x

cover buku Kisah-kisah Cinta Ganjil

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 April 2020 12:30 WIB

Benarkah Lelaki Selalu Diuntungkan dalam Setiap Kisah Cinta Ganjil?

Kisah percintaan aneh antara perempuan dan lelaki dari pandangan Milan Kundera, Gabriel Garcia Marquez, Alice Munro dan Naoya Shiga.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Kisah-Kisah Cinta Ganjil

Penulis: Milan Kundera, Gabriel Garcia Marquez, Alice Munro, dan Naoya Shiga

Tahun Terbit: 2005

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Banana Publisher                                                                                   

Tebal: 201

ISBN: 979-99986-1-1

 

Saya beruntung membaca buku ini setelah menyelesaikan The Kreuznet Sonata karya Leo Tolstoy. Apa yang digunjingkan oleh Tolstoy dalam The Kreuznet Sonata sangat membantu saya dalam mengunyah kisah-kisah cinta ganjil yang tersaji di buku ini. Tolstoy menyampaikan bahwa ada relasi yang tidak seimbang antara lelaki dengan perempuan dalam hal asmara. Lelaki selalu lebih diuntungkan dalam relasi tersebut.

Pendapat Tolstoy tersebut 100% benar. Setidaknya dalam kumpulan cerita pendek yang ada di buku ini. Meski keempat cerita ini diambil dari wilayah yang berbeda, tetapi posisi lelaki senantiasa diuntungkan dalam kisah-kisah ganjil tentang cinta. Milan Kundera dengan cerpen berjudul “Edward dan Tuhan” mengambil latar belakang Chekoslowakia di masa komunis berkuasa. Alice Munro dengan cerpennya berjudul ”Bagaimana Aku Bertemu Suamiku” mengambil latar belakang Kanada saat penerbangan mulai dikenal di negara itu. Gabriel Garcia Marquez dengan cerpen berjudul Pertemuan Agustus” mengambil latar belakang Karibia. Sedangkan Naoya Shiga melalui cerpennya ”Kuniko” menggunakan Jepang sebagai latar belakang kisahnya.

Memang tidak semua cerpen ini menggunakan tokoh lelaki sebagai tokoh utamanya. Pada cerpen ”Pertemuan Agustus” dan cerpen ”Bagaimana Aku Bertemu Suamiku,” Gabriel Garcia Marquez dan Alice Munro menggunakan tokoh perempuan. Namun demikian dominasi lelaki pada hubungan asmara dari kedua cerpen ini tetap dominan terlihat.

Mari kita bahas satu per satu cerpen-cerpen yang berkisah tentang cinta yang ganjil ini.

 

Edward dan Tuhan, karya Milan Kundera

Cerpen pertama berkisah tentang Edward. Latar belakang kisah ini adalah masa dimana Chekoslowakia sedang dikuasai oleh komunis. Para pemimpinnya menganggap bahwa percaya kepada Tuhan menghambat kemajuan manusia.

Edward adalah seorang yang memilih profesi sebagai guru, meski ia tak bermaksud sungguh sungguh ingin mendidik. Profesi guru dipilihnya supaya dia mendapatkan penghasilan untuk hidup saja. Edward adalah seorang pemuda yang tidak percaya Tuhan. Lebih tepatnya tidak peduli tentang Tuhan. Edward tertarik dengan Alice, seorang perempuan yang sangat relijius. Alice sangat keras menjaga kesucian dirinya. Baginya, persetubuhan baru boleh dilakukan setelah dua insan resmi menikah. Edward melakukan berbagai upaya supaya bisa menaklukkan Alice. Bahkan ia rajin mempelajari kekristenan supaya bisa menggoyahkan iman Alice. Namun Alice tak tergoyahkan. Edward mengubah cara. Ia pura-pura religius. Ia rajin ke gereja. Ia menampakkan sikap religius yang berlebihan. Namun ternyata Alice tetap mempertahankan area di bawah pusarnya dari kenakalan Edward.

Nasip malang menimpa Edward. Saat ia membuat tanda salib, ia ketahuan oleh penjaga sekolah. Maka ia harus menghadapi sidang oleh pihak sekolah. Sebab seorang yang percaya Tuhan tidak layak menjadi guru. Namun di depan sidang, Edward malah mengakui bahwa ia percaya Tuhan. Ia memanfaatkan Kepala Sekolah yang sepertinya ingin bercinta dengannya. Edward pun berhasil dari sanksi pemecatan sebagai guru. Namun dia harus mengorbankan kejantanannya kepada Ibu Kepala Sekolah si lajang tua. Saat ia tak bisa menghindar, dimana Ibu Kepala Sekolah sudah bertelanjang bulat dan dia dipaksa untuk bersetubuh, Edward malah memaksa si Lajang Tua untuk sujud berdoa!

Tak dinyana, Alice malah trenyuh dengan keberanian Edward untuk jujur. Alice merasa bahwa cinta sejati yang ditunjukkan Edward adalah sebuah kebenaran. Alice malah menyerahkan keperawanannya kepada Edward.

Bukannya menikmati persetubuhannya dengan Alice, Edward malah mempertanyakan mengapa seseorang bisa begitu mudah meninggalkan kepercayaannya kepada Tuhan. Edward meninggalkan Alice karena muak dengan hal tersebut. Demi mencari jawab fenomena hubungan manusia dengan Tuhan, Edward melupakan cinta Alice.

 

“Bagaimana Aku Bertemu Suamiku,” karya Alice Munro

Kisah yang ditulis oleh Alice Munro ini mengambil latar belakang Canada saat pesawat terbang mulai muncul. Tokohnya adalah seorang pembantu rumah tangga dari keluarga kota yang pindah ke pedesaan. Tokoh “Aku” dalam cerpen ini adalah seorang pembantu rumah tangga yang baik. Namun sebagai seorang desa ia juga tertarik untuk mencoba gaun dan alat make up nyonyanya.

Suatu hari ada seorang pilot yang menyewakan pesawat, datang ke rumah tuannya. Sang pilot, pemuda ganteng, meminta air dari sumur pompa yang ada di depan rumah tuannya. Sejak itu hubungan antara “Aku” dan sang pilot semakin akrab. Bahkan mereka menjalin cinta.

Ternyata sang pilot sudah memiliki pacar. Pacarnya datang ke kampung tersebut untuk mencarinya. Ternyata hubungan sang perempuan dengan sang pilot tidaklah terlalu akrab. Sang pilot berupaya menghindari pacarnya. Saat sang pilot mau pergi untuk menghindari pacarnya, sang pilot berjanji untuk mengirim surat segera pada tokoh “Aku.”

Sejak itu tokoh “Aku” setiap siang senantiasa duduk di dekat kotak pos menunggu kiriman surat dari sang pilot. “Aku” menjadi akrab dengan tukang pos yang penampilannya tidak terlalu ganteng. Karena sering bertemu, akhirnya mereka menikah dan menjadi keluarga bahagia. Sang tukang pos selalu bercerita kepada anaknya bahwa ibunya dulu senantiasa menunggunya setiap siang di dekat kotak pos. Sang suami tidak tahu bahwa sebenarnya bukan dia yang dinantikannya.

 

“Pertemuan Bulan Agustus,” karya Gabriel Garcia Marquez

Gabriel Garcia Marquez menggunakan latar belakang sebuah pulau di Karibia. Ia menggunakan tokoh perempuan bernama Ana Magdalena yang setiap tahun melakukan perjalanan nyekar ke makam ibunya. Prosesi tahunan itu dilakukannya dengan rute yang sama, taksi yang sama, menginap di hotel yang sama dan membeli bunga kepada penjual bunga yang sama.

Ana Magdalena adalah seorang perempuan setengah baya, tetapi sangat rajin merawat tubuhnya.

Pada perjalanan nyekar terakhirnya ia melihat perubahan pulau yang dulu hanya dihuni oleh para nelayan miskin, kini tumbuh menjadi pulau dengan hotel-hotel bagus. Pulau dimana ibunya dikuburkan kini telah menjadi sebuah pulau wisata.

Sore itu Ana Magdalena merasa lapar. Ia turun ke restoran dan memesan makanan. Karena iseng ia mengamati para pengunjung restoran. Tanpa sengaja ia menatap seorang lelaki yang duduk sendiri. Ternyata si lelaki itu juga memperhatikannya. Maka mereka kemudian duduk semeja, berbincang dan minum bersama.

Entah karena mabok atau karena apa, mereka sepakat untuk pindah ke kamar Ana Magdalena saat restoran tutup. Mereka bercinta dengan panas.

Saat pagi, ketika Ana Magdalena bangun, ia tak mendapai si lelaki. Namun dia menemukan selembar uang 20 dolar di dalam buku “Dracula” yang dibacanya.

 

“Kuniko,” karya Naoya Shiga

Kuniko adalah istri yang bunuh diri. Suaminya menulis kisahnya untuk menebus rasa bersalah. Sebab suaminya merasa dialah yang menyebabkan Kuniko bunuh diri. Suaminya adalah seorang penulis naskah drama.

Kuniko menikah dengan sang penulis karena jatuh cinta. Kuniko yang saat itu menjadi pelayan sebuah restoran menyambut cinta yang pengarang karena merasa sang pengarang adalah seorang pria sejati. Maka hiduplah mereka sebagai pasangan yang bahagia. Mereka dikaruniai dua orang anak.

Prahara mulai terjadi ketika sang pengarang bercerita bahwa sebenarnya, sebelum dia menikah dengan Kuniko, sering mengencani beberapa perempuan. Pengakuan jujur ini dilakukannya karena sang pengarang diminta oleh kakak iparnya untuk menyadarkan abangnya yang berselingkuh. Sebenarnya tidak ada kewajiban bagi sang pengarang untuk membuat pengakuan tersebut. Sebab Kuniko memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun demi sebuah kejujuran, sang pengarang tetap mengaku kepada Kuniko. Kuniko sangat kecewa dengan pengakuan tersebut. Sebab kebahagiaan Kuniko adalah pada kepercayaan kepada suaminya. Namun akhirnya mereka bisa berdamai dengan hal tersebut. Suaminya berjanji untuk tidak mengulangi kelakuan buruknya sebelum menikah.

Mereka Kembali hidup normal. Mereka dikaruniai anak ketiga. Namun sang suami tidak bahagia. Sebab ia merasa tidak bisa menulis naskah drama dengan mutu yang tinggi. Ia kehilangan kemampuan untuk berkarya.

Sampai suatu saat seorang aktris yang akan memerankan tokoh dalam naskah dramanya menemuinya. Pertemuan ini membuat hubungan sang pengarang dengan sang aktris menjadi semakin dekat. Sang pengarang tahu bahwa sebenarnya sang aktris hanya memanfaatkan dirinya untuk sebuah sensasi saja.

Perselingkuhan dengan sang aktris menimbulkan efek yang luar biasa besar pada sang pengarang. Gairahnya untuk menulis Kembali tumbuh. Namun dia menjadi sangat dingin kepada keluarganya. Bahkan sangat marah apabila anak-anak ribut mengganggunya. Pertengkaran dengan Kuniko pun menjadi semakin sering. Sampai akhirnya Kuniko bunuh diri karena merasa bahwa dia sudah tidak memiliki sang pengarang lagi.

Keempat cerita pendek tersebut menunjukkan kisah cinta yang ganjil. Dari pengamatan saya, bagaimana pun lelaki selalu mendapat untung dari hubungan asmara. Perempuan selalu menjadi pihak yang kalah.

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu