojek online, supir taksi, pelaku UMKM, dan nelayan. Keringanan kredit ini dimulai April 2020 melalui aturan OJK.

    Selain itu juga Pemerintah pun menyiapkan dana cadangan Rp 25 triliun. Di mana dana itu untuk pemenuhan kebutuhan pokok serta operasi pasar dan logistik.

    Bantuan lainya, soal kartu sembako ini di mana penambahan yang sekarang ini menjadi 20 juta penerima manfaat. Lalu penambahan nominal menjadi Ro 200rb perbulan selama 9 bulan.

    Banyak lagi nih pemerintah mengelontorkan bantuan bagi rakyat. Salah satunya program keluarga harapan.

    Ada penambahan menjadi 10 juta keluarga penerima manfaat. Bantuan ini diperuntukkan untuk ibu hamil Rp 3 juta, anak usia dini Rp3 juta, disabilitas, Rp 2,4 juta pertahun.

    Selain itu juga, dengan adanya dampak Covid-19. Banyak masyarakat yang mendapat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan pelaku UMKM. Tentu ini menjadi pukulan bagi mereka untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

    Pemerintah pun memikirkan hal itu. Ada yang namanya program kartu prakerja. Cukup banyak nih kouta program prakerja ini. Pemerintah menyediakan untuk 6,6 juta orang di seluruh Tanah Air.

    Di mana dana itu yang tadinya Rp 10 triliun menjadi Rp 20 triliun dengan nilai manfaat sebesar Rp 650 ribu sampai dengan Rp 1 juta perbulan selama 4 bulan ke depan. Semoga bantuan penanganan sosial ini tepat sasaran.

    Berdasarkan keterangan dari Tempo. co. Ada 64.000 keluarga kurang mampu yang terdampak Covid-19 mendapat bantuan pangan dari Pemerintah di Kota Tangerang.

    Bantuan yang diberikan pemerintah semoga bermanfaat dan bisa mengurangi beban masyarakat di tengah Covid-19.

    Semoga wabah Covid-19 selesai.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    4 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.041 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).