x

cover buku Pahlawan nasional Supriyadi

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 17 April 2020 10:51 WIB

Pahlawan Nasional Supriyadi, Membaca Pemberontakan Putra Biltar Terhadap Jepang

Sosok Supriyadi dari sisi keluarga, kiprahnya sebagai anggota PETA, pemberontakan PETA di Blitar yang dipimpinnya dan pelariannya pasca pemberontakan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Pahlawan Nasional Supriyadi

Penulis: Ratnawati Anhar

Tahun Terbit: 2007 (cetakan kedua)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Balai Pustaka                                                                                          

Tebal: viii + 100

ISBN: 979-407-421-7

 

Buku berjudul “Pahlawan Nasional Supriyadi” ini adalah buku yang sangat detail menggambarkan peristiwa pemberontakan tentara PETA di Blitar yang dipimpin oleh Supriyadi. Buku ini mengungkap siapa Supriyadi dan keluarganya. Buku ini juga memuat tentang masa-masa Supriyadi bergabung dengan Laskar Pembela Tanah Air (PETA), persiapan pemberontakan, saat pemberontakan dan perjalanan Supriyadi dari Blitar pasca pemberontakan.

Siapa Supriyadi? Supriyadi adalah anak dari seorang pegawai Pamong Praja bernama Darmadi. Supriyadi lahir di Trenggalek pada tanggal 13 April 1923. Darmadi kemudian hari menjadi patih di Nganjuk di jaman Jepang dan kemudian menjadi Bupati Blitar di awal kemerdekaan. Supriyadi dibesarkan oleh ibu tirinya. Meski demikian hubungan Supriyadi dengan ibu tiri dan adik-adik tirinya sangat akrab. Ibu tirinya tidak membeda-bedakan anak-anak Darmadi dari istri tuanya yang telah meninggal dan anak-anaknya sendiri. Supriyadi sangat hormat kepada ibu tirinya tersebut.

Karier Supriyadi sebagai tentara diawali saat ia bergabung dengan para pemuda yang mendapat pelatihan (Seinendoyo) di Tangerang. Saat itu Supriyadi sedang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Tinggi di Magelang. Selain menempuh pendidikan di Seinendoyo, Supriyadi juga mengikuti pelatihan tentara PETA. Melalui pendidikan di Tangerang inilah Supriyadi memupuk rasa kebangsaan. Sebab peserta pelatihan Seinendoyo berasal dari berbagai pelosok tanah air.

Pembentukan PETA sebenarnya adalah upaya Jepang untuk mengambil hati Bangsa Indonesia. Saat PETA dibentuk, Jepang sebenarnya sudah mulai kalah perang di mana-mana. Supaya terlihat bahwa pembentukan PETA adalah atas permintaan Bangsa Indonesia, maka Jepang meminta Gatot Mangkuprojo untuk mengirim surat permintaan kepada Jepang. Maka pada tanggal 7 September 1943 Gatot Mangkuprojo mengirim surat kepada Jepang supaya Jepang membantu pembentukan laskar sukarela yang akan membela Jawa. Berdasarkan surat permintaan Gatot Mangkuprojo tersebut, pihak Jepang kemudian mengeluarkan Surat Keputusan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air. PETA terbentuk pada tanggal 3 Oktober 1943.

Sebenarnya pihak Jepang tidak sepenuhnya ingin membantu Indonesia membentuk tentara yang terorganisir. Sebab PETA tidak mempunyai ikatan sampai di level nasional. PETA dibentuk di kabupaten-kabupaten dan tidak ada hubungan koordinasi dan hubungan komando satu dengan yang lain. Pimpinan di level provinsi tetap dipegang oleh orang-orang Jepang.

Demikian pula di Karesidenan Kediri juga dibentuk Batalion PETA. Ada dua battalion yang dibentuk di Karesidenan Kediri. Pertama adalah Batalion yang berada di Kota Kediri dan kedua adalah battalion yang berada di Blitar. Batalion di Karesidenan Kediri didirikan pada tanggal 25 Desember 1943.

Supriyadi bukanlah Komandan Batalion Blitar. Meski ia pernah mendapatkan pelatihan Senindoyo, tetapi ia hanya mendapatkan jabatan sebagai Komandan Pleton I (Shodanco Dai Ici Shodan). Sedangkan posisi Komandan Batalion dijabat oleh Surakhmad.

Para pemuda yang bergabung dengan PETA di Blitar mereka mendapat pelatihan yang sangat keras. Pelatihan diberikan di bidang militer dan intelejen. Mereka mendapatkan pelatihan sampai dengan Bulan April 1944.

Setelah selesai pendidikan, para laskar PETA ini ditugaskan untuk membuat benteng-benteng di pedesaan. Dari hubungan dengan orang desa inilah para anggota PETA tahu bahwa Jepang sangat bengis kepada orang desa. Para anggota PETA melihat langsung bagaimana Jepang memperlakukan para romusha dan mengambil bahan pangan penduduk. Selain Supriyadi, beberapa pimpinan PETA Blitar yang ikut rapat adalah Halir Mangkudijaya, Muradi, Sumardi dan Sumanto. Mereka inilah yang kemudian mengambil peran besar dalam pelaksanaan pemberontakan.

Pemberontakan dilakukan pada tanggal 14 Februari 1944. Sebenarnya pemberontakan akan dilakukan saat pelatihan bersama di Bojonegoro. Namun pelatihan tersebut dibatalkan karena ada kebocoran tentang rencana pemberontakan tersebut. Pemberontakan dilakukan secara serentak. Terjadi juga pengibaran Bendera Merah Putih. Setelah pemberontakan meletus di dalam kota, maka laskar PETA yang memberontak melakukan perlawanan di keempat penjuru angin. Ada yang mengobarkan pemberontakan di bagian utara Kota Blitar, ada yang dari timur, selatan dan barat. Pemberontakan akhirnya bisa dipadamkan karena Jepang, selain menggunakan tentaranya sendiri yang bersenjata lebih lengkap, juga menggunakan tentara PETA dari kabupaten lain. Para pemberontak tak ingin membunuh bangsa sendiri.

Setelah pemberontakan dipadamkan, Supriyadi melarikan diri dari Blitar. Ada kisah dimana Supriyadi sembunyi di rumah Nakajima (pelatihnya saat di Senindoyo) di Salatiga. Selanjutnya Supriyadi melarikan diri ke Bayah di Banten Selatan. Namun upaya untuk melacak dimana sebenarnya Supriyadi berada belumlah berhasil. Makam di Bayah yang diyakini sebagai makan Supriyadi, saat digali ternyata kosong.

Sebagai sebuah buku sejarah, karya Ratnawati Anhar ini sangat bagus. Sebab buku ini memuat sangat rinci baik nama-nama orang maupun waktu kejadian. Namun Ratnawati sepertinya kurang teliti saat memasukkan nama Kakek Kasan Bendo dalam buku ini. Kakek Kasan Bendo diklaim sebagai bagian dari pengikut Diponegoro yang kemudian tinggal di Blitar.

Kakek Kasan Bendo, seorang yang berumur 100 tahun lebih. Beliau adalah pengikut Diponegoro. Kemudian beliau menyingkir dan membuka hutan serta kemudian menetap di suatu tempat yang dikenal sebagai Desa Bendo. Informasi ini agak aneh karena Perang Diponegoro terjadi antara tahun 1825-1830. Sementara kejadian bertemunya Supriyadi dengan Kakek Kasan Bendo adalah tahun 1944. Artinya ada perbedaan sebanyak 114 tahun dari berakhirnya Perang Diponegoro dengan pertemuan Supriyadi dengan Kakek Kasan Bendo. Seandainya pun Kakek Kasan Bendo bergabung di umur yang sangat muda, misalnya 15 tahun dan di tahun terakhir Perang Diponegoro, maka Kakek Kasan Bendo setidaknya harus berumur 130 tahun. Sepertinya hal ini tidak mungkin.

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler